Pengalaman Pertama Order Ojek Online Sendiri

Pengalaman Pertama Order Ojek Online Sendiri
Source image by tribunnews.com

Sebagian besar masyarakat di daerah saya sudah terbiasa menggunakan layanan ojek pangkalan untuk aktifitas hariannya. Selain memang ojek pangkalan merupakan satu-satunya transportasi yang masih bertahan sejak dulu hingga sekarang, pengemudi ojek pangkalan juga sudah tersebar di tiap sudut gang. Jadi cukup memudahkan kita untuk mau pergi kemana saja. 

Namun satu tahun belakangan ini, munculah transportasi modern yang siap menyaingi ojek pangkalan ini. Transportasi tersebut adalah ojek online.

Sejujurnya saya sendiri jarang sekali naik ojek pangkalan, karena suami saya siap mengantar saya kemana saja. Disaat suami kerja, Ada bapak mertua saya yang juga mau mengantar saya.

Hanya saja satu tahun ini, bapak mertua kondisinya sering tidak enak badan. Jadi saya kurang enak untuk minta dianterin ke tempat kerja misalnya. Sedangkan untuk menggunakan ojek pangkalan, saya harus jalan setidaknya sampai depan gang. Itupun kadang saya nunggunya lama hingga dapat ojek.

Kemudian suami menyarankan saya untuk menggunakan jasa ojek online, disaat suami tidak bisa mengantar saya karena kerja.

Awalnya saya menolak karena ribet, diajari beberapa kali juga saya masih binggung. Akhirnya minta diorderkan saja melalui aplikasi di handphone suami. Belum sempat diorderkan, kakak ipar saya menawarkan untuk mengantar karena searah dengan tujuannya. Jadi akhirnya pesan gojeknya tidak jadi.

Selang beberapa lama, akhirnya saya memutuskan ingin mencoba pesan Gojek sendiri. Alasannya, saya tidak ingin merepotkan keluarga yang lainnya dan berharap ada yang mau mengantar saya kembali.

Saya mengikuti intruksi yang pernah diajarkan suami saat pesan Go-Ride. Go-Ride adalah layanan antar jemput penumpang di aplikasi Gojek.

Kata suami, lebih mudah menentukan tujuan dengan mengetikkan alamat sebuah toko atau perusahaan dari pada menentukan lokasi menggunakan peta. untuk lokasi jemput, itu sudah otomatis mendeteksi lokasi kita berada.

Setelah saya ketikkan alamat perusahaan saya, ternyata namanya ada. Saya pilihlah alamat tersebut. Saya cek harga tarifnya, dan ternyata jauh lebih murah dari pada yang pernah saya bayarkan ke tukang ojek pangkalan.

Biasanya saya membayar ke tukang ojek pangkalan sebesar 20.000, namun tarif di aplikasi gojek ini cuma 14000. Murah banget kan?

Mungkin karena alasan tersebut, saya sering mendengar banyak bentrokan antara ojek pangkalan dengan ojek online. Mungkin mereka (ojek pangkalan) merasa tersaingi dengan adanya ojek online ini, mengingat harga tarifnya yang lebih murah.

Ojek pangkalan merasa takut dengan adanya ojek online ini, mangsa pasarnya menjadi berkurang. Padahal menurut saya, banyak kok pelanggan yang masih lebih menyukai ojek pangkalan, terlebih bagi mereka yang setiap hari bekerja di pasar.

Setelah pesan dan mendapatkan seorang driver, saya chatting dengan driver tersebut dan mengkonfirmasi posisi saya.

Saya menunggu beberapa menit, kemudian driver kembali chat saya. “Saya sudah sampai sesuai lokasi di map” ketiknya.

Sebenarnya dari tadi saya sudah berada di depan sambil nunggu drivernya, tapi kok drivernya tidak ada? Katanya sudah sampai. Saya tengok kanan kiri, tidaka da pengemudi motor yang melewati tempat saya dari tadi.

Saya chat balik dengan bilang “Saya sudah di depan dari tadi? Bapaknya di mana?”. Kemudian driver tersebut telpon ke nomer hanphone saya. Ternyata posisi GPS saya tidak sesuai dengan posisi saya.

Saya kira, saya cukup memasukkan alamat tujuannya saja, dan lokasi jemputnya otomatis menginkuti lokasi GPS saya berada. Ternyata tidak!

Lokasi GPS saya melenceng beberapa ratus meter dari lokasi saya berada. Akhirnya saya jalan deh menuju lokasi drivernya berada.

Setelah jalan beberapa meter, saya dikagetkan dengan seseorang yang memanggil nama saya dan menunjukkan handphonenya. Awalnya saya sedikit nyengir dan bertanya-tanya kenapa pengemudi ini memanggil nama saya. Tau dari mana coba?

Saya driver gojek yang mbak pesan, Mbaknya mbak Nadzifah kan”. Kata beliau, laki-laki separuh baya dengan wajah yang cukup sangar menurut saya, namun tutur katanya cukup sopan dan berwibawa.

Akhirnya saya tidak harus jalan terlampau jauh karena bapak drivernya dengan baik hati menjemput saya. Selain itu, saya sedikit bingung, karena seingat saya, driver gojek kan harus pakai jaket hijau kan? Lah kenapa ini dia pakai jaket biasa?

Saya kan penasaran, jadi ditengah jalan saya bertanya soal jaket itu kepada drivernya. Ternyata itu sudah kesepakatan driver yang tengah berada di zona merah.

Zona merah adalah zona khusus yang rawan bentrok dengan transportasi konvensional semacam becak atau ojek pangkalan. Jadi untuk mengantisipasi hal tersebut, driver ojek online berkamuflase dengan tidak menggunakan atribut seperti standart seorang ojek online.

Beliau bercerita panjang lebar tentang suka dukanya menjadi driver ojek online di zona merah ini. Saya menyadari sulitnya bapak yang satu ini, mengingat jumlah ojek pangkalan juga sangat banyak di daerah saya, bahkan tiap gang selalu ada ojek pangkalan.

Akhirnya saya tiba sampai tujuan dengan selamat, saya membayar bapak tersebut seperti saya membayar tukang ojek pangkalan, yakni 20.000. Saya juga meminta maaf karena lokasi pejemputan tidak sesuai dengan di aplikasi, hingga bapaknya kebingungan mencari lokasi saya.

Beliau juga mengucapkan terima kasih, bahkan mau mengembalikan kembalian uang dari tarif gojeknya namun saya menolaknya. Saya rasa harga segitu udah cukup pantas mengingat perjalanan menuju tempat kerja saya juga cukup jauh bagi saya.

Yah begitulah perjalanan pertama saya menggunakan ojek online. Kalau sekarang, saya sudah cukup sering sih, kalau suami tidak bisa antar. Tidak hanya untuk Go-Ride saja, kadang saya juga pesan makanan dan rajin isi gopay karena sering dapat promo untuk belanja di alfamart, hehehe.

Kalau kalian? Ada yang berkesan tidak saat pertama kali pesan Ojek online?


Dewi Na’Irawan 

Pengalaman Pertama Order Ojek Online Sendiri