Menyikapi Mitos Tentang Hal-hal Yang Tidak Diperbolehkan Saat Hamil

Kita hidup di negara dengan tingkat kepercayaan akan hal-hal ghaib yang begitu tinggi, adat dan budaya nenek moyang yang masih melekat di generasi X (Generasi X lahir tahun 1965-1980) dan Y (Generasi Y lahir tahun 1981-1994). Seperti di daerah tempat saya tinggal.

Menyikapi Mitos Tentang Hal-hal Yang Tidak Diperbolehkan Saat Hamil

Jawa timur mempunyai adat dan budaya yang berasal dari kerajaan besar mojopahit, walaupun zaman sekarang sudah banyak yang sudah beragama Islam maupun lainnya, tapi adat kejawen (adat jawa kuno) masih melekat di generasi 50-an. Jadi banyak mitos-mitos tentang tempat maupun hari special yang masih disakralkan.

Seperti saat pernikahan saya dulu, banyak aturan-aturan yang diberlakukan tentang tanggal pernikahan. Harus ada pencocokan antara tanggal lahir suami dan tanggal lahir saya, entah itu weton, pasaran dan neptu. Saya sih tidak begitu mengerti tentang hal seperti itu, yang penting pernikahan saya lancar dan mendapat restu dari para orang tua.

Begitu juga tentang mitos hal-hal yang dilarang dilakukan saat sedang hamil. Keluarga saya banyak yang masih mempercayai mitos kejawen tersebut, saya dan suami sih, bukannya tidak percaya, hanya ingin menghargai perkataan orang tua saja.

Sebenarnya banyak sekali mitos tentang hal yang dilarang saat sedang hamil, dan tiap daerah pastinya punya mitos tersendiri sesuai dengan adat tiap daerah. Berikut saya tuliskan beberapa hal yang pernah dilarang kepada saya saat saya sedang hamil.

1. Larangan Berdiri di Tengah Pintu

Bukan hanya orang hamil saja yang dilarang berdiri di tengah pintu, sewaktu saya kecil dulu, sering sekali saya dimarahi ibu saya perihal suka makan dan duduk di tengah pintu menuju dapur. Alasannya entar jodohnya hanya hanya berada di tengah, tak mau maju untuk melamar dan tak mau menjauh, mungkin kalau istilah anak zaman sekarang itu tentang Hubungan tanpa status.

Begitu juga saat hamil, keluarga besar saya memarahi suami saya ketika dia berdiri di tengah pintu sambil menunggu antrian mandi. Kalau itu saya dan suami lagi berkunjung kerumah kelahiran saya di desa. Alasannya, entar anaknya waktu lahiran, tidak mau keluar dan berada di tengah-tengah.

Suami saya ini typikal orang yang jarang percaya mitos seperti itu, tapi tetap saja dia menghargai perkataan para orang tua.

2. Dilarang Melakukan Tali Menali saat Hamil

Hobby saya dulu merajut, semacam seni mengabungkan benang rajut menjadi sesuatu seperti bunga di hiasan bross, syal, topi dan sebagainya.

Saat saya hamil, pernah saya mencoba untuk merajut sesuatu, niatnya sih mencari kesibukan, dari pada diam saja dirumah. Tapi saat membawa rajutan ke rumah keluarga saya di desa, saya dimarahi lagi karena melakukan hal seperti itu.

Katanya, orang hamil tidak boleh melakukan tali menali seperti itu, karena di takutkan saat lahiran, bayinya tersangkut tali pusarnya sendiri.

Memang tidak masuk akal, tapi dari pada debat dengan orang tua, saya iyakan saja. Lagian mau mitos itu benar atau tidak, waktu itu adalah kehamilan pertama, kelahiran dengan anak dengan selamat adalah prioritas kami yang masih belum pengalaman tentang menjalani kehidupan rumah tangga.

3. Menaruh Handuk di Leher dan Melilitkannya

Ini kebiasaan suami kalau mau mandi, bukan sebuah kebiasaan yang buruk juga sih hal seperti itu. Tapi bagi generasi X terutama seorang yang melilitkan handuk ke lehernya itu dalam keadaan hamil atau istrinya yang hamil, itu akan menjadi masalah besar bagi jabang bayi di kandungannya.

Katanya jika melilitkan handuk ke leher, disaat lahiran bayinya terlilit tali pusar. Seperti yang sebelumnya memang tidak ada fakta yang mendasari mitos tersebut, justru lebih terlihat seperti menakut-nakuti.

Kalau saya sih nurut saja, selepas itu adalah perintah orang tua juga semoga itu doa agar anak yang saya kadung juga selamat saat proses lahiran dengan normal.

4. Terjadi Gerhana Saat Sedang Hamil

Disaat sedang hamil dan terjadi gerhana matahari atau bulan, saya dulu di suruh mengigit "kereweng" atau dalam bahasa Indonesia sebuah pecahan dari kendi atau gentong yang terbuat dari tanah liat.

Entah saya lupa kenapa saya disuruh melakukan hal tersebut, seingat saya agar bayinya tidak "sawanen". Sawanen itu semacam efek dari mahluk halus yang mengganggu entah janin yang di kandung maupun berefek kepada induk dari janin tersebut.

Sawanen ini sama seperti kalau ada orang meninggal satu desa, adat di Jawa ketika ada orang yang meninggal, anak yang masih kecil diberi ramuan "sawan" yang terbuat dari daun Dringu bawang, kunir dan bawang putih. Mungkin tiap daerah beda cara membuat ramuannya, yang jelas tujuannya tetap sama, yaitu untuk menghilangkan sawanen atau pengaruh buruk dari hal ghaib.

***

Sebenarnya masih banyak mitos yang ada di tanah Jawa ini, terutama mitos yang tidak di bolehkan saat sedang hamil. Percaya atau tidak, disaat salah satu keluarga ada yang mempercayainya disitulah ada hal ghaib yang sanggup mengubah menjadi kenyataan. Karena keparcayaan dalam tingkat yakin, bisa mewujudkan hak yang tak masuk akal menjadi mungkin.

Selepas dari adat dan mitos tersebut, hak Anda untuk percaya atau tidak, bagi saya dan suami, semua hal entah itu mitos atau tidak, terjadi atau tidak, hal tersebut merupakan kehendak-Nya dan semua akan kembali kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kita seharusnya berserah diri atas Takdir-Nya.

Pandaan 22 Desember 2016
Dewi'Na Irawan

Menyikapi Mitos Tentang Hal-hal Yang Tidak Diperbolehkan Saat Hamil