Menu Makanan Yang Disunnahkan Rasulullah Saat Berbuka Puasa

Menu Makanan Yang Disunnahkan Rasulullah Saat Berbuka Puasa

Tidak terasa bulan puasa telah sampai, bulan puasa merupakan moment yang paling ditunggu - tunggu oleh seluruh umat musim di dunia. Bagaimana tidak? Di bulan ini segala amalan yang kita lakukan akan dilipat gandakan oleh Allah SWT. Untuk itu di bulan yang penuh berkah ini umat muslim tidak hanya menjalankan kewajiban berpuasa, namun juga berlomba-lomba untuk melaksanakan amalan-amalan sunnah nabi Muhammad SAW.

Adapun amalan-amalan yang biasa dilakukan saat berpuasa yaitu menjalankan sholat tarawih saat malam hari, bersedekah, melakukan sholat sunnah hingga iktikaf di masjid. Jika dirasa berat, ada amalan lain yang bisa anda lakukan yaitu menyegerakan berbuka dengan makanan dan minuman yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Kebanyakan orang  saat melaksanakan berbuka puasa akan mengkonsumsi makanan dan minuman secara berlebihan. Padahal, sebenarnya hal tersebut tidak dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW, karena segala yang berlebihan itu sejatinya tidak baik. 

Jika anda mengkonsumsi makanan secara berlebihan saat perut dalam keadaan kosong seharian akan menyebabkan lambung bekerja terlalu keras. Selain itu mengkonsumsi makanan dan minuman secara berlebihan akan menyebabkan tubuh menjadi mengantuk dan malas untuk beraktifitas termasuk melaksanakan sholat tarawih.

Sebagai umat muslim yang beriman sebaiknya kita berbuka dengan makanan dan minuman yang disunnahkan oleh nabi, karena selain mencari keberkahan hal tersebut juga baik utnuk tubuh kita. Untuk itu kali ini kami akan membagikan informasi mengenai beberapa makanan dan minuman yang dianjurkan untuk berbuka puasa oleh Rasulullah.

1. Kurma

Sumber gambar : Hellosehat.com

Menurut hadist riwayat Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, saat berbuka puasa Rasulullah memakan "ruthab" atau kurma muda untuk berbuka puasa, dan bilamana tidak ada kurma beliau akan meminum seteguk air. Oleh karena itu mengkonsumsi buah kurma atau seteguk air menjadi sunnah bagi umat muslim yang sedang berpuasa.

Ternyata selain membawa keberkahan, kurma sendiri memiliki banyak nutrisi yang baik untuk tubuh manusia. Berdasarkan penelitian yang telah diterbitkan oleh International Journal Food Sience Nutrition di tahun 2003, kurma memiliki 15 kandungan mineral yang baik untuk tubuh. Beberapa mineral tersebut yang paling utama yaitu magnesium, kalium, kobalt, zat besi, mangan, fosfor, selenium, seng, dan kalsium

Selain itu kurma juga tinggi akan protein seperti linoleat, oleat dan palmitoleat. Tidak kalah dengan buah segar lainnya, kurma juga memiliki berbagai kandungan vitamin seperti vitamin C dan vitamin B kompleks dalam jumlah yang cukup tinggi. Tidak ketinggalan sejumlah kandungan antioksidan juga terdapat di dalam buah kurma.

Beberapa manfaat yang dapat kita peroleh dari buah kurma ini yaitu meredakan sembelit, menambah energi, menjaga kesehatan gigi dan tulang, membantu mengatasi anemia, menyehatkan jantung, juga menyehatkan sistem saraf. Sudah tidak diragukan lagi, banyak oenelitian yang mengungkapkan manfaat dari buah kurma ini. Untuk itu selalu sedia kurma disaat berbuka puasa anda bersama keluarga.

2. Madu

Sumber gambar : Tribunnews.com

Sejak zaman dahulu telah dianjurkan untuk mengkonsumsi madu untuk berbuka puasa dan sahur. Karena madu memiliki banyak nutrisi yang diperlukan oleh tubuh, sehingga dapat membantu menyehatkan tubuh saat berpuasa. Anjuran untuk mengkonsumsi madu sendiri telah tertuang ke dalam Qur’an surah An Nahl ayat 69 : “dari perut lebah itu keluar minuman madu yang beraneka ragam warnanya , di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia

Menurut penelitian yang dituangkan dalam Codex Standart for Honey pada tahun 1981 kandungan utama yang paling banyak terdapat di dalam madu yait fruktosa dan glukosa. Selain itu terdapat kandungan lain yaitu asam-asam organik, enzim, protein, asam amino, maltosa, sukrosa dan masih banyak lagi.

Banyak manfaat yang akan kita dapatkan dari mengkonsumsi madu, diantaranya yaitu meningkatkan sistem kekebalan tubuh, memperlancar sistem peredaran darah, meredakan tenggorokan, membantu penyembuhan dan membantu memperlancar pencernaan. Untuk itu sebaiknya anda mengkonsumsi madu minimal 2 sendok makan saat berbuka puasa dan sahur untuk menjaga kesehatan anda.

3. Delima

Sumber gambar : Merdeka.com

Buah yang berbentuk seperti limau ini merupakan salah satu buah yang berasal dari negeri Iran. Buah ini sendiri memang telah dianjurkan sejak lama sebagai pendamping saat berbuka puasa karena buah delima berkhasiat untuk membantu melancarkan sistem pencernaan. Rasulullah pernah bersabda :
 “Makanlah delima dengan kulitnya karna sesungguhnya buah delima baik untuk penghadaman perut” (diriwayatkan oleh Ahmad, Baihaqi, dan Ibnu Sunni) 
Selain di sunnahlan untuk dikonsumsi buah delima ternyata memiliki banyak kandungan nutrisi yang sangat baik untuk tubuh manusia. Kandungan yang paling baik di dalam delima yaitu polifenol seperti tanin, punikalagin, antosianin delphinidin, pelargonidin glikosida dan sianidin. 

Selain memiliki kandungan polifenol yang tinggi, delima juga dikenal memiliki kandungan vitamin C yang tinggi. Bahkan denganmengkonsumsi satu buah delima kita bisa mencukupi 17 % asupan vitamin C harian tubuh kita. Di dalam minyak biji delima juga terdapat asam palmiat, asam oleat, asam linoleat, asam searat, dan asam punisat.

Buah delima terbukti memiliki banyak manfaat untuk tubuh kita. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tahun 2006 menunjukan bahwa buah delima dapat membantu menghambat pertumbuhan sel-sel kanker di dalam tubuh. Selain itu manfaat lain dari buah delima yaitu membantu menurunkan kolestrol, menyehatkan jantung, membantu memperlancar sistem pencernaan dan menjaga kesehatan mulut dan gigi. 

***

Itu tadi 3 makanan yang disunnahkan Rasulullah untuk dikonsumsi saat berbuka puasa. Semoga apa yang kita konsumsi selama berbuka puasa menjadi berkah dan ibadah kita selalu dilancankar. Marhaban ya Ramadhan..
Read more »
Berbuat Baiklah! Setiap Kita Akan Ditinggalkan Dan Meninggalkan

Berbuat Baiklah! Setiap Kita Akan Ditinggalkan Dan Meninggalkan

Setiap kita pernah meninggalkan dan ditinggalkan, apa yang ada disekitar kita akan berubah seiring berjalannya waktu. Ada yang datang ada juga yang pergi, begitulah siklus alam yang semua manusia pasti akan mengalaminya.

Saya tahu betul bagaimana rasanya ditinggalkan, ada rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan, seakan ada lubang besar dalam hati yang tak kunjung menemukan pengganti untuk menutupinya. Kadang saya berpikir “mending saya saja yang meninggalkan daripada ditinggalkan”, Padahal ditinggalkan dan meninggalkan memiliki dampak yang sama.

Sumber gambar : vebma.com
Seperti disaat saya kehilangan teman bercerita di asrama karena sebuah perpisahan. Awalnya saya kesal karena pada kenyataannya saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Karena saya sendiri tau bahwa kepergian dia untuk mencari kebahagiannya.

Saya sadar, saya tidak boleh egois untuk menahan teman sekamar itu untuk tidak pergi. Harusnya saya yakin dengan perpisahan ini kita akan menemukan bahagia dengan cara masing-masing. Namun itu tidaklah mudah dan butuh waktu lama untuk mengikhlaskannya.

Sama seperti saat kehilangan orang yang kita sayangi, disaat semua harap tertuju pada dia, kemudian dia pergi dengan cara yang tidak biasa. Ada rasa menyesal dan kecewa dalam hati, bahkan ada umpatan dan mengutuk “mengapa harus bertemu dengan dia” kalau ujungnya hanyalah sebuah perpisahan.

Baca jugaBaca dan renungkanlah! Disaat dirimu mengutuk dunia dan merasa dunia ini tak adil

Memaafkan itu hal yang mudah, tapi untuk melupakan, tidak semua orang bisa melakukannya dengan mudah. Pada kenyataannya setiap tempat dan moment yang pernah kita lalui bersama, terus terulang dan terekam indah dalam ingatan, namun juga menawarkan luka yang dalam secara bersamaan.

Saya mengalami banyak kehilangan, rasa sakit, sedih dan kecewa dalam menjalani sebuah perpisahan. Namun saya yakin ini adalah pelajaran yang berharga untuk senantiasa menjaga hubungan baik dengan sesama.

Awalnya saya yang merasa dirugikan karena sebuah perpisahan, tapi sekarang saya mengerti, ternyata meninggalkanpun sama.

Disaat saya meninggalkan asrama untuk menikah dengan orang yang saya cintai dan pergi dari teman-teman yang selama ini mengisi hari-hari bersama. Tetap ada rindu dan luka disaat saya meninggalkan mereka meskipun saya yakin yang saya lakukan untuk kebahagian saya.

Antara meninggalkan dan ditinggalkan akan tetap sama-sama memiliki lubang di hati. Akan ada di mana kita merindukan waktu bersama dan kecewa untuk waktu yang pernah kita sia-sia kan, seperti rasa kesal dan marah karena suatu hal diwaktu itu.

Seiring berjalannya waktu, saya memahami bahwa kehidupan ini tak ubahnya sebuah “Pintu”. Ada yang masuk dan ada yang keluar, ada yang datang dan ada juga yang pergi, semua bergantian untuk saling mengisi dan melepaskan.

Baca juga : Wanita harus tegas antara halalkan atau tinggalkan...

Disaat kita kehilangan teman bercerita, akan ada teman baru yang akan mengantikan tempat teman bercerita tersebut. Seperti disaat kita terluka karena sebuah perpisahan dengan orang yang kita cintai, suatu saat akan datang pengganti yang benar-benar akan kita cintai dan mencintai kita seutuhnya.

Yah, setiap kita pasti akan meningalkan ataupun ditinggalkan. Terima kasih pada yang pernah datang dan pergi.
Kehidupan ini tak ubahnya sebuah pintu, Akan ada yang datang dan ada yang pergi, ada yang masuk dan ada yang keluar, semua akan bergantian untuk mengisi dan melepaskan. Semua orang berbakat untuk meninggalkan ataupun ditinggalkan.
Dewi Nadzifah
Perihal Diri
Read more »
Lakukan 7 Hal Ini Agar Kamu Jadi Lebih Dewasa

Lakukan 7 Hal Ini Agar Kamu Jadi Lebih Dewasa

Menjadi tua itu pasti, dewasa itu pilihan”. Tak harus jadi tua terlebih dahulu untuk bisa menjadi dewasa, karena menjadi dewasa tidak terikat dengan batasan umur. Bisa saja orang yang sudah berumur namun tidak memiliki kedewasaan yang mencerminkan umurnya. Begitupun yang masih remaja tidak menutup kemungkinan bisa lebih dewasa dari orang yang lebih tua darinya.

Dewasa itu perihal mental, sifat dan tata cara menjalani sebuah kehidupan. Karena dewasa itu sebuah pilihan, mau tidak mau kita harus memilih menjadi dewasa agar kita bisa menjadi pribadi yang disukai oleh banyak orang di sekitar kita.

Namun untuk menjadi dewasa tidaklah mudah, butuh proses yang lama dan keteguhan niat yang kuat untuk bisa jadi lebih dewasa. Evaluasi diri, belajar lagi, lagi dan lagi, dan terus berjuang memperbaiki diri adalah kunci untuk menuju kedewasaan yang sesungguhnya.

Tapi tak jarang juga, sebagian orang yang menemukan kedewasaannya karena melakukan suatu hal dalam hidupnya. Berikut 7 hal yang bisa kita lakukan agar bisa jadi lebih dewasa :

#1. Cobalah Temukan Kemandirian Dalam Perantauan

Lakukan 7 Hal Ini Agar Kamu Jadi Lebih Dewasa
Sumber gambar : Pexels.com
Dewasa itu tentang kemandirian dalam segala hal, mandiri mencari kebutuhan hidup sendiri, menyelesaikan masalah sendiri dan mengatur rencana kehidupan secara mandiri. Dengan kata lain dewasa itu berusaha untuk tidak merepotkan orang lain dan tidak bergantung oleh bantuan orang lain dalam mengatasi berbagai hal tentag kehidupan sehari-hari.

Sejak kecil, kita sudah bergantung dari bantuan orang tua, dari minta uang jajan, disekolahkan bahkan masih makan dari hasil keringat orang tua sendiri. Memang itu adalah tugas sebagai orang tua kepada anaknya, namun jika kita sudah dewasa dalam artian sudah berkepala dua, itulah waktu yang tepat untuk membalas semua kebaikan orang tua dengan tidak bergantung pada orang tua.

Jika kita terus berada dalam bayang-bayang orang tua dengan masih bergantung pada bantuan besar maupun kecil dari orang tua, kita tidak akan menjadi dewasa dalam arti kemandirian. Alangkah baiknya kita mencobauntuk pergi merantau dengan jauh kepada orang tua.

Dengan merantau, kita bisa belajar untuk tidak bergantung pada bantuan orang tua. Kita akan sadar bahwa mencari uang itu tidaklah mudah, dengan begitu kita akan menghargai setiap uang yang kita dapatkan dengan hasil keringat sendiri.

Dengan merantau kita akan belajar bagaimana mengeksplore ketahanan diri dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Bagaimana kiya menyelesaikan masalah pribadi tanpa bantuan orang tua. Dengan begitu, kebiasaan mandiri akan menjadikan kita lebih dewasa dan lebih bertanggung jawab atas kehidupan kita kelak disaat berkeluarga.

Baca juga  :  Menurut kalian, arti dewasa itu seperti apa?

#2. Carilah dan Berkumpulah Dengan Teman Yang Baik Yang Mendewasakan

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi.
Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapat bau harum darinya.
Sedangkan pandai besi, bisa jadi percikan api mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap akan mendapatkan bau asapnya yang tidak sedap” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628).
Persahabatan adalah faktor penting yang mempengaruhi perubahan karakter seorang manusia. Jika baik temannya, maka akan ada banyak ilmu, hikmah dan manfaat yang bisa kita petik. Namun dengan bersahabat dengan teman yang tidak baik, bisa jadi kita akan terjerumus ikut kedalam keburukan juga.

Persahabatan yang baik akan membuat kita lebih dewasa, karena sahabat yang baik akan selalu mendukung kita dalam hal kebaikan dan kebahagiaan kita. Terkadang sahabat juga akan menjadi panutan kita karena pengalamannya , dengan bergaul dengannya, sedikit demi sedikit kita akan belajar banyak hal darinya.

#3. Jatuh Cinta Kepada Seorang Yang Benar-Benar Kita Sayangi

Banyak kejadian seorang menjadi dewasa karena cinta. Karena ketertarikan kepada seseorang, kita bisa saja merubah karakter maupun kebiasaan yang tidak baik atau tidak dewasa agar si dia menyukai kita.

Misalnya kita yang jarang sekali masak, karena menyukai seorang, kita belajar masak agar bisa menjadi istri yang baik kelak. Begitupun bagi laki-laki yang menyukai seorang wanita muslimah, yang biasanya laki-laki ini sering bolong sholatnya, berharap bisa mendapatkan cinta muslimah ini dia akhirnya memperbaiki dirinya agar tepat saat bersanding dengan muslimah tersebut.

Yah, jatuh cinta bisa mendewasakan kita, meskipun jatuh cinta juga bisa menjerumuskan kita. Kuncinya terletak pada ketulusan “Cinta”, karena cinta yang baik akan mendewasakan pemiliknya.
Sebuah pernikahan yang tulus bisa menjadikan seseorang lebih dewasa, menikah bak sebuah batu lompatan untuk menuju sebuah kedewasaan yang sederhana.
Dewi Nadzifah
Perihal Diri

#4. Belajarlah Menghargai Waktu

Lakukan 7 Hal Ini Agar Kamu Jadi Lebih Dewasa
Sumber gambar : Pexels.com
Menghargai waktu adalah salah satu sifat orang yang telah dewasa. Kita harus pandai bagaimana mengatur waktu dengan sebaik-baiknya. Dengan tidak membuang atau menunda-nunda waktu sholat misalnya.

Kita harus paham mana yang harus didahulukan dan mana yang bisa dilakukan setelahnya. Dengan menghargai waktu kita tidak akan bermalas-malasan dan menunda-nunda pekerjaan. Kita juga akan lebih menghargai waktu orang lain dengan datang terlebih dahulu disaat janjian dengannya.

Baca juga Pahami 6 hal ini, agar tidak terlena menunda-nunda sesuatu

#5. Bertanggung Jawab Dengan Pekerjaannya

Seorang yang dewasa harusnya selalu bertanggung jawab dengan apa yang dikerjakannya. Jika sebagai pekerja, dia akan melakukan dengan sangat baik setiap menit untuk pekerjaanya. Jika menjadi suami atau istri, dia akan bertanggung jawab atas tugas sebagai istri maupun suami dengan sebaik-baiknya.

Namun seringkali kita jumpai bahwa disaat ada masalah, baik itu sebab kesalahan pribadi ataupun bukan, kita lebih memilih untuk lari dari tanggung jawab. Kita lebih suka menyalahkan seseorang maupun mencari alasan untuk membenarkan setiap kesalahan yang kita buat.

Padahal disetiap kita bertanggung jawab akan suatu masalah, kita akan mendapat poin penting dalam sebuah kehidupan berupa pengalaman. Kita akan belajar banyak hal tentang kedewasaan dari sebuah kesalahan dan memperbaikinya hingga tuntas.
Adanya sebuah masalah, sejatinya untuk membuat kita lebih dewasa
Dewi Nadzifah
Perihal Diri

#6. Siap Menghadapi Perubahan

Lakukan 7 Hal Ini Agar Kamu Jadi Lebih Dewasa
Sumber gambar : Pexels.com
Setiap manusia akan mengalami fase perubahan dalam dirinya. Seperti disaat sudah berkeluarga akan ada perubahan besar dari pada saat single atau remaja dulu. Sewaktu remaj kita bisa menghabiskan banyak waktu luang bersama teman untuk sekedar jalan-jalan atau nongkrong di suatu tempat sampai larut malam. Disaat berkeluarga semua kebiasaan itu harus dihilangkan.

Untuk awalnya memang akan susah, tapi kita harus melakukannya. Karena perubahan itu wajib dilakukan agar kita bisa bahagia bersama dengan pasangan kita. Berkeluarga bukan tentang ego salah satu insan saja, karena dalam berkeluarga ada dua ego yang harus saling menjaga dan saling mengalah agar tercipta hubungan yang harmonis.

Mendewasa adalah tetap tenang dan bijak dalam menghadapi berbagai hal yang mungkin akan timbul setelah mengalami perubahan dalam hidup.

Baca juga  :  Baca dan renungkan! disaat dirimu mengutuk dunia dan merasa dunia ini tak adil

#7. Jangan Menyalahkan, Seringlah Berintropeksi Diri

Kehidupan itu seperti roda, kadang kita berada di atas dan kadang dibawah. Disaat kehidupan kita berada dibawah, sering kali kita menyalahkan banyak hal. Dari menyalahkan orang, menyalahkan keadaan, bahkan menyalahkan takdir.

Padahal jika direnungkan kembali semua itu juga hasil dari perbuatan kita sendiri. Seperti saat menyalahkan orang, bisa saja orang tersebut melakukan kesalahan karena memang pengaruh dari kita sendiri. Atau mungkin semua ini adalah ujian bagi kita agar senantasa sabar dan tidak menyalahkan orang.

Berintropeksi diri itu penting, karena ketika kita sudah berani mengakui kesalahan meskipun sebenarnya tidak sepenuhnya salah kita, namun kita tetap mau bertanggung jawab untuk menyelesaikannya. Sabar serta bertanggung jawab itulah modal terbesar kita untuk menajdi lebih dewasa.

*** 

Nah begitulah 7 hal yang menurut saya bisa menjadikan kita lebih dewasa menghadapi kerasnya kehidupan di dunia. Tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Semoga kita tidak menua dalam keadaan yang belum dewasa. Semoga bermanfaat


Pandaan 1 Maret 2018
Dewi'Na Irawan

Read more »
Jangan Menyesal Bergelar Sarjana Meskipun Akhirnya Jadi Ibu Rumah Tangga

Jangan Menyesal Bergelar Sarjana Meskipun Akhirnya Jadi Ibu Rumah Tangga

Dewi, gimana kabarmu? Lama loh kita tidak ketemu, kamu kerja dimana sekarang?” tanya seorang teman SMP yang kebetulan berjumpa disalah satu tempat perbelanjaan.”Iya nih lama tidak berjumpa, saya sudah tidak bekerja sekarang, sibuk ngurusin anak dirumah, kalau kamu kerja dimana? Tambah cantik saja nih” jawabku sambil tertegun mengingat dia ini siapa, hehehe.

Sumber gambar islamidia.com
Teman saya ini jauh berbeda tampilannya ketimbang saat masih SMP dulu, ah jelas lah, kita tak pernah ketemu sudah hampir 10 tahun lamanya, wajar saja saya sempat beberapa detik tidak mengenalinya. Kita sempat bercerita lama sambil mencari barang di perbelanjaan tersebut, hingga akhirnya teman saya menanyankan tentang suatu hal.

Kenapa kamu tidak cari kerja lagi aja Wi, kan sekarang anakmu sudah sedikit lebih besar, kamu kan sudah sarjana, banyak loh perusahaan sekarang yang membutuhkan lulusan diploma atau sarjana” tanya temanku. “Entahlah, saya masih belum kepikiran kesana” jawabku singkat.

Dia kaget loh dengan jawaban saya, seperti banyak tanda tanya besar di pikirannya. “Kenapa? Eman (baca : Sangat disayangkan) loh Wi dengan ijazahmu”. Saya tak mengucap apapun hanya melontarkan senyum kepadanya.

Sebenarnya tidak satu kali ini saja, saya mendengar pertanyaan serupa, pertanyaan yang menanyakan tentang ijazah yang saya miliki itu untuk apa? Pertanyaan tentang 4 tahun lamanya waktu, tenaga dan harta yang saya korbankan untuk belajar di perguruan tinggi, kalau ujungnya ijazah tersebut tidak dipergunakan sama sekali.

Baca juga  :  Tidak ada kerugian disaat melakukan kebaikan

Memang sangat disayangkan, tapi bukan berarti tidak berguna sama sekali. Mungkin suatu hari nanti saya akan pergunakan, entah untuk melamar menjadi guru atau hal lainnya, yang penting atas izin suami. Tapi untuk sekarang, saya menikmati pekerjaan saya menjadi full mom untuk anak-anak saya.

Kalau ditanya menyesal dengan kuliah, karena ujungnya harus jadi Ibu rumah tangga?

Tentu saja tidak.

Ada banyak hal berharga yang saya rasakan disaat saya menuntut ilmu di perguran tinggi. Memang saya harus memeras tenaga, otak dan membagi finansial yang saya miliki untuk kuliah tersebut, karena saya kuliah sembari bekerja purna waktu saat itu.

Saya memutuskan sendiri untuk kuliah, karena menurut saya kuliah (menuntut ilmu) itu penting. Tidak ada motivasi khusus jika saya kuliah, saya akan memiliki karier yang bagus. Tidak! Saya tidak berfikir demikian, meskipun banyak orang yang memutuskan kuliah dengan tujuan agar memiliki karier yang bagus.

Bagi saya, seorang wanita itu penting untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, meskipun pada akhirnya kita sebagai istri akan menjadi ibu rumah tangga. Alasannya karena :

#1. Dengan Kuliah Kita Berkesempatan Untuk Mengenal Dunia Lebih Dalam

Tak perlu kita berkeliling dunia untuk mengetahui informasi suatu daerah, dengan buku semua itu bisa saja kita ketahui. Sekarang lebih extreem lagi, dengan bantuan internet kita cukup mengetik nama suatu daerah, semua informasi sudah tersedia didalamnya.

Dengan kuliah, kita bisa mempelajari ilmu yang kita dapat dari SMA dengan sangat detail. Misalnya disaat SMA kita diajarkan tentang perkalian sumbuh x dan y mengunakan rumus bal bla bla. Tapi di perguruan tinggi, kita bisa mengerti lagi bagaimana rumus ini berasal.

#2. Dengan Kuliah Kita Akan Mendapat Sahabat Dari Berbagai Suku Dan Budaya

Sumber gambar dari kompasiana.com
Disaat SMA, teman saya paling jauh cuma berbeda kabupaten, misal saya sekolah di kabupaten Pasuruan, saya memiliki teman di daerah Sidoarjo maupun Malang. Sedangkan disaat kuliah, saya bertemu orang Surabaya, Ngawi, bahkan ada yang dilur pulau (NTT, NTB dan Lombok). 

Memiliki teman dari berbagai suku dan budaya itu semacam menemukan hal baru yang selalu membuat penasaran. Saya sering menanyai salah satu teman dari lombok tentang bagaimana keadaan dan budaya disana.

Meskipun saya tidak pernah pergi ke Lombok, sedikit banyak saya bisa membayangkan keadaan disana saat teman saya ini bercerita tentang kampung halamannya. Jika seandainya ada kesempatan berkunjung kesana, saya sudah memiliki tour guide khusus yang sudah sangat saya kenal sebelumnya, hehehe.

Baca juga   :  Keberagaman itu indah jika kita bijak menyikapinya

#3. Dengan Kuliah, Kita Akan Mendapatkan Pengalaman Berharga

Yang tidak pernah kuliah pasti tidak akan pernah tau ribetnya skripsi, Saya beruntung pernah merasakan hal itu. Siang malam memikirkan tugas skripsi yang tak kunjung kelar, sementara deadline semakin dekat mengejar. Tidur tidak nyenyak dan makanpun jadi tidak beraturan.

Jika biasanya saya sering menolak perhatian seseorang, sekarang justru saya yang sering ditolak oleh dosen pembimbing. Berkali-kali izin tidak masuk kerja agar supaya bertemu pembimbing, nyatanya tiap kali kesana justru tidak berjumpa. Ah kesal.

Tapi itu pengalaman yang luar biasa yang bisa saya miliki. Dan semua itu tidak akan saya rasakan jika saya tidak pernah kuliah.

#4. Ingat! Wanita Adalah Madrasah Pertama Bagi Anaknya

Sumber gambar dari Vebma.com
Tidak ada kata menyesal dalam berjuang menuntut ilmu. Meskipun disaat kuliah mengambil jurusan informatika, namun justru bekerja menjadi karyawan biasa. Bukan berarti ilmu yang kita dapat tidak berguna, suatu saat kita akan mengambil hikmah dari apa yang sudah kita perjuangkan. 

Sama seperti wanita dengan ijazah sarjana yang memutuskan menjadi Ibu rumah tangga. Bukan tidak ada manfaatnya kuliah, ijazah hanya selembar kertas, dan ilmu tidak bisa diukur hanya dari selembar kertas tersebut.

Suatu saat ketika kita sudah menjadi seorang ibu yang memiliki anak, kita kan membutuhkan ilmu tersebut untuk mengajari anak-anak kita nantinya. Karena Ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya.

Baca juga  :  Problematika wanita yang sudah menikah, antara tetap bekerja atau mengurus keluarga

#5. Gelar Sarjana Juga Akan Jadi Motivasi Sendiri Untuk Meningkatkan Pendidikan Anak Lebih Baik Lagi

Saya dulu sering minder kalau ditanya atau menuliskan tentang pekerjaan orang tua dan pendidikan terakhir orang tua saya. Dengan keadaan tersebut saya tidak bermimpi untuk bisa sekolah sampai perguruan tinggi. Lulus SMA akhirnya saya memutuskan untuk bekerja.

Dengan pengalaman tersebut, saya ingin anak saya menilai bahwa orang tuanya saja sekolah sampai perguruan tinggi, berarti dia harus memiliki minat untuk melampaui orang tuanya. Bagi saya sendiri, dengan gelar sarjana ini memotivasi saya untuk mensekolahkan anak saya hingga ke perguruan tinggi nantinya.

Saya ingin anak saya mendapat pengalaman serta ilmu pendidikan yang lebih baik. Karena menurut saya, orang yang berakhlak baik itu bagus, tapi lebih bagus lagi jika orang berakhlak baik dengan wawasan yag luas dan pendidikan yang tinggi.

**** 

Jangan bersedih dan menyesal jika gelar sarjana kalian berakhir di kepulan asap dapur. Ijazah hakekatnya hanya selembar kertas yang tak berarti apa-apa, sedangkan ilmu itu pasti. Kita (wanita) adalah madrasah pertama bagi anak-anak kita nantinya, jadi tetaplah berjuang dalam menuntut ilmu meskipun pada akhirnya kita akan berteman dengan peralatan dapur.


Pandaan, 24 Februari 2018
Dewi'Na Irawan

Read more »
Pahami 6 Hal Ini Agar Tidak Terlena Menunda-nunda Sesuatu

Pahami 6 Hal Ini Agar Tidak Terlena Menunda-nunda Sesuatu


Menunda-nunda suatu pekerjaan adalah kebiasaan buruk yang sudah lumrah bagi kebanyakan orang. Meskipun kita sendiri tahu bahwa menunda-nunda suatu pekerjaan akan menghasilkan dampak buruk bagi kita, tetapi tetap saja kita sering melakukannya.

Saya sendiri juga mengalaminya, padahal saya tahu apa yang harus saya kerjakan, saya tahu deadline waktu pengerjaannya, namun saya sering merasa tidak perlu untuk memulainya sekarang. Seakan saya memiliki banyak waktu luang untuk bisa mengerjakannya nanti ataupun saya merasa bahwa saya bisa mengerjakannya dengan secepat mungkin, padahal semua itu hanya semu.

Pada akhirnya saya sangat kebingungan dan kelabakan dikejar deadline yang begitu mendesak. Bahkan akhirnya saya harus lembur untuk menyelesaikan tugas tersebut . Saya menyesal kenapa tidak dari kemarin saya kerjakan tugas tersebut terlebih dahulu? Tapi saya sadar bahwa itu hanya alasan saya untuk membenarkan diri.

Saya kira tidak sedikit dari kalian yang pernah mengalami hal serupa dengan saya, Tapi kita harus sadar bahwa menjadi orang yang suka menunda-nunda entah hal apapun itu adalah kebiasaan buruk yang akan terus selalu kita lakukan berulang-ulang kalau kita tidak memulai untuk mengubahnya dari sekarang.

Sebelumnya saya pernah membahas tentang Alasan kebanyakan orang saat menunda sesuatu pekerjaan. Agar kebiasaan buruk menunda-nunda sesuatu itu tidak berlarut-larut, kita perlu memahami 6 hal berikut:

#1. Menunda Bisa Berarti Membuang Kesempatan Yang Ada

Pahami 6 Hal Ini Agar Tidak Terlena Menunda-nunda Sesuatu
Sumber image : Intisari-online.com
Sewaktu baru lulus sekolah, saya pernah mendapat penawaran dari sanak saudara untuk berkarir sembari belajar di perguruan tinggi diluar pulau. Waktu itu saya masih sangat polos sehingga menunda penawaran tersebut karena saya merasa kasihan harus meninggalkan orang tua satu-satunya ke luar pulau dalam waktu yang lama.

Saya menimbang-nimbang konsekuensi yang akan saya alami kalau saya menerima penawaran tersebut. Banyak kekhawatiran yang saya rasakan dibenak saya. Karena kelamaan saya berfikir saudara saya akhirnya mengajak orang lain untuk ikut bersamanya.

Sekarang saya baru sadar bahwa saya mensia-siakan kesempatan yang bagus untuk diri saya, dari kesempatan untuk belajar, kesempatan untuk mempunyai karir bagus dan juga kesempatan pergi ke luar pulau. Tapi tak perlu disesalkan, mungkin ini memang jalan takdir saya.

Siapapun pasti memahami bahwa kesempatan yang sama tidak akan datang dua kali. Kalau kita melewatkan kesempatan yang ada, belum tentu kesempatan itu akan datang lagi di lain waktu.

Seperti pengalaman saya, terkadang kesempatan yang datang tidak bisa menunggu kita lebih lama. Jika kita paham betul bahwa kesempatan itu tidak datang dua kali, maka kita akan berpikir untuk tidak menunda lagi kesempatan yang ada.

Kalaupun hasilnya tidak memuaskan, setidaknya kita sudah belajar untuk bertanggung jawab dan menerima segala yang terjadi atas pilihan kita.

Baca juga   Baca dan renungkanlah! Disaat dirimu mengutuk dunia dan merasa dunia ini tak adil

#2. Waktu Tidak Akan Berhenti Berputar

Pada hakikatnya waktu akan terus berputar dan tak akan bisa diulang kembali ke masa yang kita inginkan. Artinya waktu yang telah berlalu tak akan lagi bisa kita miliki.

Seperti disaat kita masih muda, sebagai muslim yang baik, kita seharusnya mengerjakan kewajiban kita dari sholat, puasa, zakat dengan sebaik-baiknya. Tapi karena merasa masih sangat muda, kita beranggapan waktu kita masih sangat banyak untuk melakukan hal kewajiban itu dengan sebaik-baiknya nanti.

Kita lupa bahwa kematian itu tidak pernah menunggu seseorang saat berumur 60 tahun keatas. Anak berumur 5 tahun saja bisa meninggal sesuai dengan takdirNya. Disaat kita sudah mendekati ajal, disaat itulah kita menyesal akan waktu yang kita sia-siakan dahulu. Kita berharap agar waktu bisa terulang kembali.

Dengan mengingat bahwa waktu akan berlalu, akan menjadi cambuk bagi kita agar tidak mudah menunda-nunda sesuatu yang ingin kita lakukan. Apalagi sesuatu tersebut tentang melakukan sebuah kebaikan.

#3. Hati-hati Dengan Menunda Yang Berkedok Istirahat

Pahami 6 Hal Ini Agar Tidak Terlena Menunda-nunda Sesuatu

Istirahat adalah hal yang wajar dilakukan oleh setiap orang. Tubuh dan pikiran juga butuh waktu istiahat agar tidak mudah stress. Terlebih jika rutinitas harian yang begitu padat, tentu akan membuat tubuh mudah lelah dan capek. Jadi istirahat adalah hal wajar dilakukan agar fikiran lebih fresh.

Tapi, perlu di ingat! jangan sampai kita terlena dengan istirahat hingga berlebihan, Apalagi hingga membuat kita menunda sesuatu hal yang penting yang harus kita kerjakan secepatnya.

Tak ada yang melarang kita untuk beristirahat, namun perlu kita pahami bahwa apa pantas kita mengorbankan hal yang penting yang harusnya kita selesaikan, akan tetapi waktu istirahat tesebut membuat kita menunda hal yang seharusnya kita kerjakan secepatnya.

Alih-alih beristirahat sejenak, malah jadi sebuah alasan menunda-nunda pekerjaan karena telena dengan kenyamanan. Padahal istirahat justru lebih nyaman saat pekerjaan sudah diselesaikan.

Baca juga    Beberapa alasan orang saat menunda suatu pekerjaan

#4. Terburu-buru Itu Menghasilkan Hal Yang Tak Baik

Dengan kebiasan menunda, tentu kita sering akan mengalami dikejar deadline. Dengan pengerjaan tugas yang sudah mendekati batasnya, segala cara kita akan lakukan untuk bias menyelesaikannya. Dari kerja lembur hingga larut malam, kurang istirahat bahkan pola makan akan jadi terganggu. Tapi hasilnya, tak selalu baik ketika kita mengerjakannya dengan terburu-buru begitu.

Seseorang dikatakan deadliner karena dia terlalu banyak menunda-nunda, yang semestinya diberi kesempatan 3 minggu, justu waktu 3 minggu dia gunakan untuk hal lain yang mungkin tidak befaedah. Disaat deadline sudah tinggal beberapa hari, barulah dia mengerjakan pekerjaan itu hingga begadang. Tentu dia akan kewalahan karena pengerjaanya dipacu oleh waktu, akan tetapi hasil pekerjaannya mungkin jauh dari kata memuaskan.

Agar tidak mudah untuk menunda-nunda sesuatu, kita perlu menanamkan pada diri kita, bahwa menjadi deadliner itu kurang baik. Dengan mengusahakan menyelesaikan sesuatu tugas lebih cepat kita akan mempunyai waktu untuk mengkoreksinya kembali agar hasilnya lebih baik.

#5. Fokus Dengan Mana Yang di Dahulukan

Kebiasaan menunda biasanya dikarenakan oleh terlena dengan waktu yang panjang, sehingga memilih untuk mengerjakan hal lain terlebih dahulu.

Saya dulu sering kehilangan fokus disaat kerja apalagi saat sedang seru chat dengan teman lain dengan bahasan yang menaik (gosip). Yah, harus saya akui bahwa wanita memang mudah gagal fokus kalau sudah bersanding dengan kesukaannya, seperti ngobrol dengan teman, lihat-lihat produk online, dan sedang make up.

Karena asik chat dengan teman, akhirnya saya lupa kalau ada yang ingin saya kerjakan terlebih dahulu. Saya beranjak untuk mengerjakan lainnya, Saya baru mengingat disaat staf kantor menanyakan kembali tugas yang diberikan kepada saya.

Jadi fokuslah dengan mana yang penting untuk dikerjakan terlebih dahulu, kita harus pisahkan mana yang wajib dan mana yang bisa dikerjakan lain waktu.

#6. Tidak Menunda Berarti Menghargai Waktu

Pahami 6 Hal Ini Agar Tidak Terlena Menunda-nunda Sesuatu
Sumber gambar : bimbinganisalam.com
Waktu tidak bisa melaju lebih dulu maupun mundur beberapa detik dengan kehidupan kita, dimana kita berjalan disitulah waktu mengiringinya secara bersamaan. Dalam kehidupan ini, ada dua kemungkinan yang bisa kita lakukan terhadap waktu, yaitu memanfaatkannya dan juga mensia-siakannya.

Dengan kata lain, menunda dengan hal yang tidak seharusnya sama artinya kita membuang-buang waktu untuk melakukan hal yang tak ada gunanya sama sekali. Ada baiknya kita bisa menghargai waktu dengan tidak menunda sebisa mungkin, yang pada akhirnya kita betul-betul memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

Baca juga   Tidak ada kerugian disaat melakukan kebaikan

****

Nah, itulah tadi hal yang bisa kita jadikan motivasi agar tidak mudah menunda-nunda sesuatu. Menunda adalah hal yang wajar tapi bijaklah dalam menunda. Jika kita bisa menyelesaikannya secepatnya, kenapa harus ditunda.

Tapi jika memang harus di tunda, seperti disaat kita mendapat deadline satu hari dalam menulis artikel dari client, tiba-tiba ibu meminta untuk mengantar beliau ke pasar. Maka tundalah sebentar, setelah selesai urusan dengan Ibu, kerjakanlah jangan nunggu sampai malam datang.

Semoga kita menjadi orang yang tidak sering menunda-nunda sesuatu hanya untuk sebuah alasan yang tidak bermanfaat.

Pandaan 12 Februari 2018
Dewi'Na Irawan
Read more »
Saya Rasa Dilan Salah Kalau Mengatakan Rindu Itu Berat

Saya Rasa Dilan Salah Kalau Mengatakan Rindu Itu Berat

Jangan rindu. Ini berat, kau takkan kuat. Biar aku saja.” Dilanku. 1990

Quote fenomenal dari novel karya Pidi baiq yang mengisahkan kehidupan masa remaja antara Dilan dan Milea di tahun 1990-an. Tapi sudah cukup kita hanyut dalam ucapan Dilan yang berkata rindu itu berat, menurut saya itu tidak sepenuhnya benar.

Jangan rindu. Ini berat, kau takkan kuat. Biar aku saja.
Sumber gambar : mahriansyah.com
Jika kalian pernah merasakan rindu, mungkin kalian akan sadar bahwa terkadang rindu itu menyenangkan dan begitu indah. Ada perasaan ingin bertemu tapi terhalang oleh jarak dan waktu. Memang berat, tapi rindu masih tetap bisa terobati jika sudah bertemu. Benar kan?


Bukan Rindu Yang Berat! Tapi Rasa Kehilangan

Yang berat itu ketika kita rindu disaat sudah kehilangan. Saat kehilangan memaksamu untuk ikhlas menerima dan merelakan apa yang terjadi, maka saat itulah sesuatu yang berat terjadi pada hidupmu.

Saat kehilangan orang-orang yang kita cinta misalnya. Kita mungkin masih ingin bercerita padanya, mengucap kata cinta padanya, memberikan perhatian padanya, kau masih ingin memeluknya namun ia telah tiada. Yang pada akhirnya kita sulit menerima kenyataan bahwa dia telah tiada.

Maka, bagi saya yang berat itu bukanlah rindu, tapi kehilangan. Jika rindu, masih ada harapan kelak bisa bertemu dan mengobati rindu yang tercipta. Bagaimana dengan kehilangan? Yang sama sekali tak akan pernah kembali lagi.

Baca juga   Enaknya membangun cinta, bukan jatuh dari cinta

Bukan Rindu Yang Berat, Tapi Move-on Dari Kenyataan

Bukan Rindu Yang Berat, Tapi Move-on Dari Kenyataan
Sumber gambar : pexels.com
Rindu itu semacam candu ingin dan berharap pada sesuatu. Rasa rindu itu sangat luas jangkauannya, seperti rindu kampung halaman, rindu makanan ibu dirumah, rindu dengan sahabat tercinta. Selama rindu itu masih bisa di gapai, rindu tak seberat apa yang dikatakan Dilan pada Milea. 

Di akhir novel ketiga, Dilan mengatakan:
Lia, di mana pun kau berada. Aku tahu bukan itu yang kita harapkan, tapi itu adalah kenyataan. Ini bukan hal yang baik untuk merasakan sebuah perpisahan, tapi sekarang bagaimana caranya kita tetap akan baik-baik saja setelah itu. Menerimanya dengan ikhlas, akan lebih penting daripada semuanya.

Rasa sedih jika ada, itu harus berbatas untuk memberi peluang munculnya harapan pada hari-hari berikutnya, mengejar impian, dan meraih kebahagiaan bersama seseorang yang dapat menghabiskan sisa hidup kita dengannya. Mudah-mudahan kita kuat, ya Lia, sekuat kehidupan, cinta, dan pemahaman. Rasa sedih dan kegagalan tidak selalu berarti kekalahan.

Dan sekarang, yang tetap di dalam diriku adalah kenangan, di sanalah kamu selalu.

Terima kasih, Lia. Terimakasih kau dulu pernah mau.
Menghadapi sebuah kenyataan pait adalah hal yang paling berat. Kalau kata anak zaman sekarang susah move-on.

Dari pada rindu, Susah move-on jauh lebih berat. Disaat hati kita masih sayang dan penuh harap untuk balikan, satu sisi kita juga terluka dan ingin mengakhirinya secepat mungkin, dilema dua sisi ini yang sulit untuk bisa membuka halaman baru dalam kehidupan. Butuh proses dengan waktu yang cukup lama untuk bisa melupakan dan mengikhlaskan.

Baca juga   Beginilah seharusnya menyikapi masa lalu yang membayang

Bukan Rindu Yang Berat, Tapi Berjuang Dan Bersaing Mendapatkan Pasangan Impian

Saya juga pernah merasakan muda, bagi saya rindu itu tidak seberat saat kita menyukai seseorang dan ternyata kita mengetahui bukan hanya kita saja yang merasakan hal yang sama kepada seseorang yang kita sukai itu. Sebuah pesaing cinta.

Jodoh memang sudah ditetapkan, tapi kalau kita hanya diam dan menunggu tanpa melakukan apa-apa, sama saja kita sudah merelakan jodoh kita diambil orang.

Meskipun kata orang para lelakilah yang harus berjuang mendapatkan pasangan idaman, wanita juga tetap harus mengusahakan juga dong. Memang tidak harus se-agresif para lelaki juga saat mendekati lawan jenis, tapi dengan cara lain yang lebih efektif sebagai wanita. Permasalahannya adalah adanya pesaing ini.

Tentu kita tidak ingin si dia jatuh kepelukan wanita lain, tapi kita juga tidak bisa memaksakan kehendak agar dia memilih kita. Dan berjuang dan bersaing ini jauh lebih berat dari pada rasa rindu itu sendiri. Benar tidak?

Baca juga   Bukan tentang bakat, tapi kemauan untuk terus belajar

Bukan Rindu Yang Berat, Tapi Rasa Penyesalan Ketika Semua Sudah Terlambat

Bukan Rindu Yang Berat, Tapi Rasa Penyesalan Ketika Semua Sudah Terlambat
Sumber gambar : pexels.com
Saya pernah mengalami hal ini, ketika saya menyukai seseorang dan saya juga takut untuk mengungkapkan maupun memberi perhatian kepadanya. Saya sadar diri bahwa dia terlampau jauh untuk saya gapai. Tapi saya salah. 

Cinta itu tidak bisa dipendam dalam-dalam, semakin kita pendam semakin sakit ketika kita terluka akan sebuah kenyataan. Yah, seorang yang saya suka, secara tidak sengaja justru sedang dekat dengan teman baik saya. Betapa terluka ketika saya harus melihat kenyataan pahit bahwa dia harus bersanding dengan sahabat saya sendiri.

Seandainya saya lebih berani saat itu, seandainya saya tidak menganggap semua perasaan waktu itu sebagai perasaan yang biasa saja, Seandainya saja saya bisa mengungkapkan perasaan yang saya rasakan saat itu. Aku menyesal dan mungkin memang sudah terlambat.

Mungkin Dilan juga merasakan hal yang sama, seandainya dia tidak putus, atau dia mau menuruti keinginan Milea dan sebagainya. Tentu ending cerita mereka akan berbeda dan mungkin saja bisa berbahagia bersama. Tapi kenyatannya keduanya sama-sama merasakan sebuah penyesalan yang mereka sendiri sadar bahwa menyesal seperti itu juga sudah cukup terlambat.

**** 

Kalau menurut kalian, setujukah dengan ucapan Dilan bahwa Rindu itu berat? Boleh kalian bagi dikomentar dan saya sangat senang mendengar jawaban kalian tentang ini. See you ^_^


Pandaan, 07 Februari 2018

Dewi’Na Irawan

Read more »
Bukan Tentang Bakat! Tapi Kemauan Untuk Terus Belajar

Bukan Tentang Bakat! Tapi Kemauan Untuk Terus Belajar

Setiap manusia pada dasarnya mempunyai keunikan sendiri-sendiri, memiliki khas yang menarik dan mempunyai keistimewaan yang berbeda-beda. Diciptakannya manusia tentu lengkap dengan kelebihannya agar supaya dia lebih bersyukur, dan kekurangannya supaya senantiasa berusaha dan menghindari takabur.

Bukan Tentang Bakat! Tapi Kemauan Untuk Terus Belajar

Seringkali saya sering mendengar orang mengatakan bahwa kegagalan seseorang adalah hasil dari pribadi yang tidak berbakat. Padahal, bakat itu sendiri sudah ada dalam diri, hanya mungkin, termasuk dalam kategori yang tidak kuat, sehingga, perlu dikuatkan keberadaannya dengan usaha yang gigih dan proses yang keras.

Sebagai contoh, saya punya seorang teman yang begitu kreatif membuat video menarik dan banyak yang menyukai karya-karyanya. Dia begitu lihai dan penuh imajinasi dalam membuat ide dan tema video tersebut, seolah dia punya kekuatan sihir yang mampu menjadikan gambar dan video yang sederhana menjadi hal yang luar biasa dan begitu indah.

Berbakat? Tentu!

Tidak bisa dipungkiri hal tesebut adalah bakat, karena pada dasarnya dia tidak pernah bersekolah dengan jurusan computer ataupun multimedia. Namun, yang seringkali luput dari pandangan adalah bagaimana dia berusaha menemukan bakatnya dan mengasahnya hingga seperti sekarang.

Baca juga   Kenikmatan yang jarang disadari dan disyukuri oleh kebanyakan orang

Teman saya ini bergelut dalam dunia IT, padahal basic pendidikannya adalah IPA. Saya sendiri bersekolah di sekolah ternama akan program IT-nya, dan sedikit banyak mempelajari dunia IT lebih lama sebelum teman saya. Tapi sekarang, dia justru melampaui apa yang saya kuasai.
Kira-kira bagaimana bisa terjadi hal seperti itu?

Secara latar belakang, tentu saya seharusnya lebih unggul, mengingat 3 tahun saya habiskan dengan hasil selembar kertas yang diakui oleh Negara (Ijazah). Juga saya sempat belajar pula saat kuliah meskipun hanya 2 semester tentang design dan perangkat multimedia. Lantas bagaimana dia bisa jauh melampaui kemampuan saya?

Apakah dia jauh lebih berbakat dari saya?

Ternyata bukan karena itu!

Ketika saya mencari tahu, ternyata teman saya itu, rela tidak tidur semalaman demi mempelajari apa yang ingin dia ketahui dan ingin dia kuasai. Sedangkan saya hanya mengandalkan kemampuan yang saya dapat dari sekolah saja, tanpa pernah mempelajari lebih lanjut.

Hasilnya? jelas sekali dia yang jauh mengungguli saya.

Allah Maha adil. Tidak ada pencapaian besar yang dihasilkan tanpa usaha maksimal. Kalaupun usaha kita yang maksimal tidak mampu menyaingi hasil mereka yang terlahir dengan bakat yang besar, yakini saja bahwa setiap usaha pasti bernilai pahala.

Baca juga   Tidak ada kerugian disaat melakukan kebaikan

Bakat bukan tentang kita lahir dari rahim seorang yang berbakat akan suatu hal dan kita dapat mewarisinya secara otomatis. Seperti penyanyi berbakat melahirkan anak yang juga berbakat menyanyi atau seorang atlet tenis berbakat juga akan melahirkan atlet yang berbakat pula.

Tidak mesti begitu, meski memang kemungkinan seperti itu bukan perihal yang asing. Tapi yang harus kita yakini bahwa bakat dapat terbentuk pula dari proses belajar dan usaha yang keras dalam terus menggali potensi dalam diri.

Sama halnya dengan menulis di blog, bukan tentang bakat agar supaya tulisan kita disukai oleh para pembaca. Bahkan banyak penulis blogger terkenal yang pada awalnya juga tidak begitu disukai oleh pembaca saat awal-awal menulis.

Tapi setelah beberapa tahun dia menjaga konsisten menulis, akhirnya kualitas menulisnya berkembang, dari gaya bahasanya, dari ide artikelnya, dan bagaimana si penulis bisa membawa dan menguasai emosi pembacanya.

Jadi, jangan menyerah karena pernah gagal dan merasa tidak berbakat dalam beberapa hal. Bakat bisa ditemukan dan dilatih dengan usaha dan kemauan yang keras. InsyaAllah tidak ada usaha yang sia-sia.


Pandaan 06 Februari 2018
Dewi'Na Irawan
Read more »
Menurut Kalian, Arti Dewasa Itu Seperti Apa?

Menurut Kalian, Arti Dewasa Itu Seperti Apa?

Saya sering mendengar dari pembicaraan orang bahwa tingkat kedewasaan seseorang itu terlihat dari tingkah lakunya. Dewasa tak selalu di ikuti oleh pertumbuhan usia.

Secara hukum yang berlaku di Indonesia memang seseorang dikatakan dewasa kalau sudah lulus sekolah menengah, karena di Negara Indonesia ini, seseorang yang sudah lulus sekolah berhak memiliki kartu tanda penduduk (KTP) dan berhak mengutarakan suaranya di pemungutan suara seperti pemilu.

Arti dewasa yang sebenarnya

Namun, jika dilihat dari sudut pengertian ‘DEWASA’ itu sendiri, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), dewasa adalah mencapai usia akil baligh, yaitu bukan anak-anak ataupun remaja lagi.

Sedangkan menurut islam, seseorang baik perempuan maupun laki-laki dikatakan dewasa atau baligh apabila seseorang tersebut sudah mengalami haid bagi perempuan dan mimpi basah bagi laki-laki. Tentu saja masa seseorang untuk mencapai akil baligh, berbeda satu dengan lainnya.

Dewasa berarti matang. Baik matang secara biologis, maupun secara psikis.Sehingga bisa dikatakan tidak perlu menunggu tua untuk menjadi dewasa, karena kedewasaan tidak selalu beriringan dengan bertambahnya usia.
Tua itu pasti, dewasa itu pilihan!
Bagi saya pribadi, dewasa adalah orang yang telah mampu memilih dan memilah serta mengkategorikan mana yang perintah dan mana yang larangan Allah Subhanahu Wata'ala. Ia telah mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk untuk dirinya.

Terkadang apa yang menurut kita baik belum tentu menurut orang lain itu baik juga, apa yang kita yakini sudah dewasa belum tentu juga menurut orang lain itu dewasa. Dan pengertian dewasa seperti itu sangat relatif tergantung sudut pandang masing-masing orang.

Baca juga   Disaat dirimu mengutuk dunia dan merasa dunia ini tak adil

Memang tidak mudah untuk menjadi dewasa, ada masa transisi yang panjang, perlu ilmu, ada latihan, dan sebagainya. Seperti kata-kata inspirasi yang saya temukan disalah satu status di media sosial :
"Ada banyak cara menjadi dewasa, kadang begitu mudah semudah membaca buku dan menemukan kearifan di tiap lembarnya. Bahkan ada yang lebih mudah, seperti bercermin pada setiap kejadian yang terjadi pada orang lain."

"Tapi tidak jarang, kita harus menempuh jalan yang begitu berat untuk menjadi dewasa dan sadar. Kita mesti melewati sungai fitnah yang deras, harus membelah rimba cobaan dengan kerja dan sabar, bahkan kita harus penuh luka sebelum akhirnya memetik hikmah dan menjadi dewasa. Ada yang berhasil, namun banyak pula yang gugur di tengah jalan."
Saya semakin teringat sabda Rasulullah tentang sifat Allah SWT, “Sesungguhnya Allah SWT adalah yang Maha Pencemburunya.”

Karena itulah, saya juga ingin mengingatkan kembali bahwa sesungguhnya setiap “teguran” yang datang kepada kita bukanlah pertanda bahwa Allah SWT ingin menyengsarakan kita. Tapi mungkin karena kita sudah mulai menjauh dariNya, atau mungkin dengan cara begitu Allah SWT menguji kita untuk menjadi khalifah yang lebih dewasa dari sebelumnya.

Baca juga   Tidak ada kerugian di saat melakukan kebaikan

Dewasa adalah pilihan, maka jalan mana yang akan kita pilih? Berusaha menjadi dewasa seiring putaran masa atau bertahan dalam kekanakan dengan wajah kita yang kian menua?.


Pandaan, 18 Januari 2018
Dewi'Na Irawan
Read more »
Tidak Ada Kerugian Disaat Melakukan Kebaikan

Tidak Ada Kerugian Disaat Melakukan Kebaikan

Pernah tidak kita merasa rugi saat melakukan sesuatu hal yang baik, datang tepat waktu misalnya.

Kebanyakan orang Indonesia (tidak semua orang) itu sudah terbiasa dengan jam karet. Bahkan acara besar seperti konser ataupun hal besar lainnya saja juga terkadang diundur gegara artist atau orang yang penting dalam acara tersebut ada yang datang terlambat.

[QS. Az Zalzalah:7-8].

Kapan hari saya ada janjian dengan seseorang teman, rencananya kita bertemu jam 8 pagi ditempat yang sudah kita tentukan, kemudian memutuskan untuk bepergian ke tempat wisata bersama-sama. Saya datang lebih awal karena saya tidak terbiasa datang terlambat.

Saya sendiri juga tidak suka saat menunggu lama, makanya saya usahakan datang lebih awal karena saya tahu bagaimana resahnya dan tidak enaknya saat menunggu seseorang sendirian yang tak kunjung datang. Makanya saya tdak ingin orang lain merasakan hal yang tidak saya sukai itu. Jadi, sebisa mungkin saya tidak mau bikin orang lain menunggu.

Baca juga   Menunggu itu tak selamanya membosankan, bahkan menyenangkan bagi yang mau berfikir

Tapi, lama kelamaan lelah juga kalau yang ditunggu tak kunjung datang, hampir 1 jam lebih saya menunggu di tempat yang sudah kita tentukan. Sudah berangkatnya saya tidak sempat sarapan karena ingin datang tepat waktu, eh malah yang ditunggu tidak datang-datang.

Sempat saya berpikir bahwa teman saya ini tidak menghargai waktu saya, seandainya dia bilang datang terlambat, saya kan bisa menyiapkan diri untuk sarapan terlebih dahulu. Dan akhirnya saya merasa malas untuk datang tepat waktu, serasa apa yang saya lakukan jadi sia-sia belaka.

Kenapa saya harus ngebelain tepat waktu, sementara orang lain pun tidak menghargai waktu yang saya miliki?

Sempat kesal juga, hingga akhirnya saya mengerti bahwa menunggu tidaklah buruk. Justru saya merasa buruk sekali, kenapa juga saya merasa rugi saat melakukan kebaikan. Bukankah membiasakan diri melakukan kebaikan itu juga demi kebaikan diri sendiri juga.
Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).” (QS. Ar- Rahman: 60)
Justru saya sendiri yang akan rugi jika saya membiasakan diri melakukan hal yang tidak baik, datang terlambat misalnya. Tentu saya akan berdosa jika membuat orang yang menunggu kedatangan saya, kesal karena terlalu lama menunggu saya datang.

Dengan datang terlambat, tentu saya akan merasa serba salah karena keterlambatan tersebut. Lebih baik jika saya yang menunggu dari pada saya yang di tunggu.

Dengan datang tepat waktu, saya bisa lebih santai menikmati keadaan dengan duduk bersantai. Saya juga bisa mengakses internet ataupun mengetik sebuah konten untuk blog saya dikala menunggu kedatangan teman saya.

Disaat teman saya datang, dia minta maaf atas keterlambatannya. Saya tersenyum dan memeluk dia dengan erat. Saya berbisik kepada dia “tidak apa-apa, mari kita berangkat”. Kemudian diapun tersenyum karena hal yang saya lakukan kepadanya.

Sungguh tidak ada kerugian dalam melakukan sebuah kebaikan. Kebaikan sekecil apapun yang kita lakukan, percayalah kita akan mendapat hasil dari kebaikan itu sendiri.

Yuk mari kita menjadi seorang yang menginisiasi kebaikan dari hal-hal kecil, seperti buang sampah ditempatnya, tertib dalam mengantri, datang tepat waktu dan kebaikan-kebaikan kecil disekitar kita.

Baca juga   Kenikmatan yang jarang disadari dan disyukuri oleh kebanyakan orang

Kita awali semua dengan kebaikan dan semoga kebaikan itu bisa menular ke orang disekitar kita. Disaat satu orang melakukan kebaikan, kemudian orang di sebelahnya mengikuti, dan seterusnya sampai semua yang ada di tempat itu melakukan kebaikan yang sama untuk berbagi kebahagiaan.
"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” [QS. Az Zalzalah:7-8].

Pandaan 11 Januari 2018
Dewi'Na Irawan 
Read more »
Tipe-tipe Tamu Undangan Hajatan Pernikahan

Tipe-tipe Tamu Undangan Hajatan Pernikahan

Setelah liburan akhir tahun berakhir, petualangan baru di tahun 2018 dimulai sejak kembali kerutinitas sebuah pekerjaan.

Tahun baru berarti awal yang baru, planning kerja yang baru, target yang baru dan kalau bisa semua hal bisa serba baru. Bagi sebagian orang, Tahun baru bisa menjadi awal yang baik untuk menjalin sebuah hubungan serius dalam indahnya mahligai pernikahan.

Tipe-tipe Tamu Undangan Hajatan Pernikahan

Yah, selain tahun baru identik dengan habisnya uang belanjaan setelah liburan panjang tahun baru. Kini diperparah lagi dengan banyaknya undangan hajatan di awal tahun baru ini. Ada 4 undangan hajatan pernikahan yang saya terima minggu ini.

Ngomong-ngomong soal undangan hajatan, ada hal unik yang saya pelajari saat berada dalam kondangan tersebut. Yaitu uniknya tipe-tipe tamu kondangan yang hadir dalam acara hajatan tersebut.

#1. Tamu Kepagian

Disetiap undangan, pasti sudah ditentukan kapan acara hajatan tersebut dilangsungkan. Dan normalnya, kebanyakan tamu hadir di waktu yang ditentukan, tapi ada sebagian tamu yang merobohkan sebuah aturan. Yaitu datang paling awal.

Paling awal disini bukan hadir tepat acara itu dimulai, justru sebelum acara hajatan tersebut dimulai. Ada saja tamu seperti ini, hajatan yang seharusnya dimulai jam 4 sore, tamu seperti ini malah datang jam 7 pagi.

Alasan mereka beragam, ada yang beralasan sibuk kerja atau kerja masuk sore, bebarengan dengan hajatan lain dan sebagainya.

Dan ada yang lebih unik lagi di daerah saya, banyak diantara tamu undangan, khususnya laki-laki, justru memberi amplop disaat acara walimatul urushi, sedangkan acara hajatannya masih besoknya. Alhasil, dengan banyaknya yang memberi amplop di acara walimatul urushi, kondangan besoknya jadi terlihat sepi dari tamu undangan yang tinggal didesa sendiri.

Baca juga   Keberagaman itu Indah Jika Kita Bijak Menyikapinya

#2. Tamu Terakhir

Tipikal tamu seperti ini ada dua, yang pertama karena terpaksa datang paling akhir karena urusan pekerjaan dan yang satunya iseng karena ingin mengoda pasangan suami istri dengan lebih leluasa.

Normalnya, acara hajatan itu berakhir disekitar jam 9-10 malam. Nah tamu terakhir ini justru datang di jam 11 malam, disaat semua pernak-pernik acara hajatan sudah banyak yang dikemas kembali.

Tujuannya pasti untuk mengoda pengantin baru, juga biar pengantin baru tidak bermesraan terlalu dini. Dulu sewaktu pernikahan saya di acara hajatan suami, disaat saya dan suami sudah masuk kamar dan menghapus riasan, tamu seperti ini hadir hampir jam 12 malam.

Karena saya lelah dan mengantuk, saya berpamitan untuk tidur terlebih dahulu, dan suami saya yang menemani tamu-tamu ini hingga satu jam lebih.

#3. Tamu Zaman Now

Tamu zaman now

Nah, tipikal tamu seperti ini didominasi oleh kaum anak muda yang tak bisa lepas dari pengaruh gadget dan teknologi informasi.

Setelah datang dan menyantap menu makanan yang disediakan di acara hajatan, tipikal Tamu zaman now ini lebih sibuk memperhatikan gadgetnya ketimbang memperhatikan sekelilingnya. Bahkan ada juga disaat tangan kanan pegang sendok untuk menyantap hidangan, tangan kiri sibuk memainkan gadget.

Baca juga   Bunda Zaman Now Itu Seperti Apa?

#4. Tamu Anak Kos-kos-an

Dulu sewaktu menjadi anak kos. Menghadiri acara hajatan seperti ini merupakan cara tepat untuk menikmati berbagai makanan enak dengan biaya yang cukup hemat.

Hanya dengan mengeluarkan uang sekitar 20rb-50rb, kita bisa memilih berbagai menu yang ada di acara hajatan. Apalagi acaranya di selenggarakan di hotel ataupun gedung. Tentu dalam hajatan seperti ini, menu yang ditawarkan cukup bervariasi.

Nah dikesempatan seperti itu, kita sebagai anak kos bisa mencicipi semua menu yang ada di suguhan acara hajatan tersebut. Makan senang, perut kenyang, pulang membawa bingkisan, hehehe :D

#5. Tamu Unknown

Mengahadiri acara hajatan sudah menjadi sebuah adat dalam bangsa ini. Malah bagi sebagian wilayah, hajatan seperti ini jadi seperti investasi ataupun hutang yang harus dibayar.

Maksudnya investasi disini, bagi mereka yang belum menikah, menghadiri hajatan merupakan investasi. Jika suatu saat giliran dia yang menikah, secara otomatis dia akan mendapatkan feedback dari hajatan yang pernah dia kunjungi.

Tapi ada sedikit orang yang tidak mementingkan hal demikian, kebanyakan orang menuliskan nama di sebuah amplop yang berisi uang untuk menghadiri hajatan, agar suatu hari nanti amplop tersebut juga dia terima saat membuat hajatan serupa.

Tamu unknow ini justru tidak menulisi amplop berisi uang itu dengan namanya. Seakan akan dia tidak mengharapkan imbalan lagi.

#6. Tamu Opportunis

tipe tipe tamu kondangan

Tipikal tamu unknow adalah sebutan tamu dengan keikhlasan yang luar biasa, jauh berbeda dengan tipikal tamu oportunis. Tamu opportunis ini juga sama-sama tidak menulis amlop dengan mencantumkan nama. Bedanya berada dinilai uang dari amplop tersebut.

Logikanya, tidak ada batasan dalam memberikan amplop hadiah dalam sebuah hajatan, tapi coba renungkan lagi. Kita rinci dari besarnya pengeluaran dari pemilik hajatan, makanan yang disantap setiap tamu, juga pengeluaran lain seperti sound sistem, aparat dan sebagainya.

Tamu oportunis ini lebih mementingkan “Pokoknya makan”. Sedangkan nilai dari amplopnya jauh dari standart yang ada di satu wilayah. Sebut saja jika standart amplop hajatan berisi sekitar 15rb-20rb minimal. Si Opoportunis ini justru mengisi amplop dengan besaran 5rb rupiah saja.

Dan ironisnya amplop yang berisi besaran uang segitu tidak tercantum nama pemberinya. Bahkan ada juga yang berupa amplop tak berisi (kosong). Kan kasihan juga pemilik hajatannya kalau tipikal tamu opportunis ini banyak yang datang.

Mungkin karena alasan ini, banyak hajatan modern yang mengunakan buku tamu yang ditulis disetiap tamu yang baru hadir di hajatan tersebut. Dengan adanya buku tamu, bisa meminimalisir adanya tamu opportunis seperti ini.

Baca juga   7 Macam Hal Jorok Yang Biasa Dilakukan Cowok Yang Jarang Diketahui Wanita

***

Dari berbagai tipe tamu undangan yang saya sebutkan, tipe tamu undangan mana yang sering kalian jumpai? Jika tidak keberatan, coba deh di share di kolom komentar, atau mungkin ada tipikal tamu undangan lain menurut kalian?


Pandaan, 09 Januari 2018
Dewi'Na Irawan

Read more »
Problematika Wanita Yang Sudah Menikah, Antara Tetap Bekerja Atau Mengurus Keluarga

Problematika Wanita Yang Sudah Menikah, Antara Tetap Bekerja Atau Mengurus Keluarga

Haruskah seorang wanita yang sudah menikah bekerja? Bukankah suami yang seharusnya mencukupi kebutuhannya? Lalu buat apa wanita diperbolehkan sekolah hingga ke perguruan tinggi dan bahkan terkadang prestasinya lebih baik dari laki-laki?!

Sekelumit pertanyaan tersebut membuat dilema seorang muslimah yang sudah menikah dan sudah dikaruniai keturunan. Dua pilihan antara tetap bekerja atau mengurusi keluarga, menjadi pilihan yang dirasa berat untuk memutuskannya.


Antara Bekerja Atau Mengurus Rumah Tangga

Beberapa hari yang lalu ada percakapan menarik di group alumni SMA di WhatsApp. Pembahasannya tentang wanita yang bekerja. Tentu saja ada yang pro dan ada yang kontra tentang hal ini.

Salah satu teman saya, sebut saja Dupan, dia salah satu orang yang kontra dengan wanita yang bekerja sedangkan suaminya juga masih bekerja.

Menurut Dupan, Selama suami yang merupakan imam keluarga masih mampu menafkahi keluarganya, adalah hal yang mudharat jika istri ikutan untuk bekerja juga. Istri seharusnya tetap berada dalam rumah menjaga rumah, anak-anaknya dan harta suaminya.

Seandainya istri bekerja, anak-anaknya siapa yang mengasuh dan mengawasi?”, “Jika istri bekerja, apakah mampu menjaga kewajiban istri sementara rasa lelah pasti akan menghampiri disetiap pulang kerja?” Ujar Dupan di perbincangan group WhatsApp.

Baca juga  Iniloh alasan mengapa jadi wanita itu tidak mudah

Wanita Yang Sudah Menikah Sebaiknya Bekerja Atau Dirumah?

Hendaklah kalian (para istri) tetap di rumah kalian” (QS. Al-Ahzab:33).

Idealnya sebuah keluarga itu terdapat kepala keluarga yang mampu menanggung urusan diluar rumah seperti mencari nafkah dan seorang istri yang bertanggung jawab penuh tentang urusan dalam rumah.

Jika keduanya menerapkan dan memahami aturan tanggung jawab tugas masing-masing, niscaya dalam keluarga tersebut akan terbangun sebuah ketentraman lahir dan batin dalam keluarga.

Tapi pada kenyataanya, kehidupan tidak selalu seperti itu. Terkadang ada kepala keluarga yang sudah bekerja, tapi penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan keluarganya. Dan untuk mengatasi hal tersebut, pada akhirnya istri ikut bekerja untuk membantu perekonomian keluarga.

Bolehkah Wanita Yang Sudah Menikah Bekerja?


Tentu saja boleh. Dalam islam pun tidak melarang wanita yang sudah bersuami untuk tetap bekerja, tapi tetap dengan beberapa syarat.

Dupan juga mengatakan hal demikian, bahwa sah-sah saja wanita bekerja selama suami mengizinkan istrinya untuk bekerja. Tapi akan ada banyak mudharatnya ketika istri memutuskan untuk bekerja, seperti berkurangnya keberkahan rezeki dalam keluarga .

Dupan menjelaskan tentang beberapa hal perhitungan rezeki, seperti berikut:
Suami bekerja + istri dirumah = Rezeki 100%
Suami bekerja + Istri bekerja = Rezeki 100%
Dari perhitungan tersebut, sebenarnya istri bekerja atau tidak, rezeki dalam keluarga itu tetap 100%. Jadi kenapa harus bekerja kalau sama-sama pendapatan keluarga itu tetap, Lanjut Dupan.

Saya sih sependapat dengan Dupan, tapi tidak serta merta memakan mentah-mentah rumus yang di jelaskan oleh Dupan. Permasalahannya, kita tidak pernah tau bahwa rezeki keluarga 100% ini bisa didapatkan cukup dengan suami saja yang bekerja atau harus dengan istri yang bekerja?

Menurut saya, bukan masalah istri bekerja atau tidak. Logikanya jika suami bekerja sendiri maka gajinya sekian juta, tapi jika istri ikut bekerja maka penghasilan keluarga akan bertambah juga kan.

Tapi banyak juga yang mengatakan bahwa penghasilan suami bekerja sendiri ataupun dibantu dengan penghasilan istri bekerja, pemenuhan kebutuhan sehari-hari tetap saja sama. Sebenarnya bukan tetap sama, tapi kebutuhan hidupnya yang meningkat.

Seperti disaat istri tidak bekerja, dia akan membeli bedak yang seharaga 50 ribu. Tapi disaat istri bekerja, karena merasa penghasilannya sendiri, dia memutuskan untuk membeli bedak seharga 300 ribu.

Nah jelas kan!
Seberapapun besarnya gaji suami bekerja sendiri, maupun gaji suami bekerja bersama istri, rezeki yang didapat tetap 100% rezeki satu keluarga. Cukup atau tidaknya dalam memenuhi kebutuhan keluarga, tergantung bagaimana memanagenya
Dewi Nadzifah
Perihal Diri

Mending Mana, Wanita Tetap Bekerja Atau Mengurus Keluarga?

Kalau menurut saya, Wanita atau istri tetap wajib mengurusi keluarganya, terlepas dia bekerja maupun tidak. Karena mengurus keluarga adalah bagian dari kewajiban seorang istri, maka lebih baik jika urusan cari nafkah dipercayakan kepada suaminya.

Alasan seorang wanita yang sudah menikah dan mempunyai anak tetap bekerja bermacam-macam. Salah satunya adalah perihal ekonomi.

Dalam beberapa hal, wanita bekerja juga sangat dianjurkan, jika perekonomian keluarga bisa stabil dengan adanya istri bekerja. Karena salah satu keharmonisan keluarga itu dipengaruhi oleh perekonomian yang stabil.

Misalnya gini, seorang suami yang bekerja sendiri dengan menanggung beban kehidupan keluarga sehari-hari, juga untuk membayar tagihan rumah maupun kendaraan bermotor. Karena adanya hal tersebut, membuat perekonomian keluarga menjadi besar pasak dari pada tiang.

Situasi seperti ini biasanya menyebabkan stress berlebih yang dapat memicu kemarahan saat ada beberapa persoalan kecil dalam keluarga. Tentu keharmonisan keluarga akan sulit dicapai dengan keadaan seperti itu.

Alasan lainnya muslimah yang sudah menikah tetap bekerja adalah untuk mengatasi rasa bosan dengan rutinitas mengurusi pekerjaan rumah tangga. Atau dengan bekerja, status dan pergaulan seorang muslimah akan lebih baik dari pada menjadi ibu rumah tangga saja.

Menurut saya, selama muslimah tetap bisa bekerja dan memanage pekerjaan rumah tangga dengan baik tanpa mengurangi hak anak dan suami, itu sah-sah saja. Tapi itu tidak segampang kelihatannya.

Baca juga  Wanita harus tegas, antara halalkan atau tinggalkan

Hal-hal Yang Perlu Di Perhatikan Jika Istri Ingin Bekerja

   #1. Izin suami

Hal pertama yang perlu diperhatikan istri saat ingin bekerja adalah izin dari suami. Apapun keputusan suami adalah titah bagi kita sebagai seorang istri. Karena ridho suami sejalan dengan Ridho ilahi.

   #2. Pekerjaan Yang Baik Untuk Wanita

Jika memungkinkan, pilihlah pekerjaan yang sesuai tabi’at seorang wanita. Pekerjaan itu seperti menjadi seorang guru, perawat, dokter dan lain sebagainya. Intinya bukan pekerjaan yang mengunakan otot seperti tukang batu dan sebaginya.

   #3. Pekerjaan Yang Tidak Memberatkan Kewajiban Istri

Pekerjaan tersebut tidak menganggu kewajiban utama dalam mengurusi pekerjaan rumah. Memang terlihat mustahil untuk melakukannya, terkecuali pekerjaan tersebut dilakukan dirumah. Tapi bagi yang bekerja di luar rumah, tentu pekerjaan rumah seperti mengurusi anak tetap akan terbengkalai disaat menjalankan pekerjaan tersebut.

Dalam hal ini, peran suami harus bisa mendukung minimal dalam membackup tugas istri di rumah saat ditinggal kerja. Karena keharmonisan keluarga bukan perihal kekakuan dalam pembagian tugas dan kewajiban seorang istri ataupun suami, tapi keharmonisan keluarga tercipta disaat keduanya saling memahami dan mengerti tanggung jawab masing-masing serta saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam pelaksanaanya.

   #4. Tetap Berpegang Teguh Pada Akidah

“Katakanlah (wahai Muhammad), bekerjalah kalian! maka Alloh, Rasul-Nya, dan para mukminin akan melihat pekerjaanmu“ (QS. At-Taubah:105)

Dalam perintah Allah tersebut diserukan bagi seluruh ummat-Nya tanpa terkecuali, tidak menutupi bagi seorang wanita yang bekerja.

Tapi bekerja yang bagaimana?

Dengan menyandang status menjadi seorang istri, disaat bekerja diluar rumah hendaknya tetap berpegang pada akidah, misalnya tetap menjaga pandangannya, tidak berkata lembut kepada pria yang bukan mahromnya, memakai pakaian yang baik sesuai syariat agama dan sebagainya.

Pandangan Islam Tentang Wanita Yang Sudah Menikah Bekerja


Islam sebagai agama yang sempurna dan komplit memberikan petunjuk bagaimana sebaiknya muslimah bekerja. Tidak hanya batasan mengenai pekerjaan apa yang baik, apa yang harus dihindari, dan bagaimana kewajiban muslimah yang sudah menikah bekerja

Tugas utama yang harus dijalankan oleh seorang muslimah yang telah menjadi istri dan ibu adalah mengurus rumah tangga, mendidik anak, menjaga harta suami, menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah yang tak kalah beratnya dari pekerjaan suami untuk memenuhi nafkah.

Seorang istri tidak memiliki kewajiban untuk turut mencari nafkah, karena kewajiban ini telah dibebankan kepada suami. Maka ditakutkan jika istri bekerja diluar rumah, hak-hak suami dan anak menjadi terbengkalai, dan karena alasan ini ditakutkan keberkahan dalam keluarga menjadi berkurang.

Baca juga   Aku tak mau menjadi bunga yang indah tapi murahan

Kadang terbesit dalam pikiran, mengapa Islam terkesan sangat mengekang seorang wanita?

Sebenarnya bukan mengekang, hanya saja, itu sudah aturan yang dibuat oleh Allah Subhanahu wata’ala agar wanita bisa menjadi muslimah yang baik. Kebebasan seperti wanita barat dalam berkarir justru bisa merusak tatanan dalam masyarakat.

Coba tenggok secuil pengakuan orang barat sendiri tentang sebab rusaknya tatanan masyarakat di ranah barat sana.

“Andai para pembaca mau melihat keadaan wanita di zaman yunani kuno, tentu anda akan dapati mereka dalam kondisi yang dipaksakan dan menyelisihi fitrahnya, dan tentunya anda akan sepakat denganku, tentang wajibnya menyibukkan wanita dengan tugas-tugas dalam rumah, dibarengi dengan perbaikan gizi dan pakaiannya, dan wajibnya melarang mereka untuk campur dengan laki-laki lain” By. Lord Byron 
"Sungguh aturan yang menyuruh wanita untuk berkarir di tempat-tempat kerja, meski banyak menghasilkan kekayaan untuk negara, tapi akhirnya justru menghancurkan kehidupan rumah tangga, karena hal itu merusak tatanan rumah tangga, merobohkan sendi-sendi keluarga, dan merangsek hubungan sosial kemasyarakatan, karena hal itu jelas akan menjauhkan istri dari suaminya, dan menjauhkan anak-anaknya dari kerabatnya, hingga pada keadaan tertentu tidak ada hasilnya kecuali merendahkan moral wanita, karena tugas hakiki wanita adalah mengurus tugas rumah tangganya…" By. Samuel Smills 
 “Sesungguhnya sebab terjadinya krisis rumah tangga di Amerika, dan rahasia dari banyak kejahatan di masyarakat, adalah karena istri meninggalkan rumahnya untuk meningkatkan penghasilan keluarga, hingga meningkatlah penghasilan, tapi di sisi lain tingkat akhlak malah menurun… Sungguh pengalaman membuktikan bahwa kembalinya wanita ke lingkungan (keluarga)-nya adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan generasi baru dari kemerosotan yang mereka alami sekarang ini”. (lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, jilid 1, hal: 425-426) By. Dr. Iidaylin 

Bagaimana mereka yang obyektif mengakui imbas dari buruknya wanita yang bekerja dan berkarir di tanah barat.

Islam tidak melarang seorang wanita untuk bekerja, namun ada beberapa kekhawatiran seiring dengan semakin banyaknya wanita yang memutuskan untuk tetap bekerja dan mengejar karir di luar rumah.

Beberapa dampak negatif yang timbul salah satunya keharmonisan keluarga yang terpecah akibat suami dan istri sibuk bekerja sementara anak-anaknya menjadi terlantar. Istri menjadi terlalu lelah karena konsentrasi yang terbagi antara beban pekerjaan di luar rumah dan juga dirumah. Takutnya hak suami terhadap istri terabaikan karena alasan lelah dan semacamnya.

Ladang pahala istri adalah dengan berbakti kepada suami, jika memang membantu suami mencari nafkah demi mencukupi kebutuhan keluarga adalah bakti seorang istri terhadap suami, dengan tetap berpegang teguh kepada akidah, maka sah-sah saja istri bekerja diluar rumah.

Ketika seorang istri bekerja, ia akan memiliki penghasilan sendiri dan penghasilan yang dimiliki oleh istri adalah hak sepenuhnya istri untuk menggunakannya, karena kewajiban untuk memberikan nafkah hanya ada pada suami. Namun, istri yang memberikan penghasilannya untuk keperluan keluarga dan rumah tangga terhitung sebagai sedekah. Dan jika ada kesepakatan antara suami istri untuk turut bersama memenuhi kebutuhan keluarga di atas prinsip kasih sayang adalah solusi yang terbaik.

Baca juga  Islam memuliakan wanita sebagai perhiasan terindah di dunia


Kesimpulan Ala Dewi Nadzifah Perihal Istri Yang Bekerja

Semua itu tergantung bagaimana niat kita diawal disaat memutuskan untuk bekerja, jika kita meluruskan niat untuk membantu suami mencari nafkah guna meningkatkan taraf hidup yang lebih baik dalam membangun mahligai rumah tangga. Hal demikian juga merupakan pahala yang besar bagi kita.

Jika pekerjaan yang kita jalankan memberatkan kewajiban kita sebagai ibu rumah tangga, maka tinggalkan saja pekerjaan tersebut dan carilah lagi yang lebih baik tanpa merusak pemenuhan kewajiban kita kepada keluarga. Karena pada dasarnya istri bekerja itu MEMBANTU suami, bukan menjadi tulang punggung keluarga (Kecuali Suami sedang sakit dan tidak bisa bekerja).

Jadi bekerjalah setulus hati ukhti ^_^
Segala tindakan yang kita lakukan (bekerja) selama itu baik, maka kerjakanlah dengan setulus hati. Islam tidak pernah memberatkan dan mengekang pemeluknya, Islam memberi tuntunan dan tata cara mengerjakan dengan sabaik-baiknya. Baik buruknya tindakan yang kita lakukan bukan dilihat dari sudut pandang manusia, tapi diukur dengan bagaimana ketakwaan kita kepada Allah Subahanahu Wata’ala
Dewi Nadzifah
Perihal Diri


Pandaan 16 Desember 2017
Dewi’Na Irawan


Sumber Referensi:
https://konsultasisyariah.com/520-bolehkah-wanita-bekerja.html
https://eramuslim.com/akhwat/muslimah/untuk-siapa-wanita-bekerja.htm
Read more »

Islam

Parenting

Blogging