Jangan Menyesal Bergelar Sarjana Meskipun Akhirnya Jadi Ibu Rumah Tangga

Dewi, gimana kabarmu? Lama loh kita tidak ketemu, kamu kerja dimana sekarang?” tanya seorang teman SMP yang kebetulan berjumpa disalah satu tempat perbelanjaan.”Iya nih lama tidak berjumpa, saya sudah tidak bekerja sekarang, sibuk ngurusin anak dirumah, kalau kamu kerja dimana? Tambah cantik saja nih” jawabku sambil tertegun mengingat dia ini siapa, hehehe.

Sumber gambar islamidia.com
Teman saya ini jauh berbeda tampilannya ketimbang saat masih SMP dulu, ah jelas lah, kita tak pernah ketemu sudah hampir 10 tahun lamanya, wajar saja saya sempat beberapa detik tidak mengenalinya. Kita sempat bercerita lama sambil mencari barang di perbelanjaan tersebut, hingga akhirnya teman saya menanyankan tentang suatu hal.

Kenapa kamu tidak cari kerja lagi aja Wi, kan sekarang anakmu sudah sedikit lebih besar, kamu kan sudah sarjana, banyak loh perusahaan sekarang yang membutuhkan lulusan diploma atau sarjana” tanya temanku. “Entahlah, saya masih belum kepikiran kesana” jawabku singkat.

Dia kaget loh dengan jawaban saya, seperti banyak tanda tanya besar di pikirannya. “Kenapa? Eman (baca : Sangat disayangkan) loh Wi dengan ijazahmu”. Saya tak mengucap apapun hanya melontarkan senyum kepadanya.

Sebenarnya tidak satu kali ini saja, saya mendengar pertanyaan serupa, pertanyaan yang menanyakan tentang ijazah yang saya miliki itu untuk apa? Pertanyaan tentang 4 tahun lamanya waktu, tenaga dan harta yang saya korbankan untuk belajar di perguruan tinggi, kalau ujungnya ijazah tersebut tidak dipergunakan sama sekali.

Baca juga  :  Tidak ada kerugian disaat melakukan kebaikan

Memang sangat disayangkan, tapi bukan berarti tidak berguna sama sekali. Mungkin suatu hari nanti saya akan pergunakan, entah untuk melamar menjadi guru atau hal lainnya, yang penting atas izin suami. Tapi untuk sekarang, saya menikmati pekerjaan saya menjadi full mom untuk anak-anak saya.

Kalau ditanya menyesal dengan kuliah, karena ujungnya harus jadi Ibu rumah tangga?

Tentu saja tidak.

Ada banyak hal berharga yang saya rasakan disaat saya menuntut ilmu di perguran tinggi. Memang saya harus memeras tenaga, otak dan membagi finansial yang saya miliki untuk kuliah tersebut, karena saya kuliah sembari bekerja purna waktu saat itu.

Saya memutuskan sendiri untuk kuliah, karena menurut saya kuliah (menuntut ilmu) itu penting. Tidak ada motivasi khusus jika saya kuliah, saya akan memiliki karier yang bagus. Tidak! Saya tidak berfikir demikian, meskipun banyak orang yang memutuskan kuliah dengan tujuan agar memiliki karier yang bagus.

Bagi saya, seorang wanita itu penting untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, meskipun pada akhirnya kita sebagai istri akan menjadi ibu rumah tangga. Alasannya karena :

#1. Dengan Kuliah Kita Berkesempatan Untuk Mengenal Dunia Lebih Dalam

Tak perlu kita berkeliling dunia untuk mengetahui informasi suatu daerah, dengan buku semua itu bisa saja kita ketahui. Sekarang lebih extreem lagi, dengan bantuan internet kita cukup mengetik nama suatu daerah, semua informasi sudah tersedia didalamnya.

Dengan kuliah, kita bisa mempelajari ilmu yang kita dapat dari SMA dengan sangat detail. Misalnya disaat SMA kita diajarkan tentang perkalian sumbuh x dan y mengunakan rumus bal bla bla. Tapi di perguruan tinggi, kita bisa mengerti lagi bagaimana rumus ini berasal.

#2. Dengan Kuliah Kita Akan Mendapat Sahabat Dari Berbagai Suku Dan Budaya

Sumber gambar dari kompasiana.com
Disaat SMA, teman saya paling jauh cuma berbeda kabupaten, misal saya sekolah di kabupaten Pasuruan, saya memiliki teman di daerah Sidoarjo maupun Malang. Sedangkan disaat kuliah, saya bertemu orang Surabaya, Ngawi, bahkan ada yang dilur pulau (NTT, NTB dan Lombok). 

Memiliki teman dari berbagai suku dan budaya itu semacam menemukan hal baru yang selalu membuat penasaran. Saya sering menanyai salah satu teman dari lombok tentang bagaimana keadaan dan budaya disana.

Meskipun saya tidak pernah pergi ke Lombok, sedikit banyak saya bisa membayangkan keadaan disana saat teman saya ini bercerita tentang kampung halamannya. Jika seandainya ada kesempatan berkunjung kesana, saya sudah memiliki tour guide khusus yang sudah sangat saya kenal sebelumnya, hehehe.

Baca juga   :  Keberagaman itu indah jika kita bijak menyikapinya

#3. Dengan Kuliah, Kita Akan Mendapatkan Pengalaman Berharga

Yang tidak pernah kuliah pasti tidak akan pernah tau ribetnya skripsi, Saya beruntung pernah merasakan hal itu. Siang malam memikirkan tugas skripsi yang tak kunjung kelar, sementara deadline semakin dekat mengejar. Tidur tidak nyenyak dan makanpun jadi tidak beraturan.

Jika biasanya saya sering menolak perhatian seseorang, sekarang justru saya yang sering ditolak oleh dosen pembimbing. Berkali-kali izin tidak masuk kerja agar supaya bertemu pembimbing, nyatanya tiap kali kesana justru tidak berjumpa. Ah kesal.

Tapi itu pengalaman yang luar biasa yang bisa saya miliki. Dan semua itu tidak akan saya rasakan jika saya tidak pernah kuliah.

#4. Ingat! Wanita Adalah Madrasah Pertama Bagi Anaknya

Sumber gambar dari Vebma.com
Tidak ada kata menyesal dalam berjuang menuntut ilmu. Meskipun disaat kuliah mengambil jurusan informatika, namun justru bekerja menjadi karyawan biasa. Bukan berarti ilmu yang kita dapat tidak berguna, suatu saat kita akan mengambil hikmah dari apa yang sudah kita perjuangkan. 

Sama seperti wanita dengan ijazah sarjana yang memutuskan menjadi Ibu rumah tangga. Bukan tidak ada manfaatnya kuliah, ijazah hanya selembar kertas, dan ilmu tidak bisa diukur hanya dari selembar kertas tersebut.

Suatu saat ketika kita sudah menjadi seorang ibu yang memiliki anak, kita kan membutuhkan ilmu tersebut untuk mengajari anak-anak kita nantinya. Karena Ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya.

Baca juga  :  Problematika wanita yang sudah menikah, antara tetap bekerja atau mengurus keluarga

#5. Gelar Sarjana Juga Akan Jadi Motivasi Sendiri Untuk Meningkatkan Pendidikan Anak Lebih Baik Lagi

Saya dulu sering minder kalau ditanya atau menuliskan tentang pekerjaan orang tua dan pendidikan terakhir orang tua saya. Dengan keadaan tersebut saya tidak bermimpi untuk bisa sekolah sampai perguruan tinggi. Lulus SMA akhirnya saya memutuskan untuk bekerja.

Dengan pengalaman tersebut, saya ingin anak saya menilai bahwa orang tuanya saja sekolah sampai perguruan tinggi, berarti dia harus memiliki minat untuk melampaui orang tuanya. Bagi saya sendiri, dengan gelar sarjana ini memotivasi saya untuk mensekolahkan anak saya hingga ke perguruan tinggi nantinya.

Saya ingin anak saya mendapat pengalaman serta ilmu pendidikan yang lebih baik. Karena menurut saya, orang yang berakhlak baik itu bagus, tapi lebih bagus lagi jika orang berakhlak baik dengan wawasan yag luas dan pendidikan yang tinggi.

**** 

Jangan bersedih dan menyesal jika gelar sarjana kalian berakhir di kepulan asap dapur. Ijazah hakekatnya hanya selembar kertas yang tak berarti apa-apa, sedangkan ilmu itu pasti. Kita (wanita) adalah madrasah pertama bagi anak-anak kita nantinya, jadi tetaplah berjuang dalam menuntut ilmu meskipun pada akhirnya kita akan berteman dengan peralatan dapur.


Pandaan, 24 Februari 2018
Dewi'Na Irawan

Jangan Menyesal Bergelar Sarjana Meskipun Akhirnya Jadi Ibu Rumah Tangga
  1. aaakkk.... setuju banget Mba..
    Kita kuliah ya memang demi perkembangan cara pikir kita. Seenggaknya kita bukanlah orang yang bisa dibodohi. Apalagi kecerdasan seorang anak itu diturunkan dari seorang Ibu.

    Suka banget sama artikelnya Mba..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mbak...
      Untuk perkembangan pola pikir kita biar tidak mudah di bodohi, hihihih

      Delete