Friday, 3 November 2017

Keberagaman itu Indah Jika Kita Bijak Menyikapinya

Keberagaman - Bukan suatu rahasia bahwa negeri Indonesia tercinta adalah negeri yang kaya akan keberagaman. Indonesia yang terdiri dari banyak suku bangsa yang tersebar luas dari sabang sampai merauke, dengan berbagai ragam budaya, adat, dan tradisi yang berbeda pula. Kita patut bersyukur meskipun dengan adanya berbagai keberagaman ras, budaya, suku dan agama yang ada di Indonesia, tak menjadikan negeri ini mudah terpecah belah.

Dalam sebuah pidato pada 1 Juni 1945, presiden Soekarno mengatakan, "Dasar negara, yakni dasar untuk di atasnya didirikan Indonesia Merdeka, haruslah kokoh kuat sehingga tak mudah digoyahkan. Bahwa dasar itu hendaknya jiwa, pikiran-pikiran yang sedalam-dalamnya, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Dasar negara Indonesia hendaknya mencerminkan kepribadian Indonesia dengan sifat-sifat yang mutlak ke-Indonesiaanya dan sekalian itu dapat pula mempersatukan seluruh bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagi suku, aliran, dan golongan penduduk"

Keberagaman Bisa Menjadi Sebuah Fitnah Pemicu Konflik


Keberagaman yang diberikan Tuhan kepada kita ini, tentu harus tetap dijaga dan dilestarikan agar terus tercipta perdamaian. Tapi pada kenyataanya, keberagaman bisa menjadi fitnah dan faktor utama yang menjadikan sebuah konflik dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti contoh konflik perseteruan NU-Muhammadiyah, konflik Myanmar atau tindakan tindakan anarkis berupa terorisme yang sedang melanda di negara kita ini. Masalah utamanya adalah kedangkalan intelektual yang menjadi watak mendasar terjadinya konflik tersebut. Dalam konflik NU dan Muhammadiyah, perbedaan yang seharusnya tak membuat satu sama lain saling memperdebatkan siapa yang benar, tapi karena kompleksitas proses hasut menghasut itulah yang membesarkan sebuah konflik.

Di era modernisasi, media sosial menjadi media utama dalam membesarkan sebuah berita HOAX atau hasutan yang bisa memecah sebuah konflik. Bahkan propoganda seperti itu akan menyebar begitu cepat dengan banyaknya warganet yang asal share tanpa membaca dengan seksama dan mencari referensi yang membenarkan berita tersebut terlebih dahulu.

Bahkan seperti yang dilansir media independen.id dengan judul “Mewaspadai Pesan Radikal dalam Buku Sekolah” menuturkan bahwa selama ini dunia pendidikan sudah banyak beredar buku yang memasukkan paham-paham radikal dalam bentuk buku-buku pelajaran. Pesan Radikal ini seperti hukum halalnya membunuh orang yang tak satu agama atau mengkafirkan pemeluk agama lain selain islam.

Menurut Kepala Sub Bidang Kontra Propaganda Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Sujatmiko, mengakui sejumlah kelompok Islam radikal sudah melakukan infiltrasi paham-pahamnya melalui dunia pendidikan, Hal ini sudah dirancang dengan sistematis.

Untuk pencegahannya BNPT membentuk kemitraan dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) yang bertugas mengawasi konten-konten radikal yang terdapat didalam buku pelajaran sekolah. Selain itu, BNPT juga membentuk DUTA DAMAI yang dilatih mahir dibidang teknologi untuk melakukan kontra propoganda terorisme di dunia maya.

Sebagai orang tua, kita harus terus mengawasi anak-anak kita untuk menangkal paham radikalisme dengan memastikan buku pelajaran yang anak-anak baca tidak mengandung unsur kebencian dan unsur kekerasan. Juga dengan terus aktiv mengajak diskusi tentang apapun yang anak temui dari buku maupun dari internet. Karena seperti yang kita ketahui bahwa terorisme di Indonesia kini semakin sering terjadi.

Apalagi seperti yang dilansir dalam artikel independen.id dengan judul “Peluang ISIS Membuka Jaringan Baru di Indonesia”. Dalam artikel tersebut menjelaskan bahwa setelah basis ISIS di Mosul dan Raqqa dibombardir Juli 2017 silam, puluhan sel-sel jaringan terorisme ini tidak sepenuhnya mati. Mereka mungkin akan membuat jaringan baru diseluruh dunia, termasuk juga di Indonesia. Sebab menurut Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) setidaknya terdapat 700 warga Indonesia yang pernah bergabung dengan ISIS dan berpotensi membuat jaringan baru setelah kembali dari Suriah.

Kelompok yang rentan disusupi paham radikalisme dan terorisme ini adalah mereka yang mengeksploitasi jargon-jargon ketidakadilan suatu wilayah, lalu menawarkan solusi untuk menganti sistem pemerintahan dengan sistem khilafah. Tentu kebanyakan orang yang tertarik karena di iming-imingi kehidupan Surga setelah kematian, dari pada kehidupan didunia yang penuh dengan keputus asaan dan ketidak adilan.

Yah, Sebuah hasutan kebencian dan fitnah dari keberagaman bisa memicu terjadinya konflik, terutama diera banjir bandang informasi dan keterbukaan informasi seperti hari ini yang bisa membuka kemungkinan penyebaran paham radikal dan terorisme.

Keberagaman Juga Bisa menjadi Rahmat Dan Aset Berharga Dalam Hubungan Bermasyarakat


Allah SWT Berfirman “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”(QS:Ar-Rum:22).

Dalam ayat tersebut menjelaskan tentang Bahasa dan Warna kulit. ‘Bahasa’ disini bukan hanya tentang kegiatan verbal atau lisan, bisa juga diartikan tentang pemikiran, pengetahuan dan keyakinan. Bahasa adalah simbol perkembangan peradaban yang dihasilkan manusia. Berbeda dengan ‘warna kulit’, ia dipahami sebagai bawaan lahiriah yang tidak boleh dihina, memang ditetapkan Allah secara langsung.

Maka sebutlah ragam perbedaan yang mungkin dimaksudkan sebagai ‘bahasa’ itu seperti: selera sehari-hari, minat ilmu, minat kebudayaan, keyakinan terhadap suatu paham dalam sebuah agama, keyakinan pada suatu agama tertentu, pilihan politik, pilihan gerakan sosial, dan lain sebagainya. Sedangkan perbedaan warna kulit itu fitrah yang nampak secara fisik.

Dalam ayat tersebut menjelaskan juga bahwa keberagaman itu merupakan tanda kekuasan-Nya dan hanya bagi orang yang mengetahuinya lah tanda tersebut bisa dipahami dengan benar. Seperti keberagaman pendapat tentang keyakinan atau visi dan misi politik yang dipilihnya. Semua pendapat mungkin saja benar, ataupun mungkin saja salah dan semua itu hanya Allah yang mengetahui antara yang salah dan benar.

Dalam surat Al-Hujurat Allah berfirman: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al-Hujurat:13).

Allah SWT menjadikan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa supaya kita bisa saling mengenal. Perbedaan sudah menjadi fitrah yang tak terelakkan, dan dengan segala perbedaan itu, kita diberi kesempatan untuk saling mengenal, saling memahami sudut pandang yang lainnya, menghargai setiap keyakinan dan meneladani ketakwaan pada Tuhannya.

Tuntunan menyikapi perbedaan atau keragaman dengan mengembalikan suatu urusan pada tuntunan Allah dan Rasul. Tentu saja dengan kemampuan kontekstualisasi dengan saling bertukar pemahaman dengan cara yang baik dan mengutamakan semangat persatuan dan perdamaian, bukan saling menjatuhkan dan merendahkan, Dengan demikian keragaman dan perbedaan akan menjadi lebih indah dan penuh Rahmatan lil alamin jika kita selalu bijak dalam menyikapi setiap perbedaan dan keragaman.



Referensi artikel:
http://independen.id/read/khusus/505/peluang-isis-membuka-jaringan-baru-di-indonesia/
http://independen.id/read/data/502/mewaspadai-pesan-radikal-dalam-buku-sekolah/

Perihal Diri
Perihal Diri Updated at: 04:40:00
Share this article :

2 komentar:

  1. benar sih. dengan adanya media sosial yang semakin memudahkan orang mengakses info, kadang malah jadi peluang menebar berita2 hoax. semoga masyarakat yang beragam ini makin bijak. Rasanya damai kalau dalam keberagaman bisa hidup berdampingan satu sama lain, tidak ada benci, kerusuhan dan lainnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, memang sangat disayangkan kalau kecanggihan yang seharusnya kita manfaatkan untuk hal yang baik, malah jadi digunakan untuk berita bohong apalagi terkadang dibuat untuk kejahatan

      Delete

 

Perihal Diri Copyright © 2016 Minima Template
Designed by BTDesigner · Powered by Blogger