Problematika Wanita Yang Sudah Menikah, Antara Tetap Bekerja Atau Mengurus Keluarga

Haruskah seorang wanita yang sudah menikah bekerja? Bukankah suami yang seharusnya mencukupi kebutuhannya? Lalu buat apa wanita diperbolehkan sekolah hingga ke perguruan tinggi dan bahkan terkadang prestasinya lebih baik dari laki-laki?!

Sekelumit pertanyaan tersebut membuat dilema seorang muslimah yang sudah menikah dan sudah dikaruniai keturunan. Dua pilihan antara tetap bekerja atau mengurusi keluarga, menjadi pilihan yang dirasa berat untuk memutuskannya.


Antara Bekerja Atau Mengurus Rumah Tangga

Beberapa hari yang lalu ada percakapan menarik di group alumni SMA di WhatsApp. Pembahasannya tentang wanita yang bekerja. Tentu saja ada yang pro dan ada yang kontra tentang hal ini.

Salah satu teman saya, sebut saja Dupan, dia salah satu orang yang kontra dengan wanita yang bekerja sedangkan suaminya juga masih bekerja.

Menurut Dupan, Selama suami yang merupakan imam keluarga masih mampu menafkahi keluarganya, adalah hal yang mudharat jika istri ikutan untuk bekerja juga. Istri seharusnya tetap berada dalam rumah menjaga rumah, anak-anaknya dan harta suaminya.

Seandainya istri bekerja, anak-anaknya siapa yang mengasuh dan mengawasi?”, “Jika istri bekerja, apakah mampu menjaga kewajiban istri sementara rasa lelah pasti akan menghampiri disetiap pulang kerja?” Ujar Dupan di perbincangan group WhatsApp.

Baca juga  Iniloh alasan mengapa jadi wanita itu tidak mudah

Wanita Yang Sudah Menikah Sebaiknya Bekerja Atau Dirumah?

Hendaklah kalian (para istri) tetap di rumah kalian” (QS. Al-Ahzab:33).

Idealnya sebuah keluarga itu terdapat kepala keluarga yang mampu menanggung urusan diluar rumah seperti mencari nafkah dan seorang istri yang bertanggung jawab penuh tentang urusan dalam rumah.

Jika keduanya menerapkan dan memahami aturan tanggung jawab tugas masing-masing, niscaya dalam keluarga tersebut akan terbangun sebuah ketentraman lahir dan batin dalam keluarga.

Tapi pada kenyataanya, kehidupan tidak selalu seperti itu. Terkadang ada kepala keluarga yang sudah bekerja, tapi penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan keluarganya. Dan untuk mengatasi hal tersebut, pada akhirnya istri ikut bekerja untuk membantu perekonomian keluarga.

Bolehkah Wanita Yang Sudah Menikah Bekerja?


Tentu saja boleh. Dalam islam pun tidak melarang wanita yang sudah bersuami untuk tetap bekerja, tapi tetap dengan beberapa syarat.

Dupan juga mengatakan hal demikian, bahwa sah-sah saja wanita bekerja selama suami mengizinkan istrinya untuk bekerja. Tapi akan ada banyak mudharatnya ketika istri memutuskan untuk bekerja, seperti berkurangnya keberkahan rezeki dalam keluarga .

Dupan menjelaskan tentang beberapa hal perhitungan rezeki, seperti berikut:
Suami bekerja + istri dirumah = Rezeki 100%
Suami bekerja + Istri bekerja = Rezeki 100%
Dari perhitungan tersebut, sebenarnya istri bekerja atau tidak, rezeki dalam keluarga itu tetap 100%. Jadi kenapa harus bekerja kalau sama-sama pendapatan keluarga itu tetap, Lanjut Dupan.

Saya sih sependapat dengan Dupan, tapi tidak serta merta memakan mentah-mentah rumus yang di jelaskan oleh Dupan. Permasalahannya, kita tidak pernah tau bahwa rezeki keluarga 100% ini bisa didapatkan cukup dengan suami saja yang bekerja atau harus dengan istri yang bekerja?

Menurut saya, bukan masalah istri bekerja atau tidak. Logikanya jika suami bekerja sendiri maka gajinya sekian juta, tapi jika istri ikut bekerja maka penghasilan keluarga akan bertambah juga kan.

Tapi banyak juga yang mengatakan bahwa penghasilan suami bekerja sendiri ataupun dibantu dengan penghasilan istri bekerja, pemenuhan kebutuhan sehari-hari tetap saja sama. Sebenarnya bukan tetap sama, tapi kebutuhan hidupnya yang meningkat.

Seperti disaat istri tidak bekerja, dia akan membeli bedak yang seharaga 50 ribu. Tapi disaat istri bekerja, karena merasa penghasilannya sendiri, dia memutuskan untuk membeli bedak seharga 300 ribu.

Nah jelas kan!
Seberapapun besarnya gaji suami bekerja sendiri, maupun gaji suami bekerja bersama istri, rezeki yang didapat tetap 100% rezeki satu keluarga. Cukup atau tidaknya dalam memenuhi kebutuhan keluarga, tergantung bagaimana memanagenya
Dewi Nadzifah
Perihal Diri

Mending Mana, Wanita Tetap Bekerja Atau Mengurus Keluarga?

Kalau menurut saya, Wanita atau istri tetap wajib mengurusi keluarganya, terlepas dia bekerja maupun tidak. Karena mengurus keluarga adalah bagian dari kewajiban seorang istri, maka lebih baik jika urusan cari nafkah dipercayakan kepada suaminya.

Alasan seorang wanita yang sudah menikah dan mempunyai anak tetap bekerja bermacam-macam. Salah satunya adalah perihal ekonomi.

Dalam beberapa hal, wanita bekerja juga sangat dianjurkan, jika perekonomian keluarga bisa stabil dengan adanya istri bekerja. Karena salah satu keharmonisan keluarga itu dipengaruhi oleh perekonomian yang stabil.

Misalnya gini, seorang suami yang bekerja sendiri dengan menanggung beban kehidupan keluarga sehari-hari, juga untuk membayar tagihan rumah maupun kendaraan bermotor. Karena adanya hal tersebut, membuat perekonomian keluarga menjadi besar pasak dari pada tiang.

Situasi seperti ini biasanya menyebabkan stress berlebih yang dapat memicu kemarahan saat ada beberapa persoalan kecil dalam keluarga. Tentu keharmonisan keluarga akan sulit dicapai dengan keadaan seperti itu.

Alasan lainnya muslimah yang sudah menikah tetap bekerja adalah untuk mengatasi rasa bosan dengan rutinitas mengurusi pekerjaan rumah tangga. Atau dengan bekerja, status dan pergaulan seorang muslimah akan lebih baik dari pada menjadi ibu rumah tangga saja.

Menurut saya, selama muslimah tetap bisa bekerja dan memanage pekerjaan rumah tangga dengan baik tanpa mengurangi hak anak dan suami, itu sah-sah saja. Tapi itu tidak segampang kelihatannya.

Baca juga  Wanita harus tegas, antara halalkan atau tinggalkan

Hal-hal Yang Perlu Di Perhatikan Jika Istri Ingin Bekerja

   #1. Izin suami

Hal pertama yang perlu diperhatikan istri saat ingin bekerja adalah izin dari suami. Apapun keputusan suami adalah titah bagi kita sebagai seorang istri. Karena ridho suami sejalan dengan Ridho ilahi.

   #2. Pekerjaan Yang Baik Untuk Wanita

Jika memungkinkan, pilihlah pekerjaan yang sesuai tabi’at seorang wanita. Pekerjaan itu seperti menjadi seorang guru, perawat, dokter dan lain sebagainya. Intinya bukan pekerjaan yang mengunakan otot seperti tukang batu dan sebaginya.

   #3. Pekerjaan Yang Tidak Memberatkan Kewajiban Istri

Pekerjaan tersebut tidak menganggu kewajiban utama dalam mengurusi pekerjaan rumah. Memang terlihat mustahil untuk melakukannya, terkecuali pekerjaan tersebut dilakukan dirumah. Tapi bagi yang bekerja di luar rumah, tentu pekerjaan rumah seperti mengurusi anak tetap akan terbengkalai disaat menjalankan pekerjaan tersebut.

Dalam hal ini, peran suami harus bisa mendukung minimal dalam membackup tugas istri di rumah saat ditinggal kerja. Karena keharmonisan keluarga bukan perihal kekakuan dalam pembagian tugas dan kewajiban seorang istri ataupun suami, tapi keharmonisan keluarga tercipta disaat keduanya saling memahami dan mengerti tanggung jawab masing-masing serta saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam pelaksanaanya.

   #4. Tetap Berpegang Teguh Pada Akidah

“Katakanlah (wahai Muhammad), bekerjalah kalian! maka Alloh, Rasul-Nya, dan para mukminin akan melihat pekerjaanmu“ (QS. At-Taubah:105)

Dalam perintah Allah tersebut diserukan bagi seluruh ummat-Nya tanpa terkecuali, tidak menutupi bagi seorang wanita yang bekerja.

Tapi bekerja yang bagaimana?

Dengan menyandang status menjadi seorang istri, disaat bekerja diluar rumah hendaknya tetap berpegang pada akidah, misalnya tetap menjaga pandangannya, tidak berkata lembut kepada pria yang bukan mahromnya, memakai pakaian yang baik sesuai syariat agama dan sebagainya.

Pandangan Islam Tentang Wanita Yang Sudah Menikah Bekerja


Islam sebagai agama yang sempurna dan komplit memberikan petunjuk bagaimana sebaiknya muslimah bekerja. Tidak hanya batasan mengenai pekerjaan apa yang baik, apa yang harus dihindari, dan bagaimana kewajiban muslimah yang sudah menikah bekerja

Tugas utama yang harus dijalankan oleh seorang muslimah yang telah menjadi istri dan ibu adalah mengurus rumah tangga, mendidik anak, menjaga harta suami, menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah yang tak kalah beratnya dari pekerjaan suami untuk memenuhi nafkah.

Seorang istri tidak memiliki kewajiban untuk turut mencari nafkah, karena kewajiban ini telah dibebankan kepada suami. Maka ditakutkan jika istri bekerja diluar rumah, hak-hak suami dan anak menjadi terbengkalai, dan karena alasan ini ditakutkan keberkahan dalam keluarga menjadi berkurang.

Baca juga   Aku tak mau menjadi bunga yang indah tapi murahan

Kadang terbesit dalam pikiran, mengapa Islam terkesan sangat mengekang seorang wanita?

Sebenarnya bukan mengekang, hanya saja, itu sudah aturan yang dibuat oleh Allah Subhanahu wata’ala agar wanita bisa menjadi muslimah yang baik. Kebebasan seperti wanita barat dalam berkarir justru bisa merusak tatanan dalam masyarakat.

Coba tenggok secuil pengakuan orang barat sendiri tentang sebab rusaknya tatanan masyarakat di ranah barat sana.

“Andai para pembaca mau melihat keadaan wanita di zaman yunani kuno, tentu anda akan dapati mereka dalam kondisi yang dipaksakan dan menyelisihi fitrahnya, dan tentunya anda akan sepakat denganku, tentang wajibnya menyibukkan wanita dengan tugas-tugas dalam rumah, dibarengi dengan perbaikan gizi dan pakaiannya, dan wajibnya melarang mereka untuk campur dengan laki-laki lain” By. Lord Byron 
"Sungguh aturan yang menyuruh wanita untuk berkarir di tempat-tempat kerja, meski banyak menghasilkan kekayaan untuk negara, tapi akhirnya justru menghancurkan kehidupan rumah tangga, karena hal itu merusak tatanan rumah tangga, merobohkan sendi-sendi keluarga, dan merangsek hubungan sosial kemasyarakatan, karena hal itu jelas akan menjauhkan istri dari suaminya, dan menjauhkan anak-anaknya dari kerabatnya, hingga pada keadaan tertentu tidak ada hasilnya kecuali merendahkan moral wanita, karena tugas hakiki wanita adalah mengurus tugas rumah tangganya…" By. Samuel Smills 
 “Sesungguhnya sebab terjadinya krisis rumah tangga di Amerika, dan rahasia dari banyak kejahatan di masyarakat, adalah karena istri meninggalkan rumahnya untuk meningkatkan penghasilan keluarga, hingga meningkatlah penghasilan, tapi di sisi lain tingkat akhlak malah menurun… Sungguh pengalaman membuktikan bahwa kembalinya wanita ke lingkungan (keluarga)-nya adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan generasi baru dari kemerosotan yang mereka alami sekarang ini”. (lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, jilid 1, hal: 425-426) By. Dr. Iidaylin 

Bagaimana mereka yang obyektif mengakui imbas dari buruknya wanita yang bekerja dan berkarir di tanah barat.

Islam tidak melarang seorang wanita untuk bekerja, namun ada beberapa kekhawatiran seiring dengan semakin banyaknya wanita yang memutuskan untuk tetap bekerja dan mengejar karir di luar rumah.

Beberapa dampak negatif yang timbul salah satunya keharmonisan keluarga yang terpecah akibat suami dan istri sibuk bekerja sementara anak-anaknya menjadi terlantar. Istri menjadi terlalu lelah karena konsentrasi yang terbagi antara beban pekerjaan di luar rumah dan juga dirumah. Takutnya hak suami terhadap istri terabaikan karena alasan lelah dan semacamnya.

Ladang pahala istri adalah dengan berbakti kepada suami, jika memang membantu suami mencari nafkah demi mencukupi kebutuhan keluarga adalah bakti seorang istri terhadap suami, dengan tetap berpegang teguh kepada akidah, maka sah-sah saja istri bekerja diluar rumah.

Ketika seorang istri bekerja, ia akan memiliki penghasilan sendiri dan penghasilan yang dimiliki oleh istri adalah hak sepenuhnya istri untuk menggunakannya, karena kewajiban untuk memberikan nafkah hanya ada pada suami. Namun, istri yang memberikan penghasilannya untuk keperluan keluarga dan rumah tangga terhitung sebagai sedekah. Dan jika ada kesepakatan antara suami istri untuk turut bersama memenuhi kebutuhan keluarga di atas prinsip kasih sayang adalah solusi yang terbaik.

Baca juga  Islam memuliakan wanita sebagai perhiasan terindah di dunia


Kesimpulan Ala Dewi Nadzifah Perihal Istri Yang Bekerja

Semua itu tergantung bagaimana niat kita diawal disaat memutuskan untuk bekerja, jika kita meluruskan niat untuk membantu suami mencari nafkah guna meningkatkan taraf hidup yang lebih baik dalam membangun mahligai rumah tangga. Hal demikian juga merupakan pahala yang besar bagi kita.

Jika pekerjaan yang kita jalankan memberatkan kewajiban kita sebagai ibu rumah tangga, maka tinggalkan saja pekerjaan tersebut dan carilah lagi yang lebih baik tanpa merusak pemenuhan kewajiban kita kepada keluarga. Karena pada dasarnya istri bekerja itu MEMBANTU suami, bukan menjadi tulang punggung keluarga (Kecuali Suami sedang sakit dan tidak bisa bekerja).

Jadi bekerjalah setulus hati ukhti ^_^
Segala tindakan yang kita lakukan (bekerja) selama itu baik, maka kerjakanlah dengan setulus hati. Islam tidak pernah memberatkan dan mengekang pemeluknya, Islam memberi tuntunan dan tata cara mengerjakan dengan sabaik-baiknya. Baik buruknya tindakan yang kita lakukan bukan dilihat dari sudut pandang manusia, tapi diukur dengan bagaimana ketakwaan kita kepada Allah Subahanahu Wata’ala
Dewi Nadzifah
Perihal Diri


Pandaan 16 Desember 2017
Dewi’Na Irawan


Sumber Referensi:
https://konsultasisyariah.com/520-bolehkah-wanita-bekerja.html
https://eramuslim.com/akhwat/muslimah/untuk-siapa-wanita-bekerja.htm

Problematika Wanita Yang Sudah Menikah, Antara Tetap Bekerja Atau Mengurus Keluarga
  1. menarik atikelnya,
    bagaimana kalau pun suami bekerja namun hasilnya belum mencukupi kebutuhan pokok, apakah tetap saja lebih baik istri tidak bekerja?
    thank

    ReplyDelete
  2. setuju sama mba dewi. semua tergantung niat awalnya seperti apa. dan terutama atas ijin suaminya.

    ReplyDelete