Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

Thursday, 12 April 2018

Anak Susah Makan? Atau Makannya Sedikit? Coba Tips Ini Untuk Mengatasinya

0 komentar

Anak susah makan? Atau anak makannya cuma sedikit? Sering kali kita akan menjumpai problem seperti ini saat anak beranjak umur satu tahun ke atas. Dengan melambatnya pertumbuhan anak dibanding sebelumnya, selera makan anak juga ikut menurun.

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi anak susah makan bahkan menolak untuk makan. Salah satunya karena anak mulai bisa memilih lauk yang dia sukai. Seperti anak saya yang lebih suka memilih lauk favoritnya.

Disaat saya tidak memasak lauk favoritnya, anak saya ngambek dan tidak mau makan di hari itu. Salah satu cara agar dia mau makan adalah dengan menuruti permintaanya. Namun sering juga saya tidak menuruti kemauannya karena tidak adanya stok lauk tersebut di dapur. Jadi saya membujuknya dengan cara lain agar dia tetap mau makan.

Anak Susah Makan? Atau Makannya Sedikit? Coba Tips Ini Untuk Mengatasinya
Sumber gambar : Republika.co.id
Anak tidak mau makan karena alasan masih tidak lapar juga bisa berarti dia memang tidak merasa lapar. Sebagai orang tua kita harus memahaminya bahwa kebutuhan asupan anak berbeda dengan orang dewasa.

Dari ukuran lambung saja sudah beda, jadi sewajarnya jika anak merasa masih belum lapar, mungkin memang benar adanya. Kita sebagai orang tua tak harus memaksanya untuk makan sesuai apa yang kita inginkan.

Karena penanganan yang keliru dalam memaksa anak untuk makan dapat menjadikan anak semakin rewel dan menyebalkan. Seperti tidak mau mengunyah, beberpa kali di muntahkan bahkan sampai makanan di buat mainan.

Agar anak mau makan, kita sebagai orang tua harus pandai-pandai dalam membujuk dan menciptakan suasana nyaman bagi anak saat makan. Karena kenyamanan tersebut akan membuat selera makan anak meningkat.

Berikut tips pengalaman saya dalam mengatasi anak saya yang terkadang susah makan dan tidak mau menghabiskan makanannya.

Mengundang Anak Lain Untuk Makan Bersama

Ini tips yang paling ampuh dan paling sering saya praktekkan saat menyuapi anak saya makan. Bagi yang anak susah makan, mereka cenderung makan lebih banyak saat makan dengan anak sebayanya.

Anak Susah Makan? Atau Makannya Sedikit? Coba Tips Ini Untuk Mengatasinya
Sumber gambar : Anakku.net
Mungkin seperti perasaan tidak mau kalah atau semacamnya. Anak-anak biasanya akan mengikuti anak lain saat makan, dari seberapa cepat dia mengunyah seperti ada lomba makan antara keduanya.

Selain hal tersebut, dengan membiasakan menyuapi anak orang lain untuk makan, suatu saat giliran orang lain yang akan menyuapi anak kita untuk makan. Saya sering mengalami hal ini, memang perbuatan baik yang kita lakukan suatu saat akan kembali lagi ke kita.
Baca juga : Jika Anak Tidak Mau Berbagi, Mungkin Inil Dia Penyebabnya?

Menyuapi Anak Makan Sambil Bermain

Cara kedua yang juga sering saya lakukan saat menyuapi anak makan adalah dengan ikut bermain dengannya. Beberapa anak terkadang saat makan, mengunyahnya sangat lama, bahkan terkadang mediamkan mulutnya yang sudah terisi dengan makanan.

Dengan ikut bermain dengannya, anak akan merasa nyaman dan tidak merasa tertekan saat disuapi makan. Hal ini akan membuat anak yang susah makan akan termotivasi untuk tetap makan.

Namun kita harus sabar dalam menyuapi anak makan saat bermain, terkadang anak bermain di luar rumah dengan teman-temannya. Mereka akan lari-lari kesana kemari, namun kita tetap menunggu kesempatan untuk bisa menyuapinya hingga selesai.

Biarkan Jika Anak Mau Makan Secara Mandiri

Anak Susah Makan? Atau Makannya Sedikit? Coba Tips Ini Untuk Mengatasinya
Sumber gambar : parenting77.com
Jika anak ingin makan dengan caranya sendiri, jangan dilarang! Karena hal tersebut juga termasuk cara agar si anak belajar dengan sendirinya.

Tapi kan entar makannya belepotan dan banyak sisa makanan yang berserakan?

Jika lantai kotor kita tinggal membersihkannya, makannya belepotan dan bajunya kotor juga bisa di bersihkan nanti. Dengan membiarkan si anak belajar makan sendiri, justru meningkatkan selera makan si anak.

Biarkan saja makanannya berserakan saat si anak makan sendiri, yang penting dia berselera untuk makan. Nanti, kita ajarkan bagaimana caranya agar makannya tidak berserakan, bagaimana agar makannya tidak berlepotan, kita ajari pelan-pelan tentang makan yang baik dengan cara yang menyenangkan.
Baca juga : Tidak Ada Anak Yang Nakal, Hanya Ada Orang Tua Yang Kurang Sabar

Makan Nasi Dengan Lauk Snack? It’s Ok

Makan nasi pakai lauk snack (jajanan)? Ada-ada saja tingkah laku anak saya saat mau makan. Selain sering minta makan dengan lauk favoritnya, terkadang juga minta lauk pakai snack (jajanan) yang di beli di warung atau toko dekat rumah.

Kalau bagi saya sih, asalkan anak mau makan, pakai tambahan lauk snack pun tak masalah. Namun tetap kita harus pilih-pilih juga tentang jajanan untuk anak. Anak saya biasanya minta sosis untuk tambahan lauknya, terkadang juga mie kriting seharga 500 rupiah yang ditabur di nasinya.

****

4 Tips di atas sudah terbukti manjur untuk mengatasi anak saya yang terkadang susah makan, pilih-pilih makanan dan makannya sedikit. Yang paling penting adalah kesabaran kita untuk terus berupaya memberi asupan gizi yang baik pada anak, namun tetap dengan cara yang menyenangkan yang tidak membuat anak merasa di tekan.

Semoga bermanfaat

Read more...

Peridiri
Perihal Diri Updated at: 22:32:00

Thursday, 26 October 2017

Jika Si Anak Tidak Mau Berbagi? Mungkin Ini Dia Penyebabnya

4 komentar

Mengapa anak tidak mau berbagi? – Sering sekali kita melihat anak sendiri maupun anak tetangga yang enggan membagikan mainannya kepada anak yang lain, entah berbagi mainan ataupun berbagi makanan. Pasti para ibu-ibu berpikir apakah wajar perilaku seperti ini ada pada sang buah hati? apakah akan berdampak hingga dewasa nanti?

Tenang Bunda, Perilaku pelit atau enggan berbagi makanan atau mainan dengan anak tetangga, itu wajar saja. Ini biasa terjadi pada anak-anak usia 2-5 tahun. Karena pada usia ini, ego si kecil mulai tumbuh. Nah kalau dia mau berbagi, itu malah bagus banget, tapi bukan berarti dia tidak normal ya.

Jika Si Anak Tidak Mau Berbagi? Mungkin Ini Dia Penyebabnya

Dan jika anak kita belum mau berbagi tidak usah risau, yang penting jangan dipaksa dan ciptakan momen untuk dia berbagi. Selain itu, faktor lain yang membuat karakter pelit juga bisa terjadi karena pola didik orang tua juga loh?

Bagaimana bisa?

Dalam rapat wali murid yang diselenggarakan di taman kanak-kanak pada tanggal 21 Oktober 2017 hari sabtu kemarin, Perilaku pelit bisa dikarenakan dari meniru atau ajaran orang tuanya ataupun cara dia diperlakukan oleh orang tuanya.

Sebagai contoh, saat anak memegang camilan, dia hendak keluar rumah, dari kejauhan terlihat beberapa teman sebayanya bermain. Pola pikir kita melarang anak untuk keluar karena takut camilan itu habis dimakan teman-temannya ataupun kita berasumsi entar anak kita tidak kebagian banyak saat teman-temannya mulai meminta camilan tersebut.

Nah dari sini kita sudah mengajarkan anak kita untuk pelit, padahal pelajaran sosial seperti itu memungkinkan anak belajar bagaimana bersosialisasi, bagaimana dia harus berbagi. Sebelum dia belajar untuk berbagi, justru kita sebagai orang tua melarang anak untuk melakukan hal demikian, justru kita mengajarkan hal negatif kepada si anak.
Baca juga  Jangan Terlalu Banyak Melarang si Kecil, Biarkan Dia Bereksplorasi
Contoh lain, disaat anak sedang bermain sepeda, kemudian salah satu temannya yang sudah sedikit besar meminjam sepedanya. Dalam hati kita takut sepeda milik anak kita entar malah rusak di pakai anak yang lebih besar dari anak kita. Kemudian kita menasehati agar si anak tidak mengizinkan kalau ada teman yang mau pinjam sepeda tersebut. Nah dari sini juga kita sudah mengajarkan untuk pelit terhadap orang lain.

“Sebenarnya, anak itu sudah ingin belajar berbagi, tapi kebanyakan orang tua yang mengajarinya untuk pelit dan tidak mau berbagi karena ketakutan dan kekhawatiran orang tua itu sendiri”

Nah maka dari itu, kita sebagai orang tua jangan terlalu khawatir bahkan melarang untuk hal-hal yang belum tentu itu terjadi. Sebagai orang tua kita harus pintar-pintar bagaimana mengarahkan anak ke hal yang positif dan terus memotivasi untuk tetap berperilaku baik dan bersosialisasi dengan anak seumurannya.

Lalu bagaimana mengajarkan kepada anak agar mau berbagi sejak dini? Berikut beberapa cara yang bisa kita lakukan sebagai orang tua untuk mengajarkan anak untuk berbagi kepada sesamanya.

Cara Mengajarkan Anak Untuk Berbagi

Mengajarkan Si Kecil Berbagi Dalam Keluarga

Mengajarkan Si Kecil Berbagi Dalam Keluarga

Mengajarkan berbagi pada anak harus diterapkan terlebih dahulu dalam linkup keluarga. Ada banyak kesempatan yang bisa kita manfaatkan untuk mengajari si Kecil berbagi dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari dirumah.

Contohnya, di saat makan bersama keluarga di rumah. Kita dapat mengenalkan si Kecil cara berbagi seperti membagikan lauk dan sayuran pada si Kecil, pada kakak, dan pada ayah. Kita juga bisa menawarkan camilan yang tengah kita makan kepada mereka.

Contoh lain, Disaat anak kita sedang makan sesuatu, cobalah untuk mengetes kepekaan mereka dengan meminta makanan tersebut kepada anak kita, meskipun kita sendiri tidak menginginkan makanan tersebut. Jika si Anak memberi, kita menolaknya dengan mengatakan “udah, adek aja yang makan, mama masih kenyang”.

Ajak Bicara Anak Tentang Dunia Sosialnya Sehari-Hari

Dengan seringnya kita mengajak bicara pada anak, menunjukkan padanya bahwa kita sebagai orang tua tertarik dengan dunianya. Kita pun akan terus mendapat informasi tentang kesehariannya dan membangun kepekaan kita tentang apa yang dialami anak.

Apabila si Kecil masih susah menghilangkan sikapnya yang tidak mau berbagi dengan temannya dan sering sekali ribut saat bermain, kita jangan menyerah dan putus asa untuk terus mengajarinya. Pantau terus anak saat bermain dengan temannya.

Sering sekali kita mendapati anak berebut mainan karena enggan berbagi dengan temannya atau dengana adiknya. Untuk mengatasi hal tersebut, dekati si Kecil dan beritahu ia bahwa kalau mau bermain dengan temannya, harus mau meminjamkan mainannya. Katakan kepadanya, “Adek, kalau main sama temannya di sini, berarti temannya boleh pinjam mainan Adek. Nanti kalau Adek main ke rumah teman, Adek dibolehin pinjam mainan temannya adek.

Seandainya si Kecil tetap tak mau meminjamkan mainannya, Kita bisa menyuruhnya untuk menyimpan mainan favoritnya disuatu tempat dan menaruh mainan yang boleh dipinjam temannya di luar. Selanjutnya berikan penjelasan kepada si Kecil bahwa mainan yang tidak disimpan berarti boleh dipakai bermain bersama saat bermain dengan teman-temannya nanti.
Baca juga  Tidak Ada Anak Kecil Yang Nakal, Hanya Ada orang Tua Yang Kurang Sabar

Jadilah Contoh Dalam Hal Berbagi Dengan Sesama

Orang tua adalah tauladan dan guru pertama bagi buah hati, jadi tidaklah salah kalau sebagian perilaku anak adalah cerminan dari orang tuanya. Dengan cara ini, jadilah orang pertama yang menjadi teladan dalam hal berbagi.

Seperti disaat Bunda sedang makan camilan atau donat, berbagilah kepada si Kecil dengan menawarinya. “Dek, lihat nih mama lagi makan Donat, enak deh. Adek mau nggak?” Lalu potong cokelat tersebut tanpa dia menjawab iya atau tidak kemudian berikan kepadanya.

Tidak hanya itu, ketika kita sedang makan kue bersama Si kecil, lalu tiba-tiba ada teman si Kecil datang ke rumah, beritahu kepada si Kecil untuk menawari temannya kue tersebut. Jika temannya mau, minta si Kecil memberikan sebagian kue yang dimilikinya untuk temannya atau mengambilkan kue baru di dapur. Dengan begitu, lama-kelamaan si kecil akan memahami dan belajar tentang berbagi dengan sendirinya.

Sadari Bahwa Berbagi Itu Sulit, Maka Ciptakanlah Momen Untuk Berbagi Bagi Si Kecil

Sadari Bahwa Berbagi Itu Sulit, Maka Ciptakanlah Momen Untuk Berbagi Bagi Si Kecil

Bagi orang dewasa, berbagi itu bukan hal yang mudah, begitu pun dengan anak. Karena itu bersabarlah. Selalu beri dukungan dan semangat pada si Kecil untuk berbagi serta ciptakanlah moment dimana si Kecil bisa berbagi.

Contoh untuk menciptakan momen bagi anak untuk saling berbagi misalnya saja dengan mengajak teman si anak bermain ke rumah. Kemudian, sediakan kue atau kacang di toples misalnya, lalu minta anak untuk membagikannya ke temanya. Atau ajak temannya itu menggunakan mainan yang dimiliki oleh si Kecil.

Dan hal terpenting lainnya, ketika si Kecil tiidak mau berbagi mainan dengan temannya, jangan memaksa si Kecil untuk meminjamkan mainan tersebut. Karena keinginan berbagi itu bukan karena dipaksa, melainkan sebaiknya memang muncul dari diri sendiri. Kita sebagai orang tua hendaknya menciptakan momennya saja biar si Kecil mau berbagi dengan temannya.
Baca juga  Mengembangkan Potensi Untuk Belajar Dari Hal Yang Disukainya
*****

Mengajarkan anak untuk mau berbagi memang dibutuhkan kepekaan orang tua serta kesabaran untuk selalu mengawasi sang buah hati. Jangan putus asa ketika si Kecil masih belum mau berbagi, Terapkanlah lingkungan yang positif dengan contoh dan tauladan dari diri kita sendiri sebagai orang tua. Karena faktor terpenting agar anak mau berbagi adalah dari pola asuh orang tua yang baik.


Pandaan 26 Oktober 2017 
Dewi’Na Irawan
Read more...

Peridiri
Perihal Diri Updated at: 07:11:00

Tuesday, 24 October 2017

Jangan Terlalu Banyak Melarang si Kecil, Biarkan Dia Bereksplorasi

4 komentar

Jangan Melarang Anak Bermain - Menurut psikolog Ratih Ibrahim bermain merupakan salah satu bentuk stimulasi yang penting buat anak. Dengan bermain, anak akan mengeksplorasi lingkungan dan mereka belajar dari situ. Seperti ketika memegang kertas misalnya, buat anak itu benda yang asing atau baru dia ketahui. Tapi dengaan memegang, mereka bisa merasakan tekstur kertas, oh ternyata bisa diremas dan dimainkan.

Dampak buruk saat terlalu sering melarang anak bermain

Anak saya Nisa (1,3 tahun) sering sekali naik turun meja sendiri ataupun memanjat dan menaiki sepeda motor yang sedang parkir didalam rumah. Awalnya sering sekali saya melarang anak saya untuk melakukan hal tersebut, tapi hal yang saya lakukan justru sia-sia saja. Nisa malah lebih sering memanjat meja dan sepeda tiap kali dia menemukan kesempatan, semakin dilarang semakin dia sering melakukannya, seakan apa yang dilakukannya memang sengaja untuk menarik perhatian kita.

Akhirnya saya biarkan saja dan tetap saya awasi setiap Nisa melakukan hal tersebut. Mungkin bagi sebagian orang tua sangat heran ketika melihat saya membiarkan anak manjat-manjat dengan sendirinya. Saya paham, mereka pasti akan tidak mengizinkan anaknya melakukan hal semacam itu. Karena bisa jadi hal demikian membuat anak jatuh dan cedera.
Baca  Tidak ada anak yang nakal, hanya ada orang tua yang kurang sabar
Tiga hari yang lalu, Sabtu 21 oktober 2017, kembali di sekolah Taman Kanak-kanak mengadakan rapat wali murid dengan agenda wacana membahas tentang tumbuh kembang sang Anak. Saya menghadiri rapat tersebut dengan ibu-ibu yang lainnya, terlihat dari sekian ibu-ibu yang hadir, saya seakan paling muda dan paling kecil. Hehehe :P

Banyak orang tua cenderung mencemaskan anak-anaknya membuat sebuah kesalahan ataupun hal yang tidak diinginkan, dan saya kira itu wajar. Kita sebagai orang tua memang takut terjadi apa-apa terhadap sang buah hati kita bukan?.

Tapi dengan melarang anak untuk melakukan hal seperti ini, hal seperti itu, jangan begini, jangan begitu, tidak boleh begini, tidak boleh begitu, bisa berdampak buruk bagi tumbuh kembang si Anak, jelas kepala sekolah.

Terlalu banyak melarang anak itu seperti meragukan kemampuan anak, tidak percaya bahwa anak itu bisa, membuat anak merasa tidak mampu dan sebagainya. Jika sudah seperti ini, terlalu banyak melarang anak akan berdampak kepada anak menjadi kurang percaya diri dan penakut.

Saat anak berada pada tahap eksplorasi, izinkan anak untuk melakukan yang dia inginkan. Ada baiknya kita sebagai orang tua menerapkan pola asuh yang “demokratis” artinya kita membebaskan anak melakukan apa saja namun tetap memberikan batasan-batasan yang sudah disepakati.

Seperti contoh Anak boleh main sepeda di dekat-dekat rumah, tapi tidak sampai keluar hingga jalan raya. Anak-anak boleh main hujan-hujanan, tapi tidak lebih dari batasan yang kita berikan. Anak main lari-larian, tapi kita menasehati agar hati-hati tapi bukan melarangnya.

Seperti kasus pada Nisa, saya tidak berusaha melarang dia, tapi dengan catatan saya tetap mengawasi dia. Terkadang ada kasus seperti ini, Disaat orang tua sering sekali melarang dan memarahi anaknya untuk naik tangga, hal semacam itu justru membuat rasa penasaran sang Anak meningkat.

Akibatnya disaat orang tuannya tidak ada, dikesempatan seperti itu dia mencoba untuk naik tangga dan kejadian yang tidak di inginkan terjadi. Seandainya jika orang tua membolehkan anaknya naik tangga dan di awasi, bisa saja pengalaman seperti itu berharga baginya dan membuat sang anak tidak ingin melakukan hal seperti itu lagi.

Manffat tidak melarang anak saat bermain

Dengan mengizinkan anak-anak bereksplorasi dan menghindari kata “jangan” pada anak, ada banyak manfaat yang bisa didapatkan, yaitu:
  • Anak jadi memiliki kesempatan untuk belajar.
  • Anak belajar aturan yang membuat dirinya nyaman dan aman.
  • Anak merasa dirinya bisa dan mampu melakukan beberapa hal.
  • Anak hidup di lingkungan yang positif.
  • Anak menjadi berani menghadapi tantangan.
  • Anak menjadi percaya diri dan mandiri.
Meskipun begitu banyak manfaatnya, bukan berarti sebagai orang tua kita tidak khawatir saat membiarkan anak melakukan hal sesukanya. Kekhawatiran yang terjadi itu wajar, dan sebagai orang tua, sebaiknya kita musti harus pintar-pintar dalam hal ini.
Baca  Mengembangkan potensi anak untuk belajar dari hal yang disukainya
Jika memang hal yang disukanya itu resikonya cukup tinggi seperti lari-larian di komplek yang dekat jalan raya ataupun kesukaan anak itu memanjak sesuatu yang tinggi. Mungkin dengan mengajak ke sebuah taman bermain yang aman, anak tetap bisa eksplorasi kemampuannya dan juga meredakan rasa khawatir kita. di tempat bermain kita bisa lihat anak aktiv bermain disamping itu kita tetap aman tanpa menyampingkan kesenangan sang Anak.

Jadi, yuk dukung setiap tumbuh kembang anak dan biarkan dia ber-explorisasi sesukanya asal tetap dalam pengawasan kita.

Pandaan 14 Oktober 2017
Dewi'Na Irawan
Read more...

Peridiri
Perihal Diri Updated at: 05:30:00

Wednesday, 4 October 2017

Tidak Ada Anak Kecil Yang Nakal, Hanya Ada orang Tua Yang Kurang Sabar

0 komentar

Sebenarnya tidak ada anak nakal, yang ada itu orang tua yang kurang sabar, begitulah inti dari rapat wali murid kemarin pagi di Taman Kanak-kanak Masyitoh IV Pandaan.

Saya setuju dengan pernyataan tersebut, anak nakal itu adalah hal wajar, namanya juga masih anak-anak. Mereka mencoba meng-explore dirinya dengan rasa penasaran yang ada dihatinya. Mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan itu salah atau benar. Bagi mereka apapun yang mereka lakukan adalah benar.

Perilaku nakal bisa saja dilakukan anak-anak karena meniru seseorang disekitarnya, bisa jadi itu meniru kita sebagai orang tuanya. Atau mereka ingin diperhatikan oleh kita yang terlalu sibuk dengan pekerjaan rumah, hingga mereka berinisiatif menarik perhatian kita dengan kenakalannya.

Nah sebagai orang tua, menjadi sabar dalam menghadapi kenakalan anak itu perlu kita terapkan sedini mungkin. Tidak dikit-dikit anak berbuat kesalahan kita main tangan dan omelan yang tak menyenangkan.

Perlu kita ketahui bahwa anak sangatlah cerdas pola pikirnya, mereka diam-diam mempelajari pola perilaku kita sehari-hari. Terutama jika kita selalu mengunakan kekerasan disaat anak melakukan kesalahan, maka dia akan mengingat hal yang dia alami dan diterapkan saat dewasa nanti. Bisa jadi dia menerapkan perilaku kasar pada orang lain saat melakukan kesalahan. 


Kekerasan yang terlalu sering terhadap anak justru membuat anak menjadi semakin kebal, dia sudah terbiasa dengan sakit yang dia rasakan saat dipukul, juga dia akan kebal dengan omelan yang sering dia dengar.

Sebagai orang tua, kita harus lebih sabar dan bijak dalam memahami cara mendisiplinkan yang baik dan benar, kita harus tau kapan waktu yang tepat dalam menasehati anak. Kita harus paham bagimana kita berbicara tegas namun tetap lembut.

Terkadang kita juga harus cari tahu apa alasan dibalik anak melakukan kenakalan tersebut. Dengan menjaga komunikasi yang baik dengan menjadi tempat curhat bagi sang anak, mungkin dibalik kenakalan itu ada perhatian yang kurang dia dapatkan dari kita, mungkin juga anak tidak merasakan keadilan kasih sayang yang diberikan kepadanya.

Kita sebagai orang tua juga harus adil dalam memperhatikan anak. Terkadang kita hanya fokus tentang kenakalan anak saja, disaat anak melakukan hal baik, justru kita menganggapnya biasa-biasa saja.

Seharusnya kita juga harus lebih peka dan sesekali memberi penghargaan kepada anak saat dia melakukan hal baik. Sesekali kita memuji perbuatan baiknya walaupun hanya meletakkan buku maupun handuk pada tempatnya. Pasti anak akan senang saat mereka di puji dan dia akan terus mengulanginya lagi dengan senang hati.
Baca : Mengembangkan Potensi Untuk Belajar Dari Hal Yang Disukainya
Terkadang kita sebagai orang tua suka membanding-bandingkan kenakalan anak dengan kebaikan anak tetangga. Hindari hal semacam itu, sebab secara psykologis, kita sendiri saja tidak mau dibanding-bandingkan sama orang lain terlebih dibandingkan dengan mantan pacar, sama halnya dengan anak.

Tiap manusia mempunyai karakter dan sifat yang unik, jadi tidak ada gunanya kita membandingkan anak kita dengan anak orang lain. Selain berdampak rasa iri dan dengki dalam hati anak, juga rasa sayang anak akan berkurang terhadap kita.

Sebaiknya kita tidak perlu membanding-bandingkan dengan orang lain, apalagi memaksa dengan terburu-buru agar anak berubah menjadi lebih baik. Tidak ada perubahan yang instan, anak pun butuh waktu untuk merubah kenakalannya. Kita sebagai orang tua juga harus tetap mendukungnya tapi bukan berarti terus memaksanya untuk berubah. Perubahan itu butuh proses, dan tidak semua perubahan itu sesuai dengan keinginan kita.

Kita harus paham bahwa apa yang kita rasa benar dan baik menurut kita, tidak selalu baik bagi sang anak, biarkanlah sang anak yang memilih apa yang baik menurutnya untuk diubah. Kita sebagai orang tua cukup memperhatikannya dan mendukung seperlunya.

Dan terakhir, Kenakalan anak bisa jadi karena beberapa hal, anggap saja kenakalan tersebut sebagai bentuk cara anak mendapat perhatian kita. Atau kenakalan tersebut merupakan ujian kita sebagai orang tua yang baik. 


Pandaan, 04 Oktober 2017
Dewi’Na Irawan
Read more...

Peridiri
Perihal Diri Updated at: 22:40:00

Thursday, 15 December 2016

[Parenting] Mengembangkan Potensi Untuk Belajar Dari Hal Yang Disukainya

0 komentar

Ini adalah artikel pertama saya berkategori Parenting yang saya tulis berdasarkan pengalaman saya dalam menangani masalah anak-anak di setiap harinya.

Menjadi ibu rumah tangga merupakan pekerjaan paling mulia bagi seorang wanita. Karena tugas seorang ibu rumah tangga sangatlah berat, di mulai bangun pagi buta untuk menyiapkan makanan untuk suami dan anak, membersihkan rumah, menata dan merapikan rumah juga menata keuangan keluarga.

Membiarkan anak berkreasi agar potensinya berkembang dengan sendirinya

Saya sempat salut terhadap mereka para wanita yang telah berhasil mengatur waktu menjadi ibu rumah tangga sekaligus menjadi menjadi wanita karir. Mempunyai penghasilan sendiri tapi tidak mempengaruhi pekerjaan dia sebagai ibu rumah tangga, juga tetap melihat dan mendidik anaknya dengan baik.

Menjadi seorang ibu rumah tangga bertanggung jawab atas tumbuh kembang sang buah hati. Ibu yang merupakan guru pertama bagi seorang anak, dia lah yang berpotensi penuh dalam mengarahkan seperti apa karakter dari seorang anak.

Sangat disayangkan jika kita sebagai ibu dari anak-anak, tapi kita jarang dan tidak pernah tahu anak kita berkembang seperti apa. Kita lebih sibuk mengurusi bisnis dan jarang memperhatikan mereka. Padahal, menurut saya, tidak ada hal yang lebih menyenangkan ketimbang melihat sang buah hati tumbuh.
Baca  Tidak ada anak yang nakal, hanya ada orang tua yang kurang sabar
Perihal masalah tumbuh kembang anak, saya biasanya sebagai seorang guru pertama bagi anak saya, tetap saya menyarankan anak-anak saya untuk belajar. Tapi pelajaran yang saya maksudkan bukan seperti menghafal atau membaca dengan waktu yang kita tentukan.

Anak saya tahun depan akan masuk PAUD, tapi dia sudah hafal nama huruf abjad dan angka sampai 20. Saya tak pernah menyuruh dia untuk belajar menghafal. Cuma terkadang saya kasih kuis dan memberi pertanyaan tentang huruf-huruf pada sebuah tulisan yang tertera pada sebuah buku atau karton bungkus susu formula.
Terus siapa yang mengajarinya hingga hafal?
Handphone, anak saya ini, sering sekali merebut Handphone saya untuk sekedar lihat video dan foto, terkadang dia sendiri yang memotret dan membuat video dengan Handphone itu. Pada awalnya dia hanya melihat saja cara memakai Handphone ini, lama-kelamaan, dia belajar mencet-mencet layar Handphone dan akhirnya menguasai Handphone saya.

Dari pada saya larang main Handphone, yang ujungnya di menangis, mending aku isi program yang bermanfaat untuk dia. Saya mengisi nyanyian anak-anak dan aplikasi belajar "marbel" di Handphone saya. Awalnya saya ajari cara buka dan memakainya, dan akhirnya dia belajar sendiri dan mengingatnya. Lihat video dibawah ini


Memang memberi anak sekecil itu sebuah gadget adalah hal yang tidak bagus bagi sebagian orang. Tapi bagi saya, kebahagiaan anak adalah nomor satu. Jika dia bahagia dengan bermain Gadget, ya sudah, saya biarkan dengan batasan yang tidak melebihi waktu yang saya tentukan.
Intinya tetap bagaimana kita mengawasi pemakaian dari gadget itu
Jadi, untuk menanggulangi biar anak saya bermain gadget itu tidak mubazir tapi masih ada manfaat dari tindakannya itu, oleh sebab itu, saya masukkan aplikasi yang mendukung untuk belajar dan mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Baca  Jangan terlalu banyak melarang si kecil, biarkan dia bereksplorasi
Menurut saya, kita sebagai orang tua harusnya mengarahkan anak untuk hal yang disukainya, bukan dengan memutuskan dia berkembang seperti kehendak kita, Membiarkan anak bermain dengan gadget kita atau bermain dengan teman-teman sebayanya, Menjadikan dia belajar memanfaatkan teknologi yang ada serta belajar berkomunikasi dengan sesamanya dengan sendirinya, Meskipun begitu, semua tindakan anak, tetap harus dalam pengawasan kita.

Hasilnya, anak saya bisa menyanyi seperti video yang di tontonnya, juga menghafal huruf abjad dan angka dengan sendirinya dengan bantuan aplikasi di gadget. juga dia belajar mewarnai sebuah objek di buku dengan ajaran teman-temannya

Memang seperti kita tidak mempunyai andil dalam pengembangan potensi anak, tapi riview dan pengawasan kita itu sangat mendukung bagaimana anak kita bisa berkembang.

So, bunda, bagaimana cara kalian mengajari anak-anak? Boleh dishare disini^_^
Read more...

Peridiri
Perihal Diri Updated at: 07:36:00
 

Perihal Diri Copyright © 2013 Minima Template
Designed by BTDesigner · Powered by Blogger