Larangan Merayakan Hari Valentine Bagi Umat Islam

Valentin Day's. Sebentar lagi tanggal 14 Februari, Banyak orang Indonesia di zaman sekarang mewarnai hari tersebut dengan kebudayaan yang di “import” dari budaya asing, yang katanya hari tersebut sangat sakral dengan bertabur kasih sayang. Pada hari tersebut dirayakan sebagai suatu perwujudan cinta kasih seseorang. Perwujudan yang bukan hanya untuk sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta. Namun, hari tersebut memiliki makna yang lebih luas lagi. Di antaranya kasih sayang antara sesama, pasangan suami-istri, orang tua-anak, kakak-adik dan lainnya. Sehingga valentine’s day biasa disebut pula dengan hari kasih sayang.
Sejarah Valentin days
Say No to Valentine Days
Di tanggal 14 Februari seakan menjadi hari nasional bagi sebagian orang terutama pemuda-pemudi untuk menyatakan dan mengungkapkan isi hati mereka. Banyak pemuda-pemudi berbondong-bondong menyiapkan kado untuk kekasihnya, dari cokelat, bunga atau benda lainnya yang pantas untuk mengungkapkan isi hati.

Terus, Sebagai umat Islam, Apakah perlu kita mengikuti Ajaran yang diluar Syariat Islam seperti ini?

Sebelum kita menyikapi hal ini, sebaiknya kita harus tau dulu seperti apa sejarah ditetapkannya hari Valentine ini.

Sejarah Hari Valentine

Ada beberapa versi sejarah tentang valentine day itu sendiri. Dikutip dari The World Book Encyclopedia (1998) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentines Day:
Some trace it to an ancient Roman festival called Lupercalia. Other experts connect the event with one or more saints of the early Christian church. Still others link it with an old English belief that birds choose their mates on February 14. Valentine’s Day probably came from a combination of all three of those sources–plus the belief that spring is a time for lovers?
Menurut enksiklopedia tersebut, beberapa sumber sejarah menyebutkan perayaan valentine day berasal dari perayaan Lupercalia yang merupakan rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (Queen of Feverish Love), Juno Februata.

Pada hari itu, para pemuda mengundi nama nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Constantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Glasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari.

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian, tidak pernah ada penjelasan siapa St. Valentine itu, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.

Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada yang telah menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga ia pun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998).

Alasan Mengapa Merayakan Hari Valentin Itu Tidak Diperbolehkan Bagi Umat Islam

Nah dari mempelajari sejarah tentang Valentin, kita bisa memastikan bahwa Merayakan hari valentin memang tidak sepatutnya untuk ditiru oleh umat muslim. Selain budaya hari valentin ini di Adopsi dari budaya orang romawi penyembah berhala yang mengadakan acara penyucian yang disebut Lupercalia.

Begitu juga dengan sejarah Katolik yang menyebutkan bahwa tanggal 14 Februari merupakan hari kematian St. Valentin yang dihukum oleh Kaisar Claudius II. Kedua sejarah tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan hari kasih sayang yang sebenarnya. Yang ada hanya ajaran paganisme penyembah berhala dan penghormatan kepada seorang Pastor.

Sebenarnya, Hari Valentine tidak akan menjadi semeriah dan segemerlap seperti sekarang jika tanpa adanya campur-tangan para PEBISNIS. Sudah menjadi hukum kapitalisme, bahwa para pebisnis senantiasa mencari-cari celah sekecil apa pun guna dijadikan obyek bisnis yang bisa mendatangkan keuntungan material bagi dirinya. Celah ini termasuk perayaan-perayaan keagamaan, yang oleh mereka dijadikan sebagai ‘perayaan bisnis’.

Diskon hari kasih sayang "Valentine day"
Diskon Hari Kasih Sayang
Seperti pergantian Tahun baru masehi, berapa banyak keuntungan yang diperoleh para pembisnis yang menjual kembang api dan pernak-pernik tahun baru lainnya. Tahun baru bukan hari raya suatu agama, tapi sudah menjadi fardu ain bagi kebanyakan orang terutama yang beragama islam untuk ikut-ikutan merayakan hari besar umat manusia sedunia ini.

Sama halnya dengan hari Valentin, memang hari valentin tidak ditetapkan sebagai hari libur nasional, karena memang bukan suatu hari yang perlu dirayakan sebenarnya. Tapi, budaya valentin ini sudah mendoktrin pikiran kebanyakan orang.

Salah satu faktor yang sangat bisa mempengaruhi adalah tipu daya pebisnis. Dengan mengadakan diskon besar-besaran saat hari valentin, tentu saja hari valentin akan lebih semarak dan gemerlap lagi. Maksud hati ingin membahagiakan orang yang kita cinta, justru kita terjebak dalam ajaran yang menyesatkan. Naudzubillah.
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Nah loh, itu dalil cukup mencengangkan bagi yang sudah terlanjur mengikuti tren Valentin day’s. Kita sebagai umat muslim seharusnya kita tidak mengikuti budaya-budaya agama lain, Karena dalam Agama Islam memang telah melarang kita meniru-niru orang kafir (baca: tasyabbuh). Telah jelas pembahasan diawal bahwa hari Valentine adalah perayaan paganisme, lalu diadopsi menjadi ritual agama Nashrani. Merayakannya berarti telah meniru-niru mereka.

So, Jika kamu Muslim, masih inginkah kamu ikut-ikutan merayakan Hari Valentin Day’s?

Renungkanlah... ^_^


Pandaan. 10.02.2017
Dewi’Na Irawan

Larangan Merayakan Hari Valentine Bagi Umat Islam
  1. aku juga ga valentinan mba..
    tiap hari berkasih sayang.. hahaha ..
    aseeek.. XD

    hai-ariani.com

    ReplyDelete