Doa Penyembuh Sakit Di Era Digital

Di zaman teknologi saat ini, rasanya jarang sekali anak muda seumuran saya tidak memiliki akun sosial media. Hanya sebagian kecil dari mereka yang enggan untuk bersosial melalui dunia maya. Alasannya mungkin karena menganggap social media lebih banyak mudhorotnya, dari pada manfaatnya. Dan alasan lainnya karena memang tidak menyukai hal semacam itu.

Doa Penyembuh Sakit Di Era Digital
Source image by pexels.com
Saya sendiri pertama kali mempunyai akun media sosial sejak SMA, sewaktu itu masih zamannya friendster. Saya juga sudah mempunyai facebook sejak tahun 2009 kalau tidak salah. Sempat saya vakum tidak pernah membuka account facebook sama sekali, baru satu tahun belakangan saya kembali aktif lagi setelah rutin menulis di blog.

Banyak alasan kenapa saya vakum beberapa tahun dari social media, Selain merasa bosan, juga saya merasa tidak ada manfaatnya juga saya melakukan aktivitas di sosial media ini. Tapi kali ini berbeda, Saya ingin kembali aktif di social media sebagai sarana promosi’in blog.

Sebenarnya banyak juga manfaat dari sosial media ini, selepas dari media promosi bisnis maupun share artikel, media sosial ini juga bisa menemukan teman lama yang sudah lama menghilang tidak ada kabar.

Baca juga  Berbagai Share Yang Sering Dijumpai di Group Media Social

Meskipun tidak tahu kontak dan alamat dia tinggal, tapi disaat ada salah satu teman yang menyarankan seseorang yang mungkin kita kenal di account media sosial, dan kebetulan juga orang tersebut adalah teman lama kita sewaktu masih di bangku sekolah dasar. Rasanya senang juga bisa bertemu lewat dunia maya seperti ini.

Selain media sosial bisa mendekatkan yang jauh menjadi dekat dan menemukan seseorang yang pernah hilang di masa lalu, kini bertemu di dunia maya di masa sekarang. Tapi media sosial juga bisa menjauhkan yang dekat.

Seperti disaat kumpul disebuah acara, perbincangan yang seharusnya lebih menyenangkan dengan bertatap muka, malah justru kebanyakan orang tertunduk dan terfokus dengan gadget yang di pegangnya. Seakan mengabaikan orang yang sekarang sedang berdekatan dan lebih mengurusi orang yang jauh disana dibalik dunia maya.

Ironis bukan?

Dan tadi pagi saya juga menjumpai beberapa orang yang sedang dilanda musibah, justru lebih mementingkan media sosialnya. Seperti upload foto keluarga yang sedang sakit atau memasang sebuah status (baca: doa) agar diberi kemudahan segala urusan di media sosial.

Caption dari salah satu ststus di Facebook
Dengan segala kesusahan salah satu anggota keluarga yang mengalami sakit dan harus dirawat di sebuah rumah sakit, justru perhatiannya terfokus dengan minta doa dari penghuni dunia maya di sosial media.

Disaat melakukan hal besar seperti ujian sekolah maupun interview kesebuah perusahaan, justru meminta dan berdoa di media sosial itu terlihat lebih penting dari pada beribadah dan berdoa yang sebenar-benarnya beribadah dan berdoa.

Baca juga  Wanita harus tegas antara halalkan atau tinggalkan

Mungkin media sosial adalah Obat penyembuh yang mujarab di era digital ini. Dengan berkeluh kesah tentang masalah yang dihadapi, bisa terselesaikan dengan update status dan membalas komentar yang masuk.

Juga media sosial adalah tempat penampung doa yang baik di era digital ini. Berharap dengan banyaknya ucapan “Aamiin” di kolom komentar, bisa sedikit membantu meringankan beban hidup yang sedang dijalani.

Seakan-akan Media Sosial adalah Tuhan diera digital yang bisa menyelesaikan segala permasalahan hidup. Tempat berkeluh kesah dan berdoa agar kehidupan menjadi lebih baik hanya dengan menuliskan beberapa kata di kolom status.

Saya sempat kesal sendiri dengan fenomoena seperti itu di media sosial. Saya jadi bertanya-tanya, apakah saya sudah ketinggalan zaman, ataukah memang dunia ini sudah semakin EDAN.

Kita memang hidup di era digital sekarang. Era dimana teknologi bisa mempermudah pekerjaan manusia sehari-hari. Tapi apakah mungkin, teknologi tersebut bisa mengantikan TUHAN, padahal teknologi itu juga buatan manusia.

Coba tengok Google. Kita bisa menemukan apa saja di mesin pencari itu dengan mengetikkan apapun yang ingin kita cari. Tapi tetap saja semua informasi didalamnya merupakan buatan manusia sendiri. Hanya sebatas pengetahuan dan ilmu manusia dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Bahkan masih belum bisa teruji kebenarannya.

Dan bagaimana mungkin berdoa dan berkeluh kesah di media sosial bisa meringankan beban yang kalian hadapi.

Mungkin alasannya adalah untuk mendapatkan doa dari orang lain juga, semakin banyak ucapan Aamiin kepada status kita, maka semakin cepat pula beban yang dihadapi bisa terselesaikan dengan sendirinya.

Justru kalau menurut saya pribadi, itu adalah hal sedikit konyol.

Kenapa harus meminta doa dari orang lain, sementara kita juga punya Tuhan yang Maha Pendengar segala Doa yang kita panjatkan. Kenapa kita tidak fokus kepada Dzat yang memberi kita Cobaan dan Ujian, kita meminta dengan setulus hati agar harapan dan keinginan kita dikabulkan.

Bukankah segala hal itu atas Ridho-Nya, kenapa kita harus susah payah mencari ridho orang lain yang tidak sepenuhnya kita kenal di dunia maya.

Baca juga   Ternyata dalam islam memperbolehkan pacran, Asalkan...?

Jadi renungkan sekali lagi, kepada siapa hendaknya kita berdoa dan berkeluh kesah tentang kehidupan sehari-hari. Semoga bermanfaat

Pandaan 13 Desember 2017
Dewi’Na Irawan

Doa Penyembuh Sakit Di Era Digital
  1. Suka dengan tulisannya. Saat sakit memang minta doa bukan di medsos ya mba, lebih baik mendekatkan diri kepada Tuhan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, kebanyakan fenomena sekarang gitu mbak...
      medsos sebagai media keluh kesah dan berdoa

      Delete
  2. Setuju dengan pembahasan di atas...
    Ironis memang, disaat sakit bukan berdoa sama Tuhan malah update status di media sosial...

    ReplyDelete