Perlukah Seorang Istri Mempunyai NPWP?


Source image : merahputih.com

Apakah seorang istri yang bekerja perlu NPWP? Tentu saja perlu.
Pajak penghasilan bagi orang pribadi yang tidak memiliki NPWP lebih tinggi 20% dari tarif pajak seharusnya. Beberapa program, contohnya insentif pajak, mensyaratkan penerimanya memiliki NPWP.

Lantas apakah seorang istri perlu mempunyai NPWP sendiri? Tunggu dulu, ini pertanyaan lain. Mari kita bahas!

Pada dasarnya peraturan perpajakan di Indonesia menganggap penghasilan dalam satu keluarga adalah satu kesatuan. Pemenuhan kewajiban perpajakannya dilakukan oleh kepala keluarga. Hal ini berarti bahwa kepemilikan NPWP cukup diwakili oleh kepala keluarga.

Lantas apakah hal tersebut berarti seorang istri bisa menggunakan NPWP suami? Ya, bisa.

Apakah tidak akan dikenakan pajak penghasilan lebih tinggi? Ya.

Istri bisa menggunakan NPWP suami untuk kepentingan perpajakannya. Istri juga dapat meminta ke Direktorat Jenderal Pajak (DJP) melalui kantor pelayanan pajak (KPP) untuk mendapatkan kartu NPWP suami istri. Dalam satu kartu NPWP terdapat nama suami dan istri.

Keuntungannya adalah lebih praktis. Cukup suami yang melapor SPT Tahunan. Bila istri bekerja maka penghasilannya akan dimasukkan ke dalam pelaporan SPT Tahunan suami. Bila sebelumnya istri sudah memiliki NPWP sendiri maka bisa mengajukan penghapusan NPWP.

Saya (istri) tetap masih ingin mempunyai NPWP sendiri, apakah bisa? Tentu saja bisa.

Meskipun pajak menganggap penghasilan satu keluarga sebagai satu kesatuan namun terdapat 3 (tiga) hal yang memungkinkan istri mempunyai NPWP sendiri.

1. Hidup Berpisah

Jika suami dan istri hidup berpisah karena putusan hakim maka istri bisa mendapatkan NPWP sendiri.

2. Perjanjian Pisah Harta

Kondisi kedua yang memungkinkan suami dan istri memiliki NPWP terpisah adalah jika mereka melakukan perjanjian harta secara tertulis .

3. Memilih Terpisah

Kondisi ketiga adalah saat istri mengajukan status memilih terpisah. Artinya istri ingin memiliki NPWP sendiri dan memenuhi kewajiban perpajakannya sendiri meskipun tidak ada perjanjian pisah harta. 

Source image : jawapos.com

Pada ketiga kondisi tersebut di atas istri harus melaporkan SPT Tahunannya. Penghitungan pajak pada SPT Tahunannya pun menjadi berbeda.

Pada kondisi Pisah Harta dan Memilih Terpisah saat menghitung pajak penghasilan penghasilan suami dan istri harus digabung terlebih dahulu. Kemudian pajak penghasilan gabungan dibagi secara proporsional (berdasarkan penghasilan bersih) kepada suami dan istri untuk dilaporkan di SPT Tahunan masing-masing.

Pada akhirnya mempunyai NPWP sendiri bagi seorang istri adalah sebuah pilihan.

Mana yang lebih baik? Sendiri atau terpisah?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut ada beberapa hal yang harus dilihat. Salah satunya jenis pekerjaan istri.

Jika istri bekerja sebagai pegawai/karyawan yang penghasilannya sudah dipotong perusahaan maka menggabungkan NPWP dengan suami adalah langkah cerdas. Istri tidak akan terbebani dengan kegiatan administrasi seperti laporan SPT Tahunan. Penghasilannya cukup dimasukkan pada satu kolom di SPT Tahunan suami dan tidak akan mempengaruhi jumlah pajak yang dibayar suami.

Bagaimana jika istri bekerja sebagai freelancer? Agen asuransi misalnya? Atau dokter yang membuka praktek sendiri? Istri bisa mempertimbangkan untuk mempunyai NPWP sendiri. Namun (dalam kasus kedua ini) untuk memilih mana yang terbaik harus dengan membuat simulasi penghitungan pajak penghasilan suami dan istri. 

Ingin mempelajari NPWP suami dan istri ini lebih dalam? Saya berikan tipsnya. Bahasan ini masuk ke dalam bahasan pajak mengenai status kewajiban perpajakan suami istri. Jika kamu googling di internet ada banyak sekali contoh kasus yang mungkin mirip dengan kondisimu saat ini sehingga bisa kamu pelajari.

Oke, semoga artikel ini bisa sedikit menambah pengetahuanmu mengenai pajak. Jangan sungkan untuk menulis atau bertanya di kolom komentar. Sampai jumpa lagi! 

Tulisan ini adalah kiriman dari penulis tamu wahyu agung

Perlukah Seorang Istri Mempunyai NPWP?