Showing posts with label Wanita Muslimah. Show all posts
Showing posts with label Wanita Muslimah. Show all posts

Tuesday, 3 April 2018

Tip Pemilihan Ciput Ninja Agar Tetap Tampil Cantik Dan Trendy Meski Bentuk Wajah Bulat Dan Chuby

3 komentar

Setiap wanita pasti menginginkan agar selalu tampil cantik setiap moment, termasuk juga bagi wanita yang berhijab. Memakai hijab tak akan mengurangi cantik kita sebagai wanita, justru membuat kita terlihat lebih anggun dan mempesona.

Dulu para remaja enggan mengunakan hijab karena dirasa terlalu ribet dan membuat mereka terlihat lebih tua. Namun, seiring berjalannya waktu dan banyak selebritis yang memutuskan berhijab yang justru membuat inner beauty-nya terpancar lebih cerah. Mereka berbondong-bondong mengikuti tren yang ada.

Style tren hijab
Sumber gambar dari style.tribunnews.com
Tren hijab yang semakin banyak variasinya menandakan bahwa peminat hijab saat ini semakin banyak. Selain untuk menjalankan kewajiban sebagai muslimah, hijab juga bisa membuat wanita tampil anggun dan lebih cantik dari pada sebelumnya.

Namun kita harus mengerti bahwa tampil cantik dengan mengenakan hijab harus mengerti padu padan dan modelnya. Terutama bagi pemilik wajah bulat dan chuby, salah model hijab saja bisa membuat wajah bertambah bulat dan terlihat semakin berisi.

Banyak pilihan hijab di zaman sekarang ini, seperti jilbab segi empat, pashmina, hijab scraft, khimar dan lain-lain. Kita bisa memilih untuk keseharian dengan memilih jilbab yang lebih simple dan mudah digunakannya. Tentu untuk perihal kepraktisan dan tidak terlalu lama memakainya, namun tetap kita harus memilih variasi warna yang cocok dengan pakaian dan accessories yang kita pakai.

Selain model dan warna, yang paling penting saat memilih jilbab adalah bahannya. Pilihlah jilbab dengan bahan kain yang bagus dan tidak terlalu tebal agar nyaman dan tidak panas saat dipakai. Jangan memilih jilbab yang ada glitter yang justru terlihat lebih norak saat memakainya.

Memakai hijab bagi wanita juga bisa menyamarkan bentuk wajah yang bulat dan pipi yang chuby. Pemilihan jilbab dan variasai warna yang tepat dapat menghasilkan ilusi yang membuat wajah terlihat lebih tirus dan ramping.

Seperti penggunaan jilbab dengan memajukan bagian hijab di pipi sehingga wajah terkesan lebih tirus. Hijab berlayer juga pilihan yang bagus untuk menyamarkan chuby di wajah.

Sementara untuk pemilihan bahan hijab, bahan rajut ringan, crepe, dan sifon serat jagung adalah pilihan bahan yang bagus untuk memberi dimensi antara wajah dan kerudung, sehingga menyamarkan kesan chuby di pipi kita.

Namun, hindari pemakaian hijab yang terlalu tipis seperti sifon sutra ataupun hijab kaos yang tipis. Karena bahan yang terlalu tipis akan mempertegas tekstur wajah bulat lebih terexpose dengan sempurna .

Selain penggunaan dan pemilihan hijab, bagi wanita yang memiliki wajah bulat dan pipi chubby seperti saya, sangat disarankan mengunakan ciput ninja sebagai inner-nya, kenapa?

Pada dasarnya penggunaan ciput ninja adalah untuk membungkus rambut agar tidak keluar dan menahan kerudung diam di tempat dan tidak mudah bergeser. Ciput ninja juga bisa menutupi bagian dada agar terlihat lebih syar’i.

Kelebihan lain mengunakan ciput ninja agar lebih mudah menata hijab terutama untuk hijab berbahan sifon. Ciput ninja juga mampu membuat wajah tampak tirus dan menyamarkan wajah yang chuby sertadigunakan untuk pemanis hijab yang kita pakai.

Memakai ciput ninja membuat kita sebagai muslimah lebih nyaman. Terkadang untuk beberapa jenis hijab, ada yang cenderung berbahan tipis dan transparan. Tak jarang bagian kepala dan rambut masih sedikit terlihat di balik hijab yang tipis dan menerawang. Dengan memakai ciput ninja, masalah transparannya hijab yang kita pakai bisa tertutup dengan sempurna.

Dengan menggunakan ciput pasti akan menunjang kreasi-kreasi hijab yang lebih variatif. Misalnya satu warna ciput di padukan dengan berbagai model dan warna hijab, atau sebaliknya. . Sehingga kita tidak akan merasa bosan dengan gaya hijab yang itu-itu saja

Seperti selebritis Risty Tagor yang sering terlihat mengunakan inner hijab dengan model ciput ninja kerut agar terlihat lebih cantik dan feminim. Ditambah dengan khimar instan yang membuat Risty ini lebih terlihat Syar’I dan menawan.

Ciput ninja risty tagor
Sumber gambar dari http://beautynesia.id
Namun bagi wanita yang sedikit chuby, sebaiknya saat mencari ciput ninja harus benar-benar memperhatikan adalah ukuran ciput itu sendiri. Hindari pemakaian ciput yang terlalu kecil, sebab akan menekan pipi yang akan membuat tonjolan pipi semakin ter-expose.

Pemilihan variasi warna ciput juga berpengaruh. Warna gelap cocok sekali untuk wajah chuby, karena warna gelap seperti coklat tua ,hitam, biru tua, dan lain-lain mengesankan efek tirus pada wajah yang bulat dan chuby. Sementara untuk pemilihan warna cerah, justru membuat wajah chubby terlihat lebih bervolume dan mempertegas pipi chuby kita.

Wanita berhijab tidak hanya untuk menutup aurot sebagaimana yang dianjurkan oleh agama. Namun di zaman sekarang, hijab sudah menjadi tren fashion yang sangat digemari banyak muslimah di indonesia. Pemilihan hijab dan inner yang cocok, akan membuat wanita muslimah terlihat lebih feminim bahkan bisa merubah bentuk wajah yang tadinya chubby terlihat lebih ramping dengan mengunakan hijab.

Jadi pastikan kita mengenakan ciput yang sesuai agar penampilan kita semakin rapi, syar’I dan trendy.


Read more...

Peridiri
Perihal Diri Updated at: 13:25:00

Thursday, 22 March 2018

Tips Memilih Sebuah Pilihan Sulit Dalam Kehidupan

0 komentar


Memilih itu tidaklah mudah, setiap orang pasti merasa kesulitan dalam menentukan sebuah pilihan, apalagi pilihan tersebut memiliki bobot dan bebet yang sama baiknya.

Misalnya saja soal memilih pakaian, sebagai wanita memilih pakaian bukanlah perkara mudah, kita harus memilih dengan seksama akan kualitas sebuah pakaian, seberapa nyaman saat dipakai dan seberapa pantas kualitas dibandingkan dengan harganya.

Memilih adalah perkara yang tak bisa dihindari oleh siapapun, sebab di dunia ini kita sering sekali di hadapkan dengan berbagai pilihan hidup yang mesti kita pilih. Meskipun berat, pada akhirnya kita tetap harus menentukan sebuah pilihan, karena dengan memilih berarti kita siap melanjutkan ke masa depan.

Bagaimana kalau kita memutuskan tidak memilih?

Tidak memilih dengan kata lain kita melarikan diri dari sebuah kehidupan. Misalnya perihal pilihan antara pergi atau tidak. Dengan kata lain jika kita tidak memeilih keduanya, terus apa yang akan kita lakukan?

Percaya atau tidak, kehidupan memang dipenuhi berbagai pilihan, karena hidup adalah pilihan.

Namun disisi lain, ada saatnya menentukan suatu pilihan itu benar-benar menguras pikiran. Kita takut jika kita memilih, justru akan membuat hal yang tidak diinginkan bisa terjadi. Misalkan saat memutuskan untuk resign dari pekerjaan, satu sisi kita ingin menjaga anak-anak di rumah, di sisi lain kita takut perekonomian terganggu karena hal tersebut.

Kata sebagian orang mengatakan “dengarkan kata hatimu”. Namun setelah saya lakukan seperti itu, terkadang hati kita terlalu fokus dengan apa yang kita sukai, tanpa memikirkan kedepannya itu seperti apa.

Hasilnya, terkadang memang lebih berantakan dan tidak sesuai dengan harapan.
Baca juga : Akan Selalu Ada Hikmah Dibalik Cobaan Hidup Di Dunia

Lalu, bagaimana cara menentukan pilihan yang baik?

Berikut beberapa cara yang saya sarankan berdasar pengalaman saya saat menentukan pilihan yang berat dalam kehidupan ini.

1. Meminta Saran Pada Yang Lebih Berpengalaman

Sumber gambar Pexels.com
Tidak ada salahnya kita mencoba untuk mendapatkan saran dari orang yang lebih berpengalaman. Misal tentang memilih pakaian, akan jauh lebih baik jika kita mengajak seorang teman yang sering berbelanja pakaian dan sering mengikuti tren mode.

Meminta saran pada yang berpengalaman ataupun pada orang terdekat kita, jauh lebih mudah ketimbang harus memikirkan pilihan itu sendiri. Karena mereka sudah lebih banyak pengalaman dalam menjalani pilihan yang pernah mereka ambil di masa lalu.

Meskipun kita tidak cocok dengan apa yang disarankannya, setidaknya kita memiliki gambaran tentang pilihan tersebut kedepannya.

2. Pikirkan Dampak Baik Dan Buruknya Dari Pilihan Itu Kedepannya

Cobalah menerka-nerka apa saja yang akan terjadi kedepannya jika kita memilih pilihan ini atau memilih pilihan itu. Mungkin dengan saran orang yang berpengalaman, kita bisa menyimpulkan apa yang akan terjadi jika kita menentukan pilihan ini, dan mengira-ngira obat untuk dampak buruk yang akan terjadi nanti.

Dari menimbang-nimbang hasil kesimpulan saat menerka-nerka baik buruknya sebuah pilihan. Kita bisa memilih mana pilihan yang bisa kita jalani lebih baik untuk kehidupan kita ke depannya.
Baca juga : Berbuat baiklah! Setiap kita kan ditinggalkan dan meninggalkan

3. Jika Masih Belum Menemukan Jawaban, Cobalah Untuk Shalat Istikharah.

Sumber gambar Islamedia.com
Sebagai seorang muslimah, akan lebih baik jika kita mengikuti junjungan kita Nabi Muhammad SAW dalam mengambil sebuah keputusan. Beliau memerintahkan umatnya disaat menghadapi sebuah pilihan yang berat, hendaknya untuk sholat istikharah.

Tapi jika masalah memilih pakaian, tak perlulah kita melakukan sholat istikharah segala. Tapi jika pilihannya berat seperti memilih dua orang laki-laki yang ingin menikahi kita, barulah sholat istikharah itu perlu.

Selain agar memantapkan sebuah pilihan, juga dengan istikharah, kita berpasrah pada kehendak Allah dengan pilihan apapun yang kita pilih. Kita akan menjalaninya dengan penuh keikhlasan, dan semoga hikmah dari sholat istikharah itu berbuah kebaikan pada diri kita.

4. Bertanggung Jawab Dengan Apapun Pilihan Yang Kita Ambil

Melakukan sholat istikharah bagi seorang muslim adalah untuk meminta kemudahan dalam menentukan sebuah pilihan. Namun tidak semua orang bisa mendapat jawaban secara langsung.

Terkadang ada yang diberi petunjuk melalui mimpi, terkadang ada juga yang diberi petunjuk melalui kenyataan. Namun ada juga yang tidak mendapat petunjuk apa-apa?

Terus bagaimana selanjutnya?

Tentu kita tetap harus memilih pilihan tersebut meskipun tidak mendapat petunjuk apa-apa. Terkadang kemantapan hati justru hadir ketika kita sudah memilih pilihan tersebut dan disitulah hikmah dari sholat istikharah itu.
Baca juga : Lakukan 7 hal ini agar kamu jadi lebih dewasa

Kesimpulannya, jangan takut untuk memilih namun jangan terlalu gegabah dalam memilih. Untuk menentukan pilihan dalam hidup, kita harus berhati-hati agar tak menyesal di kemudian hari. Karena kehidupan bermula dari pilihan dan hidup tak sekedar memilih


Pandaan, 22 Maret 2018
Dewi'Na Irawan


Read more...

Peridiri
Perihal Diri Updated at: 07:20:00

Thursday, 8 March 2018

Akan Selalu Ada Hikmah Dibalik Cobaan Hidup Di Dunia

0 komentar

Hikmah Disetiap Cobaan Hidup - Kehidupan di dunia memang tak selalu manis yang terasa, terkadang kita akan menjumpai waktu dimana kita merasa berat menjalani setiap menitnya, ditinggalkan orang yang kita cintai misalnya.

Akan Selalu Ada Hikmah Dibalik Cobaan Hidup Di Dunia

Siapapun orangnya, pasti tidak menginginkan hal seperti itu terjadi pada hidupnya. Namun apa daya kita hanya seorang manusia yang tak memiliki daya dan upaya selain mengikuti kehendak sang Pencipta waktu.

Tapi yang perlu kita yakini bahwa setiap cobaan yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala kepada kita, bukan serta merta Allah murka kepada kita, bukan karena Allah sudah tidak sayang lagi dengan kita. Allah selalu menyanyangi kita (hamba-Nya) dengan Rohman dan Rokhim-Nya, entah itu kita selalu menjalankan perintahnya maupun sering khilaf menjalankannya.

Mungkin saja cobaan itu ada untuk menerpa cara pandang kita untuk menjadi lebih dewasa. Kita yang sering khilaf, katanya mau lebih baik lagi, namun kenyataannya kita selalu PHP sama Rabb kita.
Baca juga  :  Berbuat baiklah! setiap kita akan meninggalkan dan ditinggalkan
Mungkin ini sebuah teguran agar kita waspada, agar kita sadar bahwa apa yang kita lakukan sebelumnya itu salah. Dan dalam cobaan ini, kita diingatkan untuk kembali ke jalan yang di ridoi-Nya.

Mungkin juga cobaan yang kita terima sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada kita. Kasih sayang untuk menguji seberapa sabar kita menghadapinya dan menguji betapa iklasnya kita untuk menjalaninya.

Tidak ada cobaan yang terlalu berat bagi hambanya, semua itu sudah dikondisikan sesuai batasan dan kesanggupan setiap hamba-hamba-Nya.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqoroh: 286)

Sesungguhnya Allah memberi pelajaran berharga bagi kita melalui problematika yang terjadi, bukan agar kita lemah, bukan agar kita menyerah, namun sebaliknya. Kita musti harus kuat untuk menghadapinya, menjalankan dengan kesabaran dan belajar untuk melepaskan dengan keikhlasan.

Kita diberitahu rasanya sakit bukan untuk menyakiti, apalagi sampai menyakiti diri sendiri. Rugi banget.

Jika kita tersakiti oleh seorang yang pernah menghiasi hari-hari kita dengan penuh harapan, kemudian meninggalkan kita dengan bekas luka yang menancap cukup dalam disaat dia pergi. Itu pasti sangat menyakitkan, saya juga pernah mengalami hal tersebut.

Menangislah sepuasnya, menangis tak membuatmu menjadi seorang yang lemah dan hina. Menangis itu fitrah seorang manusia disaat terluka, namun kita harus tau diri kapan waktunya untuk berhenti.

Ada jeda waktu bagi kita untuk bersedih, karena luka di hati tidak mudah terobati. Disaat kita sudah lebih baikan, cobalah untuk mengerti bahwa memaafkan untuk bangkit menjalani hari-hari lebih mudah ketimbang mendendam karena rasa sakit hati.
Baca juga  : Kenikmatan yang jarang disadari dan disyukuri oleh kebanyakan orang
Jangan menyalahkan orang lain dengan rasa sakit yang kita alami, sesungguhnya semua rasa sakit itu berawal dari diri kita sendiri. Semua perjalanan ini bergantung dari pilihan kita, Jika pilihan kita salah, mungkin ini cara Tuhan untuk mengingatkan kita untuk kembali.

Percayalah didekatkan dengan mereka yang kemudian pergi, bukan karna Tuhan benci, melainkan agar Tuhan punya alasan untuk mendatangkan orang yang mengasihi kita setulus hati.

Yah semua itu hanyalah ujian bagi kita, dan sebaik-baiknya muslim dan muslimah adalah orang yang selalu mengambil hikmah dari perjalanan yang dilalui.


Pandaan 08 maret 2018
Dewi'Na Irawan

Read more...

Peridiri
Perihal Diri Updated at: 07:00:00

Friday, 2 March 2018

Berbuat Baiklah! Setiap Kita Akan Ditinggalkan Dan Meninggalkan

0 komentar

Setiap kita pernah meninggalkan dan ditinggalkan, apa yang ada disekitar kita akan berubah seiring berjalannya waktu. Ada yang datang ada juga yang pergi, begitulah siklus alam yang semua manusia pasti akan mengalaminya.

Saya tahu betul bagaimana rasanya ditinggalkan, ada rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan, seakan ada lubang besar dalam hati yang tak kunjung menemukan pengganti untuk menutupinya. Kadang saya berpikir “mending saya saja yang meninggalkan daripada ditinggalkan”, Padahal ditinggalkan dan meninggalkan memiliki dampak yang sama.

Sumber gambar : vebma.com
Seperti disaat saya kehilangan teman bercerita di asrama karena sebuah perpisahan. Awalnya saya kesal karena pada kenyataannya saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Karena saya sendiri tau bahwa kepergian dia untuk mencari kebahagiannya.

Saya sadar, saya tidak boleh egois untuk menahan teman sekamar itu untuk tidak pergi. Harusnya saya yakin dengan perpisahan ini kita akan menemukan bahagia dengan cara masing-masing. Namun itu tidaklah mudah dan butuh waktu lama untuk mengikhlaskannya.

Sama seperti saat kehilangan orang yang kita sayangi, disaat semua harap tertuju pada dia, kemudian dia pergi dengan cara yang tidak biasa. Ada rasa menyesal dan kecewa dalam hati, bahkan ada umpatan dan mengutuk “mengapa harus bertemu dengan dia” kalau ujungnya hanyalah sebuah perpisahan.
Baca jugaBaca dan renungkanlah! Disaat dirimu mengutuk dunia dan merasa dunia ini tak adil

Memaafkan itu hal yang mudah, tapi untuk melupakan, tidak semua orang bisa melakukannya dengan mudah. Pada kenyataannya setiap tempat dan moment yang pernah kita lalui bersama, terus terulang dan terekam indah dalam ingatan, namun juga menawarkan luka yang dalam secara bersamaan.

Saya mengalami banyak kehilangan, rasa sakit, sedih dan kecewa dalam menjalani sebuah perpisahan. Namun saya yakin ini adalah pelajaran yang berharga untuk senantiasa menjaga hubungan baik dengan sesama.

Awalnya saya yang merasa dirugikan karena sebuah perpisahan, tapi sekarang saya mengerti, ternyata meninggalkanpun sama.

Disaat saya meninggalkan asrama untuk menikah dengan orang yang saya cintai dan pergi dari teman-teman yang selama ini mengisi hari-hari bersama. Tetap ada rindu dan luka disaat saya meninggalkan mereka meskipun saya yakin yang saya lakukan untuk kebahagian saya.

Antara meninggalkan dan ditinggalkan akan tetap sama-sama memiliki lubang di hati. Akan ada di mana kita merindukan waktu bersama dan kecewa untuk waktu yang pernah kita sia-sia kan, seperti rasa kesal dan marah karena suatu hal diwaktu itu.

Seiring berjalannya waktu, saya memahami bahwa kehidupan ini tak ubahnya sebuah “Pintu”. Ada yang masuk dan ada yang keluar, ada yang datang dan ada juga yang pergi, semua bergantian untuk saling mengisi dan melepaskan.
Baca juga : Wanita harus tegas antara halalkan atau tinggalkan...

Disaat kita kehilangan teman bercerita, akan ada teman baru yang akan mengantikan tempat teman bercerita tersebut. Seperti disaat kita terluka karena sebuah perpisahan dengan orang yang kita cintai, suatu saat akan datang pengganti yang benar-benar akan kita cintai dan mencintai kita seutuhnya.

Yah, setiap kita pasti akan meningalkan ataupun ditinggalkan. Terima kasih pada yang pernah datang dan pergi.
Kehidupan ini tak ubahnya sebuah pintu, Akan ada yang datang dan ada yang pergi, ada yang masuk dan ada yang keluar, semua akan bergantian untuk mengisi dan melepaskan. Semua orang berbakat untuk meninggalkan ataupun ditinggalkan.
Dewi Nadzifah
Perihal Diri
Read more...

Peridiri
Perihal Diri Updated at: 10:17:00

Thursday, 1 March 2018

Lakukan 7 Hal Ini Agar Kamu Jadi Lebih Dewasa

0 komentar

Menjadi tua itu pasti, dewasa itu pilihan”. Tak harus jadi tua terlebih dahulu untuk bisa menjadi dewasa, karena menjadi dewasa tidak terikat dengan batasan umur. Bisa saja orang yang sudah berumur namun tidak memiliki kedewasaan yang mencerminkan umurnya. Begitupun yang masih remaja tidak menutup kemungkinan bisa lebih dewasa dari orang yang lebih tua darinya.

Dewasa itu perihal mental, sifat dan tata cara menjalani sebuah kehidupan. Karena dewasa itu sebuah pilihan, mau tidak mau kita harus memilih menjadi dewasa agar kita bisa menjadi pribadi yang disukai oleh banyak orang di sekitar kita.

Namun untuk menjadi dewasa tidaklah mudah, butuh proses yang lama dan keteguhan niat yang kuat untuk bisa jadi lebih dewasa. Evaluasi diri, belajar lagi, lagi dan lagi, dan terus berjuang memperbaiki diri adalah kunci untuk menuju kedewasaan yang sesungguhnya.

Tapi tak jarang juga, sebagian orang yang menemukan kedewasaannya karena melakukan suatu hal dalam hidupnya. Berikut 7 hal yang bisa kita lakukan agar bisa jadi lebih dewasa :

#1. Cobalah Temukan Kemandirian Dalam Perantauan

Lakukan 7 Hal Ini Agar Kamu Jadi Lebih Dewasa
Sumber gambar : Pexels.com
Dewasa itu tentang kemandirian dalam segala hal, mandiri mencari kebutuhan hidup sendiri, menyelesaikan masalah sendiri dan mengatur rencana kehidupan secara mandiri. Dengan kata lain dewasa itu berusaha untuk tidak merepotkan orang lain dan tidak bergantung oleh bantuan orang lain dalam mengatasi berbagai hal tentag kehidupan sehari-hari.

Sejak kecil, kita sudah bergantung dari bantuan orang tua, dari minta uang jajan, disekolahkan bahkan masih makan dari hasil keringat orang tua sendiri. Memang itu adalah tugas sebagai orang tua kepada anaknya, namun jika kita sudah dewasa dalam artian sudah berkepala dua, itulah waktu yang tepat untuk membalas semua kebaikan orang tua dengan tidak bergantung pada orang tua.

Jika kita terus berada dalam bayang-bayang orang tua dengan masih bergantung pada bantuan besar maupun kecil dari orang tua, kita tidak akan menjadi dewasa dalam arti kemandirian. Alangkah baiknya kita mencobauntuk pergi merantau dengan jauh kepada orang tua.

Dengan merantau, kita bisa belajar untuk tidak bergantung pada bantuan orang tua. Kita akan sadar bahwa mencari uang itu tidaklah mudah, dengan begitu kita akan menghargai setiap uang yang kita dapatkan dengan hasil keringat sendiri.

Dengan merantau kita akan belajar bagaimana mengeksplore ketahanan diri dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Bagaimana kiya menyelesaikan masalah pribadi tanpa bantuan orang tua. Dengan begitu, kebiasaan mandiri akan menjadikan kita lebih dewasa dan lebih bertanggung jawab atas kehidupan kita kelak disaat berkeluarga.
Baca juga  :  Menurut kalian, arti dewasa itu seperti apa?

#2. Carilah dan Berkumpulah Dengan Teman Yang Baik Yang Mendewasakan

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi.
Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapat bau harum darinya.
Sedangkan pandai besi, bisa jadi percikan api mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap akan mendapatkan bau asapnya yang tidak sedap” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628).
Persahabatan adalah faktor penting yang mempengaruhi perubahan karakter seorang manusia. Jika baik temannya, maka akan ada banyak ilmu, hikmah dan manfaat yang bisa kita petik. Namun dengan bersahabat dengan teman yang tidak baik, bisa jadi kita akan terjerumus ikut kedalam keburukan juga.

Persahabatan yang baik akan membuat kita lebih dewasa, karena sahabat yang baik akan selalu mendukung kita dalam hal kebaikan dan kebahagiaan kita. Terkadang sahabat juga akan menjadi panutan kita karena pengalamannya , dengan bergaul dengannya, sedikit demi sedikit kita akan belajar banyak hal darinya.

#3. Jatuh Cinta Kepada Seorang Yang Benar-Benar Kita Sayangi

Banyak kejadian seorang menjadi dewasa karena cinta. Karena ketertarikan kepada seseorang, kita bisa saja merubah karakter maupun kebiasaan yang tidak baik atau tidak dewasa agar si dia menyukai kita.

Misalnya kita yang jarang sekali masak, karena menyukai seorang, kita belajar masak agar bisa menjadi istri yang baik kelak. Begitupun bagi laki-laki yang menyukai seorang wanita muslimah, yang biasanya laki-laki ini sering bolong sholatnya, berharap bisa mendapatkan cinta muslimah ini dia akhirnya memperbaiki dirinya agar tepat saat bersanding dengan muslimah tersebut.

Yah, jatuh cinta bisa mendewasakan kita, meskipun jatuh cinta juga bisa menjerumuskan kita. Kuncinya terletak pada ketulusan “Cinta”, karena cinta yang baik akan mendewasakan pemiliknya.
Sebuah pernikahan yang tulus bisa menjadikan seseorang lebih dewasa, menikah bak sebuah batu lompatan untuk menuju sebuah kedewasaan yang sederhana.
Dewi Nadzifah
Perihal Diri

#4. Belajarlah Menghargai Waktu

Lakukan 7 Hal Ini Agar Kamu Jadi Lebih Dewasa
Sumber gambar : Pexels.com
Menghargai waktu adalah salah satu sifat orang yang telah dewasa. Kita harus pandai bagaimana mengatur waktu dengan sebaik-baiknya. Dengan tidak membuang atau menunda-nunda waktu sholat misalnya.

Kita harus paham mana yang harus didahulukan dan mana yang bisa dilakukan setelahnya. Dengan menghargai waktu kita tidak akan bermalas-malasan dan menunda-nunda pekerjaan. Kita juga akan lebih menghargai waktu orang lain dengan datang terlebih dahulu disaat janjian dengannya.
Baca juga Pahami 6 hal ini, agar tidak terlena menunda-nunda sesuatu

#5. Bertanggung Jawab Dengan Pekerjaannya

Seorang yang dewasa harusnya selalu bertanggung jawab dengan apa yang dikerjakannya. Jika sebagai pekerja, dia akan melakukan dengan sangat baik setiap menit untuk pekerjaanya. Jika menjadi suami atau istri, dia akan bertanggung jawab atas tugas sebagai istri maupun suami dengan sebaik-baiknya.

Namun seringkali kita jumpai bahwa disaat ada masalah, baik itu sebab kesalahan pribadi ataupun bukan, kita lebih memilih untuk lari dari tanggung jawab. Kita lebih suka menyalahkan seseorang maupun mencari alasan untuk membenarkan setiap kesalahan yang kita buat.

Padahal disetiap kita bertanggung jawab akan suatu masalah, kita akan mendapat poin penting dalam sebuah kehidupan berupa pengalaman. Kita akan belajar banyak hal tentang kedewasaan dari sebuah kesalahan dan memperbaikinya hingga tuntas.
Adanya sebuah masalah, sejatinya untuk membuat kita lebih dewasa
Dewi Nadzifah
Perihal Diri

#6. Siap Menghadapi Perubahan

Lakukan 7 Hal Ini Agar Kamu Jadi Lebih Dewasa
Sumber gambar : Pexels.com
Setiap manusia akan mengalami fase perubahan dalam dirinya. Seperti disaat sudah berkeluarga akan ada perubahan besar dari pada saat single atau remaja dulu. Sewaktu remaj kita bisa menghabiskan banyak waktu luang bersama teman untuk sekedar jalan-jalan atau nongkrong di suatu tempat sampai larut malam. Disaat berkeluarga semua kebiasaan itu harus dihilangkan.

Untuk awalnya memang akan susah, tapi kita harus melakukannya. Karena perubahan itu wajib dilakukan agar kita bisa bahagia bersama dengan pasangan kita. Berkeluarga bukan tentang ego salah satu insan saja, karena dalam berkeluarga ada dua ego yang harus saling menjaga dan saling mengalah agar tercipta hubungan yang harmonis.

Mendewasa adalah tetap tenang dan bijak dalam menghadapi berbagai hal yang mungkin akan timbul setelah mengalami perubahan dalam hidup.
Baca juga  :  Baca dan renungkan! disaat dirimu mengutuk dunia dan merasa dunia ini tak adil

#7. Jangan Menyalahkan, Seringlah Berintropeksi Diri

Kehidupan itu seperti roda, kadang kita berada di atas dan kadang dibawah. Disaat kehidupan kita berada dibawah, sering kali kita menyalahkan banyak hal. Dari menyalahkan orang, menyalahkan keadaan, bahkan menyalahkan takdir.

Padahal jika direnungkan kembali semua itu juga hasil dari perbuatan kita sendiri. Seperti saat menyalahkan orang, bisa saja orang tersebut melakukan kesalahan karena memang pengaruh dari kita sendiri. Atau mungkin semua ini adalah ujian bagi kita agar senantasa sabar dan tidak menyalahkan orang.

Berintropeksi diri itu penting, karena ketika kita sudah berani mengakui kesalahan meskipun sebenarnya tidak sepenuhnya salah kita, namun kita tetap mau bertanggung jawab untuk menyelesaikannya. Sabar serta bertanggung jawab itulah modal terbesar kita untuk menajdi lebih dewasa.

*** 

Nah begitulah 7 hal yang menurut saya bisa menjadikan kita lebih dewasa menghadapi kerasnya kehidupan di dunia. Tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Semoga kita tidak menua dalam keadaan yang belum dewasa. Semoga bermanfaat


Pandaan 1 Maret 2018
Dewi'Na Irawan

Read more...

Peridiri
Perihal Diri Updated at: 05:40:00

Saturday, 24 February 2018

Jangan Menyesal Bergelar Sarjana Meskipun Akhirnya Jadi Ibu Rumah Tangga

4 komentar

Dewi, gimana kabarmu? Lama loh kita tidak ketemu, kamu kerja dimana sekarang?” tanya seorang teman SMP yang kebetulan berjumpa disalah satu tempat perbelanjaan.”Iya nih lama tidak berjumpa, saya sudah tidak bekerja sekarang, sibuk ngurusin anak dirumah, kalau kamu kerja dimana? Tambah cantik saja nih” jawabku sambil tertegun mengingat dia ini siapa, hehehe. 

Sumber gambar islamidia.com
Teman saya ini jauh berbeda tampilannya ketimbang saat masih SMP dulu, ah jelas lah, kita tak pernah ketemu sudah hampir 10 tahun lamanya, wajar saja saya sempat beberapa detik tidak mengenalinya. Kita sempat bercerita lama sambil mencari barang di perbelanjaan tersebut, hingga akhirnya teman saya menanyankan tentang suatu hal.

Kenapa kamu tidak cari kerja lagi aja Wi, kan sekarang anakmu sudah sedikit lebih besar, kamu kan sudah sarjana, banyak loh perusahaan sekarang yang membutuhkan lulusan diploma atau sarjana” tanya temanku. “Entahlah, saya masih belum kepikiran kesana” jawabku singkat.

Dia kaget loh dengan jawaban saya, seperti banyak tanda tanya besar di pikirannya. “Kenapa? Eman (baca : Sangat disayangkan) loh Wi dengan ijazahmu”. Saya tak mengucap apapun hanya melontarkan senyum kepadanya.

Sebenarnya tidak satu kali ini saja, saya mendengar pertanyaan serupa, pertanyaan yang menanyakan tentang ijazah yang saya miliki itu untuk apa? Pertanyaan tentang 4 tahun lamanya waktu, tenaga dan harta yang saya korbankan untuk belajar di perguruan tinggi, kalau ujungnya ijazah tersebut tidak dipergunakan sama sekali. 
Baca juga  :  Tidak ada kerugian disaat melakukan kebaikan
Memang sangat disayangkan, tapi bukan berarti tidak berguna sama sekali. Mungkin suatu hari nanti saya akan pergunakan, entah untuk melamar menjadi guru atau hal lainnya, yang penting atas izin suami. Tapi untuk sekarang, saya menikmati pekerjaan saya menjadi full mom untuk anak-anak saya.

Kalau ditanya menyesal dengan kuliah, karena ujungnya harus jadi Ibu rumah tangga?

Tentu saja tidak.

Ada banyak hal berharga yang saya rasakan disaat saya menuntut ilmu di perguran tinggi. Memang saya harus memeras tenaga, otak dan membagi finansial yang saya miliki untuk kuliah tersebut, karena saya kuliah sembari bekerja purna waktu saat itu.

Saya memutuskan sendiri untuk kuliah, karena menurut saya kuliah (menuntut ilmu) itu penting. Tidak ada motivasi khusus jika saya kuliah, saya akan memiliki karier yang bagus. Tidak! Saya tidak berfikir demikian, meskipun banyak orang yang memutuskan kuliah dengan tujuan agar memiliki karier yang bagus.

Bagi saya, seorang wanita itu penting untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, meskipun pada akhirnya kita sebagai istri akan menjadi ibu rumah tangga. Alasannya karena :

#1. Dengan Kuliah Kita Berkesempatan Untuk Mengenal Dunia Lebih Dalam

Tak perlu kita berkeliling dunia untuk mengetahui informasi suatu daerah, dengan buku semua itu bisa saja kita ketahui. Sekarang lebih extreem lagi, dengan bantuan internet kita cukup mengetik nama suatu daerah, semua informasi sudah tersedia didalamnya.

Dengan kuliah, kita bisa mempelajari ilmu yang kita dapat dari SMA dengan sangat detail. Misalnya disaat SMA kita diajarkan tentang perkalian sumbuh x dan y mengunakan rumus bal bla bla. Tapi di perguruan tinggi, kita bisa mengerti lagi bagaimana rumus ini berasal.

#2. Dengan Kuliah Kita Akan Mendapat Sahabat Dari Berbagai Suku Dan Budaya

Sumber gambar dari kompasiana.com
Disaat SMA, teman saya paling jauh cuma berbeda kabupaten, misal saya sekolah di kabupaten Pasuruan, saya memiliki teman di daerah Sidoarjo maupun Malang. Sedangkan disaat kuliah, saya bertemu orang Surabaya, Ngawi, bahkan ada yang dilur pulau (NTT, NTB dan Lombok). 

Memiliki teman dari berbagai suku dan budaya itu semacam menemukan hal baru yang selalu membuat penasaran. Saya sering menanyai salah satu teman dari lombok tentang bagaimana keadaan dan budaya disana.

Meskipun saya tidak pernah pergi ke Lombok, sedikit banyak saya bisa membayangkan keadaan disana saat teman saya ini bercerita tentang kampung halamannya. Jika seandainya ada kesempatan berkunjung kesana, saya sudah memiliki tour guide khusus yang sudah sangat saya kenal sebelumnya, hehehe. 
Baca juga   :  Keberagaman itu indah jika kita bijak menyikapinya

#3. Dengan Kuliah, Kita Akan Mendapatkan Pengalaman Berharga

Yang tidak pernah kuliah pasti tidak akan pernah tau ribetnya skripsi, Saya beruntung pernah merasakan hal itu. Siang malam memikirkan tugas skripsi yang tak kunjung kelar, sementara deadline semakin dekat mengejar. Tidur tidak nyenyak dan makanpun jadi tidak beraturan.

Jika biasanya saya sering menolak perhatian seseorang, sekarang justru saya yang sering ditolak oleh dosen pembimbing. Berkali-kali izin tidak masuk kerja agar supaya bertemu pembimbing, nyatanya tiap kali kesana justru tidak berjumpa. Ah kesal.

Tapi itu pengalaman yang luar biasa yang bisa saya miliki. Dan semua itu tidak akan saya rasakan jika saya tidak pernah kuliah.

#4. Ingat! Wanita Adalah Madrasah Pertama Bagi Anaknya

Sumber gambar dari Vebma.com
Tidak ada kata menyesal dalam berjuang menuntut ilmu. Meskipun disaat kuliah mengambil jurusan informatika, namun justru bekerja menjadi karyawan biasa. Bukan berarti ilmu yang kita dapat tidak berguna, suatu saat kita akan mengambil hikmah dari apa yang sudah kita perjuangkan. 

Sama seperti wanita dengan ijazah sarjana yang memutuskan menjadi Ibu rumah tangga. Bukan tidak ada manfaatnya kuliah, ijazah hanya selembar kertas, dan ilmu tidak bisa diukur hanya dari selembar kertas tersebut.

Suatu saat ketika kita sudah menjadi seorang ibu yang memiliki anak, kita kan membutuhkan ilmu tersebut untuk mengajari anak-anak kita nantinya. Karena Ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya. 
Baca juga  :  Problematika wanita yang sudah menikah, antara tetap bekerja atau mengurus keluarga

#5. Gelar Sarjana Juga Akan Jadi Motivasi Sendiri Untuk Meningkatkan Pendidikan Anak Lebih Baik Lagi

Saya dulu sering minder kalau ditanya atau menuliskan tentang pekerjaan orang tua dan pendidikan terakhir orang tua saya. Dengan keadaan tersebut saya tidak bermimpi untuk bisa sekolah sampai perguruan tinggi. Lulus SMA akhirnya saya memutuskan untuk bekerja.

Dengan pengalaman tersebut, saya ingin anak saya menilai bahwa orang tuanya saja sekolah sampai perguruan tinggi, berarti dia harus memiliki minat untuk melampaui orang tuanya. Bagi saya sendiri, dengan gelar sarjana ini memotivasi saya untuk mensekolahkan anak saya hingga ke perguruan tinggi nantinya.

Saya ingin anak saya mendapat pengalaman serta ilmu pendidikan yang lebih baik. Karena menurut saya, orang yang berakhlak baik itu bagus, tapi lebih bagus lagi jika orang berakhlak baik dengan wawasan yag luas dan pendidikan yang tinggi.

**** 

Jangan bersedih dan menyesal jika gelar sarjana kalian berakhir di kepulan asap dapur. Ijazah hakekatnya hanya selembar kertas yang tak berarti apa-apa, sedangkan ilmu itu pasti. Kita (wanita) adalah madrasah pertama bagi anak-anak kita nantinya, jadi tetaplah berjuang dalam menuntut ilmu meskipun pada akhirnya kita akan berteman dengan peralatan dapur.


Pandaan, 24 Februari 2018
Dewi'Na Irawan

Read more...

Peridiri
Perihal Diri Updated at: 04:46:00

Wednesday, 21 February 2018

5 Hal Yang Dipertimbangkan Muslimah Saat Memilih Jodoh Pasangan Hidup

4 komentar

Setiap muslimah tentu mendambakan pasangan hidup yang sholeh, yang mampu membimbing dirinya kepada kebahagian dunia dan akhirat, tidak terkecuali saya pribadi. Saya sendiri paling pilih-pilih dan menimbang dengan sangat hati-hati dalam mencari pasangan, apalagi dulu banyak pria yang mengejar-ngejar saya.

dakwah tentang jodoh dalam islam
Sumber gambar dari cyberdakwah.com
Bukan ingin menyombongkan diri, tapi pada kenyataannya ada masa dimana seorang wanita akan didekati oleh dua atau lebih pria dalam hidupnya. Bukanlah mudah untuk memilih salah satu dari mereka, karena kita sendiri tidak tahu jodoh seperti apa yang terbaik bagi kita.

Sebagai muslimah, saya tentu memilih yang terbaik versi saya, Meskipun saya harus memilih orang yang salah. Namun saya percaya bahwa jodoh akan datang diwaktu dan tempat yang tepat. Bukan untuk memaksa kehendak saya, tapi saya jalani dengan sepenuh hati dan keikhlasan, InsyaAllah kita akan dipertemukan.

Yang paling bikin galau, disaat terdapat dua pilihan yang sama-sama baik menurut kita. Memang anjuran sholat istikhoroh disaat kebingungan memilih adalah tuntunan dari Baginda Rosul Muhammad Sholallahu alaihi wassalam.

Namun bukan berarti kita harus tutup mata dan telinga setelah menjalankan sholat istikhoroh. Kita tetap harus milih dan menjalaninya dulu agar sampai pada takdir yang di tentukan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Nah disaat memilih tersebut , tidak hanya tentang hati yang harus kita pertimbangkan tapi banyak hal.

Kalau pengalaman saya pribadi disaat memilih pasangan, 5 hal ini yang saya pertimbangkan dari seorang laki-laki untuk jadi calon suami nantinya.
Baca juga   Tips buat single yang mencari jodoh dunia akherat

#1. Menjalankan Syariat Agama Dan Baik Akhlaknya

syariat agama islam dan alqur'an
Sumber gambar dari Pexels.com
Sangat wajar bagi muslimah memilih calon suami seorang muslim juga. Namun bagi saya, status muslim (KTP) tidaklah cukup untuk dijadikan suami seumur hidup. Calon suami setidaknya harus taat dan tidak lalai atas kewajibannya sebagai hamba Allah. Dia harus rajin dengan sholatnya, dia puasa, dan ibadah yang lainnya.

Selain itu, tentu akhlaknya juga jadi pertimbangan utama. Karena kebaikan akhlak juga mencerminkan bagaimana sholat seseorang. Siapa yang baik sholatnya, maka baik pula akhlaknya. Jika buruk sholatnya, maka bisa jadi buruk akhlaknya, begitu kata guru ngaji saya dulu.

Kita tidak inginkan, jika seandainya ibadah yang dia tunjukkan kepada kita hanya sebagai topeng agar kita tertarik kepadanya. Setelah menikah, dia justru lebih sering meninggalkannya. Jadi perlu diperhatikan bahwa beragama islam saja tidak cukup untuk jadi pertimbangan, Carilah yang Taat menjalankan kewajiban beragama islam untuk kebaikan diri sendiri.
Baca juga   Apasih untungnya pacaran, Rugian mana antara pacaran atau single?

#2. Sifat dan Kepribadian Yang Baik

Saya seorang wanita yang manja, apalagi kepada orang yang jadi sandaran hidup saya. Karena saya memiliki sifat seperti itu, saya mencari tipikal laki-laki yang sabar dalam mendengar dan sabar dalam mengerti kepribadian saya.

Jadi mempertimbangkan sifat dan kepribadian calon suami itu penting, seperti penyabar dalam menghadapi permasalahan, bijak dalam mengambil keputusan, tidak egois dan mau berkomunikasi dalam sebuah keputusan dan sebagainya.

Minimal dia bisa mengayomi dan membuat kita sebagai istri nyaman saat hidup bersama. Karena bukan masalah harta yang membuat kehidupan rumah tangga kita aman dan nyaman, tapi bagaimana suami dan istri bisa berjuang bersama dalam segala keadaan.

#3. Keadaan Keluarga Calon Pasangan

ikatan keluarga
Sumber gambar dari Pexels.com
Menikah tidak hanya hubungan antara KITA, tapi menikah itu tentang menyatukan dua adat, dua budaya dan dua keluarga agar bisa berjalan bersama. Banyakloh perceraian yang disebabkan ketidak cocokan dengan keluarga pasangan.

Jadi menurut saya, mempertimbangkan keluarga calon pasangan juga penting. Karena kita juga akan hidup berdampingan dengan mereka, meskipun kita terpisah rumah.

Bagi saya, keluarga yang baik akan menghasilkan anak yang baik. Dengan melihat keluarganya, kita setidaknya tahu bagaimana calon pasangan kita di didik. Selain itu, Kita juga bisa menerka-nerka bagaimana saat sudah menikah, kita bisa hidup berdampingan dengan keluarga calon pasangan kita.
Baca juga   Wanita harus tegas, antara halalkan atau tinggalkan

#4. Visi dan Misi Untuk Masa Depan

Jika disuruh memilih antara pria baik tapi pengangguran dan pria yang sudah bekerja namun tidak begitu baik, maka jelas saya akan memilih pria baik yang bekerja. Hehehe

Faktanya, pria yang punya karier yang baik cenderung memiliki satu kualitas yang lebih baik daripada mereka yang pengangguran. Sebab kehidupan rumah tangga akan lebih baik dengan financial yang stabil.

Saya dulu justru tidak memilih laki-laki karena memprioritaskan kariernya, yang saya pilih justru pria yang sederhana namun tetap memiliki pekerjaan yang layak. Namun kita memiliki visi dan misi yang sama.

Maksudnya kita memiliki impian yang sama untuk diwujudkan, meskipun itu sulit, tapi kita bisa berjuang bersama untuk mengapainya. Bagi saya, memilih seorang laki-laki yang memiliki rencana kedepan (masa depan) lebih menarik dari pada laki-laki yang bergelatungan mengikuti zaman (tidak tau arah dan perencanaan).

#5. Tampilan Fisik Dan Rasa Cinta

arti cinta yang sesungguhnya
Sumber gambar dari Pexels.com
Dan terakhir, tentu saja atas dasar cinta. Bagaimanapun, menikah itu sebuah komitmen besar yang harus ada ikatan kasih dan sayang antara keduanya. Biarpun pernikahannya dijodohkan, tetap harus ada ta’aruf antara keduanya biar saling mengenal, minimal menumbuhkan rasa sayang antara keduanya. Karena ikatan cinta itu yang akan menguatkan sebuah hubungan rumah tangga,

Tentu kalau berbicara tentang cinta tak lepas dari penampilan fisik, bagi saya sendiri, mempertimbangkan masalah fisik calon laki-laki itu penting. Karena menurut saya, calon laki-laki harus kuat dan sehat secara jasmani agar kuat untuk menafkahi lahir dan batin.

Berpenampilan menarik biar saya sendiri betah hidup bersamanya dan juga dia bisa menjaga dirinya karena dia adalah bapak dari anak-anak saya nantinya. Karena saya juga ingin mendapat keturunan yang baik dari calon suami yang baik secara fisik.
Baca juga   Arti cinta yang sesungguhnya itu seperti apa?
**** 
Yah seperti itulah hal yang saya pertimbangkan saat memilih pasangan hidup dulu. Memang sulit melihat seseorang laki-laki yang ingin menikahi kita menampakkan sisi aslinya didepan kita. Namun yang harus kita yakini adalah tetap memilih dan menjalaninya, sementara kita berikhtiar dan berdoa kepada Allah agar dituntun dijalan yang benar dan jalan yang di ridhoi-Nya.

Telur yang baik sangat dipengaruhi dari induknya, dan Induk yang baik bisa dilihat dari telurnya.
Dewi Nadzifah
Perihal Diri

Read more...

Peridiri
Perihal Diri Updated at: 12:46:00

Wednesday, 10 January 2018

Baca dan Renungkanlah! Disaat Dirimu Mengutuk Dunia Dan Merasa Dunia Ini Tak Adil

3 komentar

Kita pasti pernah merasakan yang namanya ketidakadilan. Merasa bahwa kehidupan dunia ini seakan tidak berpihak pada kita, juga semua yang kita lakukan seakan kita melakukan hal yang sia-sia, karena selalu mengalami sebuah kegagalan.

Atau mungkin kita pernah merasa tidak diperlakukan adil oleh seseorang misalnya. Meskipun, di dalam hati kita yakin dan percaya bahwa pencipta kita itu MAHA ADIL.

Baca dan Renungkanlah! Disaat Dirimu Mengutuk Dunia Dan Merasa Dunia Ini Tak Adil

Paradoksnya kita sebagai manusia itu percaya di alam semesta ini ada hukum timbal balik atau yang lebih hits disebut KARMA. Setiap yang kita lakukan pasti akan berimbas ke diri kita sendiri.

Lalu mengapa kita sering menganggap bahwa dunia ini tak adil jika kita tau bahwa Tuhan itu Maha Adil?

Hidup memang tak selalu mudah. Kadang kita berada di atas dan kadang kita berada di bawah. Disaat berada dibawah, kita harus melewati berbagai kesulitan yang terkadang membuat kita ingin menyerah.
Baca juga   Dampak Buruk Sering Marah-marah Dan Cara Ampuh Menahan Rasa Marah Berlebih
Seperti contoh disaat kita bekerja dalam suatu perusahaan, kita lebih sering disuruh ini itu, pergi kesana, pergi kesitu, belajar ini, belajar itu dan dituntut serba cepat dan perfect. Serasa tugas yang dibebankan kepada kita itu terlalu berat.

Dengan pekerjaan tersebut, Kita merasa bahwa kita pantas mendapatkan hasil yang lebih dari ini, yakni berupa materi (gaji) yang sepantasnya dengan kesulitan pekerjaan yang kita lakukan. Tapi pada kenyataanya, gaji kita tetap saja masih sama dengan gaji karyawan lainnya yang justru kerjanya biasa-biasa saja. Disaat itulah kita merasa hidup ini tak adil.

Disitulah masalahnya, fitrah manusia tentu mengharapkan kehidupan yang baik dan bahagia. Tetapi pada kenyataannya, kita selalu berfokus pada “hasil atau materi” dari pekerjaan yang kita lakukan, tanpa peduli bagaimana “pembelajaran” pada saat proses melakukan pekerjaan tersebut.

Kita tidak melihat dari sudut pandang yang berbeda, ada banyak hal di luar materi yang bisa kita dapatkan.

Misalnya disaat kita disuruh belajar ini dan itu. Memang akan berat kita menghadapinya, dari adaptasi dengan pekerjaan baru, kembali belajar dan mengingat pekerjaan baru, kesalahan juga akan sering kita dapati karena kita masih belum paham betul pekerjaan yang kita lakukan.

Tapi coba renungkan dampak positifnya? Kita mendapat ilmu dan pengalaman baru yang tidak semua orang bisa mengalaminya. Dan saya rasa ilmu dan pengalaman tidak sebanding dengan materi berupa apapun.

Begitupun juga disaat kita sering disuruh ini dan itu, disuruh pergi kesana dan kesitu. Sesungguhnya, jika kita meyakini kebesaran dan Kebaikan Allah pada hamba-Nya, pada saat proses disuruh-suruh itulah Allah sedang bersamamu, Allah menemani setiap langkahmu, mengamati keikhlasanmu dan tentunya sedang menyiapkan hadiah yang sesuai dengan perjuanganmu itu.
Baca juga   Kenikmatan Yang Jarang Disadari dan Disyukuri Oleh Kebanyakan Orang
Disaat perusahaan mengalami krisis besar dan terdengar kabar ada pengurangan karyawan. Kita lah orang yang tidak akan masuk daftar pengurangan karyawan. Karena dibalik kita mondar-mandir kesana kemari, belajar ini dan itu. Pimpinan kita yang tidak pernah mengatakan apapun pada kita, dan tanpa mendengar dari orang lainpun dimatanya kita dianggap pekerja yang giat dan pekerja yang kompeten. Bisa jadi, kita akan dipromosikan menjadi pimpinan suatu hari nanti.

Dalam Alqur’an menjelakan bahwa “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,Kecuali orang yg mendirikan shalat,(yaitu) orang yg istikhomah mendirikan shalat." (QS Al-Maarij 19-23).

Disaat kita merasa dunia ini tak adil, percayalah kita hanya mengukur dari sudut pandang kita yang amat sempit. Kita terlalu sibuk mengutuk kekurangan diri sendiri dan menganggap dunia ini tak adil. Padahal di luar sana, banyak orang yang ingin bertukar posisi dengan kita, yang melihat sisi bahagia dari sudut pandang yang berbeda.


Pandaan 09 Januari 2018
Dewi'Na Irawan

Read more...

Peridiri
Perihal Diri Updated at: 01:04:00

Saturday, 16 December 2017

Problematika Wanita Yang Sudah Menikah, Antara Tetap Bekerja Atau Mengurus Keluarga

2 komentar

Haruskah seorang wanita yang sudah menikah bekerja? Bukankah suami yang seharusnya mencukupi kebutuhannya? Lalu buat apa wanita diperbolehkan sekolah hingga ke perguruan tinggi dan bahkan terkadang prestasinya lebih baik dari laki-laki?!

Sekelumit pertanyaan tersebut membuat dilema seorang muslimah yang sudah menikah dan sudah dikaruniai keturunan. Dua pilihan antara tetap bekerja atau mengurusi keluarga, menjadi pilihan yang dirasa berat untuk memutuskannya.


Antara Bekerja Atau Mengurus Rumah Tangga

Beberapa hari yang lalu ada percakapan menarik di group alumni SMA di WhatsApp. Pembahasannya tentang wanita yang bekerja. Tentu saja ada yang pro dan ada yang kontra tentang hal ini.

Salah satu teman saya, sebut saja Dupan, dia salah satu orang yang kontra dengan wanita yang bekerja sedangkan suaminya juga masih bekerja.

Menurut Dupan, Selama suami yang merupakan imam keluarga masih mampu menafkahi keluarganya, adalah hal yang mudharat jika istri ikutan untuk bekerja juga. Istri seharusnya tetap berada dalam rumah menjaga rumah, anak-anaknya dan harta suaminya.

Seandainya istri bekerja, anak-anaknya siapa yang mengasuh dan mengawasi?”, “Jika istri bekerja, apakah mampu menjaga kewajiban istri sementara rasa lelah pasti akan menghampiri disetiap pulang kerja?” Ujar Dupan di perbincangan group WhatsApp.
Baca juga  Iniloh alasan mengapa jadi wanita itu tidak mudah

Wanita Yang Sudah Menikah Sebaiknya Bekerja Atau Dirumah?

Hendaklah kalian (para istri) tetap di rumah kalian” (QS. Al-Ahzab:33).

Idealnya sebuah keluarga itu terdapat kepala keluarga yang mampu menanggung urusan diluar rumah seperti mencari nafkah dan seorang istri yang bertanggung jawab penuh tentang urusan dalam rumah.

Jika keduanya menerapkan dan memahami aturan tanggung jawab tugas masing-masing, niscaya dalam keluarga tersebut akan terbangun sebuah ketentraman lahir dan batin dalam keluarga.

Tapi pada kenyataanya, kehidupan tidak selalu seperti itu. Terkadang ada kepala keluarga yang sudah bekerja, tapi penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan keluarganya. Dan untuk mengatasi hal tersebut, pada akhirnya istri ikut bekerja untuk membantu perekonomian keluarga.

Bolehkah Wanita Yang Sudah Menikah Bekerja?


Tentu saja boleh. Dalam islam pun tidak melarang wanita yang sudah bersuami untuk tetap bekerja, tapi tetap dengan beberapa syarat.

Dupan juga mengatakan hal demikian, bahwa sah-sah saja wanita bekerja selama suami mengizinkan istrinya untuk bekerja. Tapi akan ada banyak mudharatnya ketika istri memutuskan untuk bekerja, seperti berkurangnya keberkahan rezeki dalam keluarga .

Dupan menjelaskan tentang beberapa hal perhitungan rezeki, seperti berikut:
Suami bekerja + istri dirumah = Rezeki 100%
Suami bekerja + Istri bekerja = Rezeki 100%
Dari perhitungan tersebut, sebenarnya istri bekerja atau tidak, rezeki dalam keluarga itu tetap 100%. Jadi kenapa harus bekerja kalau sama-sama pendapatan keluarga itu tetap, Lanjut Dupan.

Saya sih sependapat dengan Dupan, tapi tidak serta merta memakan mentah-mentah rumus yang di jelaskan oleh Dupan. Permasalahannya, kita tidak pernah tau bahwa rezeki keluarga 100% ini bisa didapatkan cukup dengan suami saja yang bekerja atau harus dengan istri yang bekerja?

Menurut saya, bukan masalah istri bekerja atau tidak. Logikanya jika suami bekerja sendiri maka gajinya sekian juta, tapi jika istri ikut bekerja maka penghasilan keluarga akan bertambah juga kan.

Tapi banyak juga yang mengatakan bahwa penghasilan suami bekerja sendiri ataupun dibantu dengan penghasilan istri bekerja, pemenuhan kebutuhan sehari-hari tetap saja sama. Sebenarnya bukan tetap sama, tapi kebutuhan hidupnya yang meningkat.

Seperti disaat istri tidak bekerja, dia akan membeli bedak yang seharaga 50 ribu. Tapi disaat istri bekerja, karena merasa penghasilannya sendiri, dia memutuskan untuk membeli bedak seharga 300 ribu.

Nah jelas kan!
Seberapapun besarnya gaji suami bekerja sendiri, maupun gaji suami bekerja bersama istri, rezeki yang didapat tetap 100% rezeki satu keluarga. Cukup atau tidaknya dalam memenuhi kebutuhan keluarga, tergantung bagaimana memanagenya
Dewi Nadzifah
Perihal Diri

Mending Mana, Wanita Tetap Bekerja Atau Mengurus Keluarga?

Kalau menurut saya, Wanita atau istri tetap wajib mengurusi keluarganya, terlepas dia bekerja maupun tidak. Karena mengurus keluarga adalah bagian dari kewajiban seorang istri, maka lebih baik jika urusan cari nafkah dipercayakan kepada suaminya.

Alasan seorang wanita yang sudah menikah dan mempunyai anak tetap bekerja bermacam-macam. Salah satunya adalah perihal ekonomi.

Dalam beberapa hal, wanita bekerja juga sangat dianjurkan, jika perekonomian keluarga bisa stabil dengan adanya istri bekerja. Karena salah satu keharmonisan keluarga itu dipengaruhi oleh perekonomian yang stabil.

Misalnya gini, seorang suami yang bekerja sendiri dengan menanggung beban kehidupan keluarga sehari-hari, juga untuk membayar tagihan rumah maupun kendaraan bermotor. Karena adanya hal tersebut, membuat perekonomian keluarga menjadi besar pasak dari pada tiang.

Situasi seperti ini biasanya menyebabkan stress berlebih yang dapat memicu kemarahan saat ada beberapa persoalan kecil dalam keluarga. Tentu keharmonisan keluarga akan sulit dicapai dengan keadaan seperti itu.

Alasan lainnya muslimah yang sudah menikah tetap bekerja adalah untuk mengatasi rasa bosan dengan rutinitas mengurusi pekerjaan rumah tangga. Atau dengan bekerja, status dan pergaulan seorang muslimah akan lebih baik dari pada menjadi ibu rumah tangga saja.

Menurut saya, selama muslimah tetap bisa bekerja dan memanage pekerjaan rumah tangga dengan baik tanpa mengurangi hak anak dan suami, itu sah-sah saja. Tapi itu tidak segampang kelihatannya.
Baca juga  Wanita harus tegas, antara halalkan atau tinggalkan

Hal-hal Yang Perlu Di Perhatikan Jika Istri Ingin Bekerja

   #1. Izin suami

Hal pertama yang perlu diperhatikan istri saat ingin bekerja adalah izin dari suami. Apapun keputusan suami adalah titah bagi kita sebagai seorang istri. Karena ridho suami sejalan dengan Ridho ilahi.

   #2. Pekerjaan Yang Baik Untuk Wanita

Jika memungkinkan, pilihlah pekerjaan yang sesuai tabi’at seorang wanita. Pekerjaan itu seperti menjadi seorang guru, perawat, dokter dan lain sebagainya. Intinya bukan pekerjaan yang mengunakan otot seperti tukang batu dan sebaginya.

   #3. Pekerjaan Yang Tidak Memberatkan Kewajiban Istri

Pekerjaan tersebut tidak menganggu kewajiban utama dalam mengurusi pekerjaan rumah. Memang terlihat mustahil untuk melakukannya, terkecuali pekerjaan tersebut dilakukan dirumah. Tapi bagi yang bekerja di luar rumah, tentu pekerjaan rumah seperti mengurusi anak tetap akan terbengkalai disaat menjalankan pekerjaan tersebut.

Dalam hal ini, peran suami harus bisa mendukung minimal dalam membackup tugas istri di rumah saat ditinggal kerja. Karena keharmonisan keluarga bukan perihal kekakuan dalam pembagian tugas dan kewajiban seorang istri ataupun suami, tapi keharmonisan keluarga tercipta disaat keduanya saling memahami dan mengerti tanggung jawab masing-masing serta saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam pelaksanaanya.

   #4. Tetap Berpegang Teguh Pada Akidah

“Katakanlah (wahai Muhammad), bekerjalah kalian! maka Alloh, Rasul-Nya, dan para mukminin akan melihat pekerjaanmu“ (QS. At-Taubah:105)

Dalam perintah Allah tersebut diserukan bagi seluruh ummat-Nya tanpa terkecuali, tidak menutupi bagi seorang wanita yang bekerja.

Tapi bekerja yang bagaimana?

Dengan menyandang status menjadi seorang istri, disaat bekerja diluar rumah hendaknya tetap berpegang pada akidah, misalnya tetap menjaga pandangannya, tidak berkata lembut kepada pria yang bukan mahromnya, memakai pakaian yang baik sesuai syariat agama dan sebagainya.

Pandangan Islam Tentang Wanita Yang Sudah Menikah Bekerja


Islam sebagai agama yang sempurna dan komplit memberikan petunjuk bagaimana sebaiknya muslimah bekerja. Tidak hanya batasan mengenai pekerjaan apa yang baik, apa yang harus dihindari, dan bagaimana kewajiban muslimah yang sudah menikah bekerja

Tugas utama yang harus dijalankan oleh seorang muslimah yang telah menjadi istri dan ibu adalah mengurus rumah tangga, mendidik anak, menjaga harta suami, menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah yang tak kalah beratnya dari pekerjaan suami untuk memenuhi nafkah.

Seorang istri tidak memiliki kewajiban untuk turut mencari nafkah, karena kewajiban ini telah dibebankan kepada suami. Maka ditakutkan jika istri bekerja diluar rumah, hak-hak suami dan anak menjadi terbengkalai, dan karena alasan ini ditakutkan keberkahan dalam keluarga menjadi berkurang.
Baca juga   Aku tak mau menjadi bunga yang indah tapi murahan

Kadang terbesit dalam pikiran, mengapa Islam terkesan sangat mengekang seorang wanita?

Sebenarnya bukan mengekang, hanya saja, itu sudah aturan yang dibuat oleh Allah Subhanahu wata’ala agar wanita bisa menjadi muslimah yang baik. Kebebasan seperti wanita barat dalam berkarir justru bisa merusak tatanan dalam masyarakat.

Coba tenggok secuil pengakuan orang barat sendiri tentang sebab rusaknya tatanan masyarakat di ranah barat sana.

“Andai para pembaca mau melihat keadaan wanita di zaman yunani kuno, tentu anda akan dapati mereka dalam kondisi yang dipaksakan dan menyelisihi fitrahnya, dan tentunya anda akan sepakat denganku, tentang wajibnya menyibukkan wanita dengan tugas-tugas dalam rumah, dibarengi dengan perbaikan gizi dan pakaiannya, dan wajibnya melarang mereka untuk campur dengan laki-laki lain” By. Lord Byron 
"Sungguh aturan yang menyuruh wanita untuk berkarir di tempat-tempat kerja, meski banyak menghasilkan kekayaan untuk negara, tapi akhirnya justru menghancurkan kehidupan rumah tangga, karena hal itu merusak tatanan rumah tangga, merobohkan sendi-sendi keluarga, dan merangsek hubungan sosial kemasyarakatan, karena hal itu jelas akan menjauhkan istri dari suaminya, dan menjauhkan anak-anaknya dari kerabatnya, hingga pada keadaan tertentu tidak ada hasilnya kecuali merendahkan moral wanita, karena tugas hakiki wanita adalah mengurus tugas rumah tangganya…" By. Samuel Smills 
 “Sesungguhnya sebab terjadinya krisis rumah tangga di Amerika, dan rahasia dari banyak kejahatan di masyarakat, adalah karena istri meninggalkan rumahnya untuk meningkatkan penghasilan keluarga, hingga meningkatlah penghasilan, tapi di sisi lain tingkat akhlak malah menurun… Sungguh pengalaman membuktikan bahwa kembalinya wanita ke lingkungan (keluarga)-nya adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan generasi baru dari kemerosotan yang mereka alami sekarang ini”. (lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, jilid 1, hal: 425-426) By. Dr. Iidaylin 

Bagaimana mereka yang obyektif mengakui imbas dari buruknya wanita yang bekerja dan berkarir di tanah barat.

Islam tidak melarang seorang wanita untuk bekerja, namun ada beberapa kekhawatiran seiring dengan semakin banyaknya wanita yang memutuskan untuk tetap bekerja dan mengejar karir di luar rumah.

Beberapa dampak negatif yang timbul salah satunya keharmonisan keluarga yang terpecah akibat suami dan istri sibuk bekerja sementara anak-anaknya menjadi terlantar. Istri menjadi terlalu lelah karena konsentrasi yang terbagi antara beban pekerjaan di luar rumah dan juga dirumah. Takutnya hak suami terhadap istri terabaikan karena alasan lelah dan semacamnya.

Ladang pahala istri adalah dengan berbakti kepada suami, jika memang membantu suami mencari nafkah demi mencukupi kebutuhan keluarga adalah bakti seorang istri terhadap suami, dengan tetap berpegang teguh kepada akidah, maka sah-sah saja istri bekerja diluar rumah.

Ketika seorang istri bekerja, ia akan memiliki penghasilan sendiri dan penghasilan yang dimiliki oleh istri adalah hak sepenuhnya istri untuk menggunakannya, karena kewajiban untuk memberikan nafkah hanya ada pada suami. Namun, istri yang memberikan penghasilannya untuk keperluan keluarga dan rumah tangga terhitung sebagai sedekah. Dan jika ada kesepakatan antara suami istri untuk turut bersama memenuhi kebutuhan keluarga di atas prinsip kasih sayang adalah solusi yang terbaik.
Baca juga  Islam memuliakan wanita sebagai perhiasan terindah di dunia

Kesimpulan Ala Dewi Nadzifah Perihal Istri Yang Bekerja

Semua itu tergantung bagaimana niat kita diawal disaat memutuskan untuk bekerja, jika kita meluruskan niat untuk membantu suami mencari nafkah guna meningkatkan taraf hidup yang lebih baik dalam membangun mahligai rumah tangga. Hal demikian juga merupakan pahala yang besar bagi kita.

Jika pekerjaan yang kita jalankan memberatkan kewajiban kita sebagai ibu rumah tangga, maka tinggalkan saja pekerjaan tersebut dan carilah lagi yang lebih baik tanpa merusak pemenuhan kewajiban kita kepada keluarga. Karena pada dasarnya istri bekerja itu MEMBANTU suami, bukan menjadi tulang punggung keluarga (Kecuali Suami sedang sakit dan tidak bisa bekerja).

Jadi bekerjalah setulus hati ukhti ^_^
Segala tindakan yang kita lakukan (bekerja) selama itu baik, maka kerjakanlah dengan setulus hati. Islam tidak pernah memberatkan dan mengekang pemeluknya, Islam memberi tuntunan dan tata cara mengerjakan dengan sabaik-baiknya. Baik buruknya tindakan yang kita lakukan bukan dilihat dari sudut pandang manusia, tapi diukur dengan bagaimana ketakwaan kita kepada Allah Subahanahu Wata’ala
Dewi Nadzifah
Perihal Diri


Pandaan 16 Desember 2017
Dewi’Na Irawan


Sumber Referensi:
https://konsultasisyariah.com/520-bolehkah-wanita-bekerja.html
https://eramuslim.com/akhwat/muslimah/untuk-siapa-wanita-bekerja.htm
Read more...

Peridiri
Perihal Diri Updated at: 03:25:00

Wednesday, 13 December 2017

Doa Penyembuh Sakit Di Era Digital

2 komentar

Di zaman teknologi saat ini, rasanya jarang sekali anak muda seumuran saya tidak memiliki akun sosial media. Hanya sebagian kecil dari mereka yang enggan untuk bersosial melalui dunia maya. Alasannya mungkin karena menganggap social media lebih banyak mudhorotnya, dari pada manfaatnya. Dan alasan lainnya karena memang tidak menyukai hal semacam itu.

Doa Penyembuh Sakit Di Era Digital
Source image by pexels.com
Saya sendiri pertama kali mempunyai akun media sosial sejak SMA, sewaktu itu masih zamannya friendster. Saya juga sudah mempunyai facebook sejak tahun 2009 kalau tidak salah. Sempat saya vakum tidak pernah membuka account facebook sama sekali, baru satu tahun belakangan saya kembali aktif lagi setelah rutin menulis di blog.

Banyak alasan kenapa saya vakum beberapa tahun dari social media, Selain merasa bosan, juga saya merasa tidak ada manfaatnya juga saya melakukan aktivitas di sosial media ini. Tapi kali ini berbeda, Saya ingin kembali aktif di social media sebagai sarana promosi’in blog.

Sebenarnya banyak juga manfaat dari sosial media ini, selepas dari media promosi bisnis maupun share artikel, media sosial ini juga bisa menemukan teman lama yang sudah lama menghilang tidak ada kabar.
Baca juga  Berbagai Share Yang Sering Dijumpai di Group Media Social 
Meskipun tidak tahu kontak dan alamat dia tinggal, tapi disaat ada salah satu teman yang menyarankan seseorang yang mungkin kita kenal di account media sosial, dan kebetulan juga orang tersebut adalah teman lama kita sewaktu masih di bangku sekolah dasar. Rasanya senang juga bisa bertemu lewat dunia maya seperti ini.

Selain media sosial bisa mendekatkan yang jauh menjadi dekat dan menemukan seseorang yang pernah hilang di masa lalu, kini bertemu di dunia maya di masa sekarang. Tapi media sosial juga bisa menjauhkan yang dekat.

Seperti disaat kumpul disebuah acara, perbincangan yang seharusnya lebih menyenangkan dengan bertatap muka, malah justru kebanyakan orang tertunduk dan terfokus dengan gadget yang di pegangnya. Seakan mengabaikan orang yang sekarang sedang berdekatan dan lebih mengurusi orang yang jauh disana dibalik dunia maya.

Ironis bukan?

Dan tadi pagi saya juga menjumpai beberapa orang yang sedang dilanda musibah, justru lebih mementingkan media sosialnya. Seperti upload foto keluarga yang sedang sakit atau memasang sebuah status (baca: doa) agar diberi kemudahan segala urusan di media sosial.

Caption dari salah satu ststus di Facebook
Dengan segala kesusahan salah satu anggota keluarga yang mengalami sakit dan harus dirawat di sebuah rumah sakit, justru perhatiannya terfokus dengan minta doa dari penghuni dunia maya di sosial media.

Disaat melakukan hal besar seperti ujian sekolah maupun interview kesebuah perusahaan, justru meminta dan berdoa di media sosial itu terlihat lebih penting dari pada beribadah dan berdoa yang sebenar-benarnya beribadah dan berdoa.
Baca juga  Wanita harus tegas antara halalkan atau tinggalkan
Mungkin media sosial adalah Obat penyembuh yang mujarab di era digital ini. Dengan berkeluh kesah tentang masalah yang dihadapi, bisa terselesaikan dengan update status dan membalas komentar yang masuk.

Juga media sosial adalah tempat penampung doa yang baik di era digital ini. Berharap dengan banyaknya ucapan “Aamiin” di kolom komentar, bisa sedikit membantu meringankan beban hidup yang sedang dijalani.

Seakan-akan Media Sosial adalah Tuhan diera digital yang bisa menyelesaikan segala permasalahan hidup. Tempat berkeluh kesah dan berdoa agar kehidupan menjadi lebih baik hanya dengan menuliskan beberapa kata di kolom status.

Saya sempat kesal sendiri dengan fenomoena seperti itu di media sosial. Saya jadi bertanya-tanya, apakah saya sudah ketinggalan zaman, ataukah memang dunia ini sudah semakin EDAN.

Kita memang hidup di era digital sekarang. Era dimana teknologi bisa mempermudah pekerjaan manusia sehari-hari. Tapi apakah mungkin, teknologi tersebut bisa mengantikan TUHAN, padahal teknologi itu juga buatan manusia.

Coba tengok Google. Kita bisa menemukan apa saja di mesin pencari itu dengan mengetikkan apapun yang ingin kita cari. Tapi tetap saja semua informasi didalamnya merupakan buatan manusia sendiri. Hanya sebatas pengetahuan dan ilmu manusia dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Bahkan masih belum bisa teruji kebenarannya.

Dan bagaimana mungkin berdoa dan berkeluh kesah di media sosial bisa meringankan beban yang kalian hadapi.

Mungkin alasannya adalah untuk mendapatkan doa dari orang lain juga, semakin banyak ucapan Aamiin kepada status kita, maka semakin cepat pula beban yang dihadapi bisa terselesaikan dengan sendirinya.

Justru kalau menurut saya pribadi, itu adalah hal sedikit konyol.

Kenapa harus meminta doa dari orang lain, sementara kita juga punya Tuhan yang Maha Pendengar segala Doa yang kita panjatkan. Kenapa kita tidak fokus kepada Dzat yang memberi kita Cobaan dan Ujian, kita meminta dengan setulus hati agar harapan dan keinginan kita dikabulkan.

Bukankah segala hal itu atas Ridho-Nya, kenapa kita harus susah payah mencari ridho orang lain yang tidak sepenuhnya kita kenal di dunia maya.
Baca juga   Ternyata dalam islam memperbolehkan pacran, Asalkan...?

Jadi renungkan sekali lagi, kepada siapa hendaknya kita berdoa dan berkeluh kesah tentang kehidupan sehari-hari. Semoga bermanfaat

Pandaan 13 Desember 2017
Dewi’Na Irawan

Read more...

Peridiri
Perihal Diri Updated at: 04:17:00

Friday, 3 November 2017

Keberagaman itu Indah Jika Kita Bijak Menyikapinya

2 komentar

Keberagaman - Bukan suatu rahasia bahwa negeri Indonesia tercinta adalah negeri yang kaya akan keberagaman. Indonesia yang terdiri dari banyak suku bangsa yang tersebar luas dari sabang sampai merauke, dengan berbagai ragam budaya, adat, dan tradisi yang berbeda pula. Kita patut bersyukur meskipun dengan adanya berbagai keberagaman ras, budaya, suku dan agama yang ada di Indonesia, tak menjadikan negeri ini mudah terpecah belah.

Dalam sebuah pidato pada 1 Juni 1945, presiden Soekarno mengatakan, "Dasar negara, yakni dasar untuk di atasnya didirikan Indonesia Merdeka, haruslah kokoh kuat sehingga tak mudah digoyahkan. Bahwa dasar itu hendaknya jiwa, pikiran-pikiran yang sedalam-dalamnya, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Dasar negara Indonesia hendaknya mencerminkan kepribadian Indonesia dengan sifat-sifat yang mutlak ke-Indonesiaanya dan sekalian itu dapat pula mempersatukan seluruh bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagi suku, aliran, dan golongan penduduk"

Keberagaman Bisa Menjadi Sebuah Fitnah Pemicu Konflik


Keberagaman yang diberikan Tuhan kepada kita ini, tentu harus tetap dijaga dan dilestarikan agar terus tercipta perdamaian. Tapi pada kenyataanya, keberagaman bisa menjadi fitnah dan faktor utama yang menjadikan sebuah konflik dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti contoh konflik perseteruan NU-Muhammadiyah, konflik Myanmar atau tindakan tindakan anarkis berupa terorisme yang sedang melanda di negara kita ini. Masalah utamanya adalah kedangkalan intelektual yang menjadi watak mendasar terjadinya konflik tersebut. Dalam konflik NU dan Muhammadiyah, perbedaan yang seharusnya tak membuat satu sama lain saling memperdebatkan siapa yang benar, tapi karena kompleksitas proses hasut menghasut itulah yang membesarkan sebuah konflik.

Di era modernisasi, media sosial menjadi media utama dalam membesarkan sebuah berita HOAX atau hasutan yang bisa memecah sebuah konflik. Bahkan propoganda seperti itu akan menyebar begitu cepat dengan banyaknya warganet yang asal share tanpa membaca dengan seksama dan mencari referensi yang membenarkan berita tersebut terlebih dahulu.

Bahkan seperti yang dilansir media independen.id dengan judul “Mewaspadai Pesan Radikal dalam Buku Sekolah” menuturkan bahwa selama ini dunia pendidikan sudah banyak beredar buku yang memasukkan paham-paham radikal dalam bentuk buku-buku pelajaran. Pesan Radikal ini seperti hukum halalnya membunuh orang yang tak satu agama atau mengkafirkan pemeluk agama lain selain islam.

Menurut Kepala Sub Bidang Kontra Propaganda Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Sujatmiko, mengakui sejumlah kelompok Islam radikal sudah melakukan infiltrasi paham-pahamnya melalui dunia pendidikan, Hal ini sudah dirancang dengan sistematis.

Untuk pencegahannya BNPT membentuk kemitraan dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) yang bertugas mengawasi konten-konten radikal yang terdapat didalam buku pelajaran sekolah. Selain itu, BNPT juga membentuk DUTA DAMAI yang dilatih mahir dibidang teknologi untuk melakukan kontra propoganda terorisme di dunia maya.

Sebagai orang tua, kita harus terus mengawasi anak-anak kita untuk menangkal paham radikalisme dengan memastikan buku pelajaran yang anak-anak baca tidak mengandung unsur kebencian dan unsur kekerasan. Juga dengan terus aktiv mengajak diskusi tentang apapun yang anak temui dari buku maupun dari internet. Karena seperti yang kita ketahui bahwa terorisme di Indonesia kini semakin sering terjadi.

Apalagi seperti yang dilansir dalam artikel independen.id dengan judul “Peluang ISIS Membuka Jaringan Baru di Indonesia”. Dalam artikel tersebut menjelaskan bahwa setelah basis ISIS di Mosul dan Raqqa dibombardir Juli 2017 silam, puluhan sel-sel jaringan terorisme ini tidak sepenuhnya mati. Mereka mungkin akan membuat jaringan baru diseluruh dunia, termasuk juga di Indonesia. Sebab menurut Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) setidaknya terdapat 700 warga Indonesia yang pernah bergabung dengan ISIS dan berpotensi membuat jaringan baru setelah kembali dari Suriah.

Kelompok yang rentan disusupi paham radikalisme dan terorisme ini adalah mereka yang mengeksploitasi jargon-jargon ketidakadilan suatu wilayah, lalu menawarkan solusi untuk menganti sistem pemerintahan dengan sistem khilafah. Tentu kebanyakan orang yang tertarik karena di iming-imingi kehidupan Surga setelah kematian, dari pada kehidupan didunia yang penuh dengan keputus asaan dan ketidak adilan.

Yah, Sebuah hasutan kebencian dan fitnah dari keberagaman bisa memicu terjadinya konflik, terutama diera banjir bandang informasi dan keterbukaan informasi seperti hari ini yang bisa membuka kemungkinan penyebaran paham radikal dan terorisme.

Keberagaman Juga Bisa menjadi Rahmat Dan Aset Berharga Dalam Hubungan Bermasyarakat


Allah SWT Berfirman “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”(QS:Ar-Rum:22).

Dalam ayat tersebut menjelaskan tentang Bahasa dan Warna kulit. ‘Bahasa’ disini bukan hanya tentang kegiatan verbal atau lisan, bisa juga diartikan tentang pemikiran, pengetahuan dan keyakinan. Bahasa adalah simbol perkembangan peradaban yang dihasilkan manusia. Berbeda dengan ‘warna kulit’, ia dipahami sebagai bawaan lahiriah yang tidak boleh dihina, memang ditetapkan Allah secara langsung.

Maka sebutlah ragam perbedaan yang mungkin dimaksudkan sebagai ‘bahasa’ itu seperti: selera sehari-hari, minat ilmu, minat kebudayaan, keyakinan terhadap suatu paham dalam sebuah agama, keyakinan pada suatu agama tertentu, pilihan politik, pilihan gerakan sosial, dan lain sebagainya. Sedangkan perbedaan warna kulit itu fitrah yang nampak secara fisik.

Dalam ayat tersebut menjelaskan juga bahwa keberagaman itu merupakan tanda kekuasan-Nya dan hanya bagi orang yang mengetahuinya lah tanda tersebut bisa dipahami dengan benar. Seperti keberagaman pendapat tentang keyakinan atau visi dan misi politik yang dipilihnya. Semua pendapat mungkin saja benar, ataupun mungkin saja salah dan semua itu hanya Allah yang mengetahui antara yang salah dan benar.

Dalam surat Al-Hujurat Allah berfirman: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al-Hujurat:13).

Allah SWT menjadikan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa supaya kita bisa saling mengenal. Perbedaan sudah menjadi fitrah yang tak terelakkan, dan dengan segala perbedaan itu, kita diberi kesempatan untuk saling mengenal, saling memahami sudut pandang yang lainnya, menghargai setiap keyakinan dan meneladani ketakwaan pada Tuhannya.

Tuntunan menyikapi perbedaan atau keragaman dengan mengembalikan suatu urusan pada tuntunan Allah dan Rasul. Tentu saja dengan kemampuan kontekstualisasi dengan saling bertukar pemahaman dengan cara yang baik dan mengutamakan semangat persatuan dan perdamaian, bukan saling menjatuhkan dan merendahkan, Dengan demikian keragaman dan perbedaan akan menjadi lebih indah dan penuh Rahmatan lil alamin jika kita selalu bijak dalam menyikapi setiap perbedaan dan keragaman.



Referensi artikel:
http://independen.id/read/khusus/505/peluang-isis-membuka-jaringan-baru-di-indonesia/
http://independen.id/read/data/502/mewaspadai-pesan-radikal-dalam-buku-sekolah/
Read more...

Peridiri
Perihal Diri Updated at: 04:40:00
 

Perihal Diri Copyright © 2013 Minima Template
Designed by BTDesigner · Powered by Blogger